CIA Dan Penggulingan Mossadegh Di Iran

Mohammed Mossadegh, seorang nasionalis progressif, terpilih sebagai Perdana Menteri Iran tanggal 28 April 1951. Saat itu, bagi Mossadegh, problem pokok Iran adalah dominasi kepentingan asing.

Dua hari setelah berkuasa, bertepatan dengan Hari Buruh Sedunia, Mossadegh menasionalisasi perusahaan minyak Inggris, Anglo-Iranian Oil Company (AIOC/APOC)–sekarang British Petroleum. “Sudah bertahun-tahun kami bernegosiasi dengan perusahaan asing, tetapi tidak ada hasil. Dengan pendapatan minyak kami memenuhi kebutuhan anggaran kami dan memerangi kemiskinan, penyakit dan keterbelakangan rakyat kami,” ujar Mossadegh.

Nasionalisasi industri minyak itu didukung Partai Komunis Iran atau sering disebut Partai Tudeh. Sudah lama partai ini menyerukan nasionalisasi. Pada tahun 1946, Tudeh melancarkan pemogokan di ladang minyak Abadan. Saat itu Tudeh menjadi bagian pemerintahan. Menanggapi aksi itu, Inggris mengancam akan melakukan invasi militer. Tak hanya itu, Inggris juga mendorong Irak mengklaim provinsi Khuzestan di Iran sebagai wilayahnya. Kebetulan ladang minya Abadan itu berada di provinsi tersebut. Karena berbagai tekanan itu, pemerintah Iran menyerah. Menteri-menteri dari partai komunis dipecat. Tahun 1949, partai Tudeh dilarang.

Tindakan Mossadegh menasionalisasi perusahaan minyak Inggris itu mendapat dukungan rakyatnya. Ia disebut sebagai pahlawan saat itu. Seorang ulama Iran, Ayatollah Abol-Ghasem Kashani, mendukung nasionalisasi tersebut. Ia bilang, “siapa yang menentang nasionalisasi adalah musuh Iran.”

Belakangan Khasani bergeser ke oposisi. Ia mendukung aksi-aksi jalanan pendukung Shah Reza Pahlevi, yang dibelakangnya menyelinap kepentingan CIA/AS dan Inggris. Kashani, yang saat itu menjabat ketua Majlis, kurang setuju dengan kecenderungan sekuler pemerintahan Mossadegh. Apalagi, pihak imperialis saat itu sudah memulai propaganda mengenai kedekatan Mosssadegh dengan komunis dan blok Soviet.

Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) sendiri penting bagi barat. Perusahaan minyak ini sudah lama mengangkangi minyak Iran. Dengan demikian, ketika rezim nasionalis berani menyentuh AIOC, berarti itu preseden buruk dan bisa ditiru oleh rezim lain.

Inggris pun membawa kasus ini ke pengadilan internasional. Mereka menuding Iran telah melanggar kontrak. Mossadegh tak mau menyerah. Ia pergi ke Den Haag dan berpidato di sana. Ia menyingkap betapa rakusnya perusahaan minyak Inggris merampok minyak Iran. Tak hanya itu, ia membeberkan 200-an dokumen tentang betapa rakusnya AIOC itu. Akhirnya, keadilan berpihak ke Iran.

Namun demikian, barat tidak berhenti menggoyang Iran. Selain mendorong kekacauan politik, barat juga melakukan blokade ekonomi untuk menghancurkan ekonomi Iran. Dengan begitu, ketidakpuasan rakyat muncul dan pemerintahan Mossadegh.

Tahun 1952, sebagai Perdana Menteri, Mossadegh menuntut hak prerogatifnya untuk menunjuk Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Namun, monarki Iran pada saat itu, Shah Fahlevi, menolak keras. Sebagai balasannya, Mossadegh menyatakan diri mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri.

Inilah yang sudah ditunggu-tunggu oleh Monarki Iran dan negeri-negeri imperialis. Beberapa hari kemudian, Shah Fahlevi menunjuk seorang kolaborator asing, Ghavam Saltaneh, sebagai perdana menteri. Pada hari pengangkatannya, Ghavam mengumumkan keinginannya memulai negosiasi dengan Inggris untuk mengakhiri konflik minyak. Artinya, ia ingin membatalkan nasionalisasi.

Rakyat Iran marah. Front Nasional, koalisi politik pendukung Mossadegh yang menggabungkan nasionalis, islamis progressif, dan sosialis, termasuk Tudeh, melakukan mobilisasi massa. Pemogokan besar pecah di hampir seluruh kota di Iran. Akhirnya, karena tekanan massa rakyat, Shah Fahlevi mengembalikan jabatan Mossadegh.

Kali ini popularitas Mossadegh makin meningkat. Bersamaan dengan itu, ia memulai langkah-langkah untuk reforma agraria secara radikal. Ia membentuk dewan desa untuk mengakhiri secara pelan-pelan kekuasaan kaum feodal di desa-desa. Tak hanya itu, ia mendorong UU yang mengatur pembagian hasil yang adil antara tuan tanah dan petani penggarap.

Tak hanya itu, Mossadegh juga mendorong pembatasan kekuasaan monarki, memotong anggaran pribadi Shah, mentransfer tanah kerajaan ke negara, mendorong independensi pengadilan, membela kemerdekaan beragama, dan lain-lain.

Alhasil, langkah-langkah politik radikal Mossadegh itu membuat lawan-lawan politiknya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, menyatukan kekuatan. Tahun 1953, Dwight Eisenhower menjadi Presiden AS. Segera setelah itu, Dulles bersaudara, yakni Allen dan John Foster, menyakinkan Eisenhower bahwa Mossadegh makin membawa Iran ke kubu Uni Soviet.

Penggulingan Mossadegh

Sejak 1953, CIA memulai operasi untuk menggulingkan pemerintahan Mossadegh. Nama operasi itu adalah TPAJAX. Sebagai tahap awal, CIA bersama M-16 Inggris memulai kampanye massif untuk mendiskreditkan pemerintahan Mossadegh.

Selain mengorganisir propaganda, CIA juga mendanai dan mengorganisasikan aksi-aksi bayaran untuk mulai mendiskreditkan pemerintahan Mossadegh. Di sisi lain, CIA membantu Shah untuk meraih dukungan dari kalangan tentara dan sayap kanan di parlemen.

Tak hanya itu, menurut  Dr. Donald N. Wilber, seorang Iran yang menjadi agen CIA dan terlibat dalam penggulingan Mossadegh, agen-agen lokal yang direkrut oleh CIA kemudian menyamar sebagai komunis dan kemudian mengintimidasi ulama-ulama Islam bahwa “siapapun yang menentang Mossadegh akan dihukum keji.” Selain itu, mereka juga mempropagandakan bahwa komunisme tidak bertuhan dan sudah siap menyingkirkan dominasi Syiah di Iran. Cara keji ini dimaksudkan untuk mengakhiri dukungan kaum islamis terhadap pemerintahan nasionalis-kiri Mossadegh.

CIA sendiri menunjuk Kermit “Kim” Roosevelt, cucu dari Presiden AS Theodore Roosevelt, untuk memimpin operasi di Iran. Ia membujuk Shah Fahlevi agar mau memecat Mossadegh dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Tak hanya itu, ia terus mendanai demo-demo bayaran untuk menstimulasi kekacauan politik.

Shah menyetujui bujukan Kemit Roosevelt. Ia segera mengeluarkan dekrit untuk memecat Mossadegh. Tak hanya itu, ia juga menunjuk Jenderal Fazlollah Zahedi, seorang simpatisan NAZI dan sekutu loyal barat, sebagai Perdana Menteri. Uniknya, karena takut dengan kemarahan rakyat, Shah kabur dari Iran usai mengeluarkan dekrit.

Bersamaan dengan itu, Kashani sudah mengeluarkan fatwa bahwa Mossadegh adalah musuh Islam. Dengan begitu, kaum islamis benar-benar meninggalkan dukungan bagi Mossadegh. Sebetulnya, pendukung Mossadeh bukan tidak melawan. Mereka juga menggelar mobilisasi di jalan-jalan. Namun, Mossadegh memilih untuk menghindari konfrontasi yang berujung pertumpahan darah.

Tanggal 19 Agustus 1953, demonstran bayaran CIA dan M-16 tumpah ruah ke jalan-jalan. Menjelang sore hari, tentara mulai menyatakan bergabung dengan demonstran dan mulai mengerahkan tank untuk menyerbu kediaman Mossadegh. Akhirnya, pada tanggal 20 Agustus 1953, Mossadegh ditangkap militer. Dua hari berikutnya, Shah kembali dari persembunyiannya di Roma.

Mossadegh sempat diadili oleh pengadilan militer. Ia kemudian dipenjara selama tiga tahun dan menghabiskan sisa hidupnya di tahanan rumah. Ia meninggal 5 Maret 1967. Bersamaan dengan tergulingnya Mossadegh, seluruh aktivis komunis dan sosialis dikejar-kejar dan dibantai.

Cerita mengenai keterlibatan CIA, juga M-16, dalam penggulingan Mossadegh bukan rahasia umum lagi. Tanggal 19 Agustus 2013 lalu, Arsip Keamanan Nasional mempublikasikan dokumen CIA terkait Iran dalam kurun waktu tersebut.

“Kudeta militer yang menggulingkan Mossadeg dan kabinet Front Nasional-nya dilakukan di bawah petunjuk CIA dan bagian dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat, diketahui dan disetujui oleh pemimpin tertinggi pemerintahan,” tulis dokumen tersebut.

Menurut dokumen itu, operasi penggulingan itu bernama TPAJAX dan dilakukan atas permintaan Inggris. Menteri Luar Negeri Inggris kala itu, Sir Anthony Eden, menganggap Mossadeg sebagai ancaman bagi kepentingan strategis dan ekonomi mereka setelah menasionalisasi perusahaan minyak British Anglo-Iranian Oil.

Setelah Mossadeg terguling, CIA terus memberikan bantuan bagi pemerintahan baru Iran yang dipimpin Zahedi. “CIA dengan sembunyi-sembunyi memberikan US$5 juta (Rp52,4 miliar) dalam dua hari kepada Zahedi,” jelas Wilber, orang Iran yang menjadi agen CIA dan arsitek dari kudeta ini.

Keterlibatan AS/CIA dalam penggulingan rezim-rezim demokratis di dunia ketiga bukan cerita baru. CIA/AS juga nyata-nyata terbukti terlibat dalam penggulingan pemerintahan sosialis Salvador Allende di Chili, Jacobo Arbenz di Guatemala, dan lain-lain. Bahkan, dokumen CIA juga mengakui keterlibatan AS dalam penggulingan pemerintahan Soekarno dan pembantaian massal jutaan komunis di Indonesia.

Dan pasca kudeta itu, sebuah rezim otoriter dan korup berdiri tegak, dengan dukungan finansial dan militer dari barat. Di Iran, diktator Fahlevi berkuasa hingga 1979. Ia memagari kekuasaannya dengan pasukan kejam dan bengis, SAVAK. ribuan orang dieksekusi hanya dalam kurun waktu 23 tahun. Lebih dari 300.000 orang dipenjara hanya dalam kurun waktu 19 bulan. Rata-rata 1500 orang dipenjara tiap bulannya. Dan tentara Iran bersama SAVAK membantai 6000 rakyat saat protes 5 Juli 1963.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut