Cocalero: Evo Morales Dan Perjuangan Politik Rakyat Bolivia

Dua bulan menjelang pemilu Bolivia, Alejandro Landes, jurnalis dan sutradara film Brazil, mengunjungi Bolivia. Waktu itu, Evo Morales sedang sibuk-sibuknya mengikuti kampanye pemilu Presiden. Alejandro memanfaatkan kesempatan itu. Ia mengikuti dan merekam semua aktivitas Evo.

Proyek Alejandro inilah yang melahirkan film “Cocalero” (2007). Film ini memotret kehidupan Evo Morales dari dekat dan lanskap politik Bolivia saat itu. Hampir semua aktivitas Evo Morales, seperti cukur rambut hingga bermain bola, juga terekam dalam film berdurasi 96 menit ini.

Film dimulai dengan Evo Morales dan sekretarisnya, Janette Ramirez, sedang memesan api—minuman panas tradisional Bolivia—di warung biasa. Kemudian, pada adegan selanjutnya, Evo dan kawan-kawan separtainya, MAS, sedang mempersiapkan rapat akbar di kota La Paz.

Evo maju ke pemilihan bersama Alvaro Garcia Linera, seorang intelektual kiri dan bekas gerilyawan marxis. Sedangkan lawannya, Jorge “Tuto” Quiroga, seorang insinyur jebolan universitas di AS, diusung oleh partai sayap kanan Kekuasaan Sosial Dan Demokratis (PODEMOS).

Satu hal yang disorot film ini adalah tanaman koka. Bagi masyarakat Indian, termasuk di Bolivia, koka sudah menjadi bagian dari tradisi budaya mereka. Daun koka bisa digunakan sebagai teh dan obat-obatan. Sebagian besar masyarakat asli Bolivia adalah petani koka—sering disebut “cocaleros”.

Tetapi, AS tidak suka dengan daun koka. Dengan menggunakan topeng “perang melawan narkoba”, AS terlibat langsung dalam pemusnahan kebun koka di Bolivia. Mereka juga menggunakan tentara lokal untuk membasmi tanaman koka.

Masyarakat asli melakukan perlawanan. Dan, karena itu, berdirilah serikat-serikat petani koka. Di sinilah Evo Morales muncul sebagai pemimpin perlawanan. Ia sekaligus menjadi simbol perlawanan masyarakat asli.

Evo sendiri adalah keturunan keluarga miskin Aymara. Namun, ia pindah ke sebuah tempat bernama Chapare dan memimpin perlawanan di sana. Sebagian besar penduduk di Bolivia adalah masyarakat asli, terutama Aymara dan Quechua. Sisanya adalah Mestizo (campuran amerika-Indian dan eropa) dan keturunan kulit putih.

Jauh sebelum kemunculan Evo, masyarakat asli Bolivia benar-benar dikeluarkan dari kehidupan formal negeri itu. 50-an tahun yang lalu, masyarakat asli Bolivia belum punya hak pilih dan tidak boleh menginjak trotoar di kota.

Mereka tidak diakui sebagai orang Bolivia. Bahkan, ketika negara Bolivia terbentuk pada tahun 1825, orang-orang asli tidak diikutkan. Karena itu, begitu Evo Morales maju sebagai kandidat Presiden, masyarakat asli Bolivia merasa terwakili.

Film ini mengungkap berbagai kesulitan yang dihadapi oleh Evo Morales selama pemilihan. Sebagian besar pendukung Evo Morales, yaitu masyarakat asli, tidak bisa membaca dan menulis. Tentu saja hal ini menghambat perolehan suara Evo dan MAS. Karena itu, aktivis-aktivis MAS rajin memberi pelatihan mencoblos kepada anggotanya.

Selain itu, Evo berhadapan dengan kampanye negatif media massa. Sebagian besar media massa Bolivia dikontrol segelintir tangan swasta. Mereka menebar teror: Evo sedang mempersiapkan insureksi; kalau Evo Morales menang, maka lembaga pemberi pinjaman (kreditor) akan menjauh; Evo adalah antek-antek Fidel Casto dan Chavez.

Tak hanya itu, seperti diperlihatkan di film ini, betapa Evo berhadapan dengan rasialisme warisan kolonial. Seperti, ketika Evo sedang berkunjung ke Santa Cruz, salah satu departemen/provinsi terbesar di Bolivia, yang sebagian besar penghuninya adalah keturunan Mestizo dan Eropa. Dalam film ini diperlihatkan segelintir kulit putih di Santa Cruz menyamakan masyarakat Indian dengan anjing.

Tetapi, Evo tidak gampang menyerah. Ia tetap mendatangi Santa Cruz dan bertemu dengan sekelompok pengusaha di sana. Selain itu, film ini juga memperlihatkan bagaimana kampanye MAS berhasil menyeret segelintir klas menengah berpedidikan. Salah satunya adalah Adriana Gil, seorang perempuan klas menengah berpendidikan dari Santa Cruz. Ia sering tampil menghalau serangan-serangan terhadap Evo Morales dan MAS.

Sosok lain yang muncul di film ini adalah Leonilda Zurita, seorang aktivis serikat petani koka perempuan. Ia juga menjadi kandidat senator dari partai MAS. Sebagian besar waktunya dihabiskan dalam kegiatan-kegiatan organisasi.

Ada yang menarik dari cerita Alejandro tentang proyek film ini. Di tengah proses pembuatan, tiba-tiba mereka dituding sebagai agen CIA. Proyek pembuatan film ini sempat terbengkalai. Beruntung, melalui Leonilda Zurita, Alejandro berhasil mendapatkan akses kembali ke Evo Morales.

Cocalero adalah film kedua tentang Evo Morales. Selain itu ada film berjudul “Evo Pueblo” (2007), karya sutradara Tonchy Antezana, yang bercerita tentang perjalanan hidup Evo Morales dari seorang penggembala menjadi Presiden.

Evo Morales memenangkan pemilu Presiden 2005. Ia unggul dengan perolehan suara sebesar 54%. Sedangkan lawannya, Jorge Tuto Quiroga, hanya mendapat suara 29%. Dengan demikian, Evo Morales membuat sejarah baru di Bolivia sebagai presiden pribumi pertama di negeri itu.

RUDI HARTONO

Cocalero (2007)
Sutradara: Alejandro Landes
Direktur photografi: Jorge Manrique Behrens
Editor : Kate Taverna, Mr. Manrique Behrens and Lorenzo Bombicci
Tahun Produksi: 2007
Durasi : 94 menit.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut