Chavez Menang Dalam Pemilu Presiden Venezuela

Kandidat sosialis Hugo Chavez terpilih kembali sebagai Presiden Republik Venezuela. Ia terpilih dengan suara 54.44%. Sedangkan kandidat sayap kanan, Henrique Capriles, mendapat suara 45%.

Hasil ini langsung diumumkan oleh Presiden Dewan Pemilu Nasional (KPU) Venezuela,  Tibisay Lucena, beberapa jam yang lalu. Dengan demikian, ini merupakan keempat kalinya Chavez dipercaya oleh rakyat untuk memimpin Venezuela.

Euphoria pendukung Chavez pun meledak. Markas tim kampanye Hugo Chavez dan Istana Kepresidenan Miraflores menjadi tempat berkumpulnya massa. Mereka tak henti-hentinya meneriakkan “Viva Le Patria”. Langit Venezuela juga diwarnai kembang api sebagai pertanda pesta kemenangan Rakyat!

“Saya menangis dengan sukacita,” kata Alirio Guevara, seorang nelayan dari Vargas, yang sengaja datang ke Caracas untuk memilih dan bergabung dengan kerumunan massa-rakyat yang merayakan kemenangan di markas kampanye Chavez. “Dalam enam tahun ke depan, kita akan memperdalam revolusi.”

Chavez sendiri bersuka cita atas kemenangan ini. Melalui pesan Twitter, Chavez mengatakan singkat, “Terima Kasih, Tuhanku. Terima Kasih kepada siapa saja. Terima kasih, Rakyatku. Viva Venezuela !!! Viva Bolivar!!!”

Partisipasi pemilu di Venezuela cukup tinggi, yakni 80% dari 19,119,809 juta orang yang terdaftar sebagai pemilih. Mantan Presiden AS, Jimmy Carter, menyebut proses pemilu di Venezuela sebagai yang terbaik di seluruh dunia.

Kemenangan Chavez ini membanggakan. Ia banyak diserang dan didiskreditkan oleh media-media barat. Mereka beramai-ramai berkokoh “Chavez sebagai diktator”. Ya, kalau berkuasa lebih dari dua periode, maka barat akan menyebut penguasa itu sebagai diktator.

Tudingan itu sangat tidak masuk akal. Chavez terpilih sebagai presiden melalui pemilu dan atas mandat mayoritas rakyat. Proses pemilu Venezuela terbuka bagi pemantau independen dari berbagai belahan dunia.

Selain itu, jika bicara kualitas demokrasi, maka demokrasi di Venezuela sudah jauh melampaui demokrasi di barat. Kekuasaan rakyat langsung di tangan rakyat melalui dewan-dewan komunal. Di sini, rakyat mengambil keputusan secara langsung yang berhubungan dengan kehidupan mereka.

Tidak hanya itu, Chavez juga membuka ruang untuk konsultasi kepada rakyat melalui referendum dan plebisit. Dengan mekanisme itu, rakyat tidak bersandar hanya pada kekuatan suara mereka yang cuma “lima menit dalam lima tahun”. Demokrasi Venezuela adalah penggabungan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Dengan demikian, proses demokrasi berjalan pararel dengan akses rakyat pada alat-alat produksi dan kesejahteraan.

Kalau Venezuela menganut kediktatoran, lantas kenapa kampanye oposisi bisa berjalan damai tanpa gangguan apapun. Tidak ada polisi, bersenjata atau tak bersenjata, di sekitar puluhan ribu massa oposisi yang sedang menyudutkan pemerintah. Bahkan, mobilisasi oposisi itu mendapat liputan ekslusif oleh media-media swasta Venezuela yang rata-rata dimiliki oleh kaum kaya.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut