Cerpen: Tuhan di Pucuk Kubah Masjid

Pak Camat bertandang pagi itu. Seluruh warga dikumpulkan. Lalu di beranda sebuah kios, ia mengumumkan bahwa satu minggu lagi warga harus sudah memberesi seluruh perlengkapan dan sesuatu lainnya untuk dibawa pergi. Sebab, pihak kepolisian telah mengedarkan surat pemberitahuan bahwa seminggu lagi mereka akan datang membawa dua truk pasukan dan beberapa buah bulldozer untuk merobohkan rumah-rumah, kios-kios, gardu-gardu dan aneka bangunan lainnya. Kecuali sebuah masjid yang berdiri setengah megah di arah barat daerah warga.

Pertemuan warga dengan pak Camat itu tak sepenuhnya disambut baik. Hampir sepertiga warga menyambut keputusan itu dengan makian dan raungan tangis. Sisanya hanya bisa diam dan wajah mereka memancarkan keputus-asaan. Pak Camat mengatakan, warga tak perlu khawatir. Uang ganti rugi tentu akan diberi.

Di antara beberapa warga yang risau dengan nasib mereka kemudian, adalah pak Sobri yang telah bertahun-tahun menempati daerah itu. Apa yang keluar dari mulut pak Camat—tentu ganti rugi—tak benar-benar bisa menghiburnya. Kalau pun ada, paling untuk hidup satu bulan. Setelah itu menggelandang. Pak Sobri sebenarnya telah imun dengan perlakukan penggusuran yang marak di kota itu. Ia pernah berpindah-pindah tempat di kota itu, dan selalu berakhir dengan penggusuran. Hanya di usianya yang senja itu, ia merasa ingin sedikit istirahat tanpa gangguan apa-apa. Tapi, mungkin sudah takdir hidupnya sejak meninggalkan kampong halaman dengan menjual tanah dan beradu nasib di kota.

Setelah pak Camat pergi, warga kebanyakan menggerundel dan mengeluarkan kata-kata tak tentu tuju. Pak Sobri bergeming. Ia terus saja menatap kosong. Cahaya matahari yang bersinar terang tak lagi mampu membangkitkan semangatnya agar segera beranjak berangkat mengayuh becaknya yang ia beli dengan angsuran satu tahun. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

Lalu perlahan ia berdiri, gontai tak bergairah. Ia terus melangkah kea rah barat. Ada yang brkecamuk di dalam dirinya. Entah apa. sejenis kegalauan.

Ia tiba-tiba berhenti di depan masjid bercat putih. Masjid itu menjadi tempat ia beristirahat jika kepenatan melandanya. Ia cukup akrab dengan para pengurusnya. Ia menatap kubah masjid yang di puncaknya bertuliskan ‘Allah’. Ia menatap lekat-lekat huruf yang terbuat dari alumunium itu. Entah, ada perasaan asing yang menderanya.

Ah, Tuhan, apakah kau bisa menolongku sekali ini saja?

******

“Pak Sobri, Pak Sobri. Sudah hampir maghrib. Pak Sobri silakan bangun dan ambil air wudhlu,” sapaan itu membangunkannya. Ia baru sadar, ia tertidur di teras samping, ketika habis menjalankan sholat dhuhur tadi. Artinya ia alpa menjalankan sholat ashar.

Ia perlahan bangkit, berwudhlu. Sehabis sholat maghrib, ia pamit pulang. Sesampai di depan rumahnya, ia menyaksikan beberapa pemuda tengah bercakap-cakap dengan warga.Mereka membawa spanduk besar yang direntang lebar di sebuah pagar. Pak Sobri hanya bisa membaca beberapa kalimat: TOLAK PENGGUSURAN… Itu pasti mahasiswa dan kelompok-kelompok yang peduli dengan nasib korban penggusuran, pikirnya. Ia terkadang menaruh simpat kepada mereka. Muda dan gigih. Meski aksi mereka kerap harus berakhir dengan pembubaran dan penangkapan, mereka tetap kembali menjadi pagar betis bagi masyarakat yang tergusur. Kedatangan mereka menjadi obat batin dan hiburan tersendiri bagi para warga.

Pak Sobri mendekat kerumunan itu, menyimak diskusi yang mereka adakan:

“Bapak-bapak dan ibu tahu, kenapa harus digusur?” tanya seorang pemuda berkulit sawo matang.

“Kata pak Camat, tempat ini sudah ada yang punya. Dan akan dibangun tempat apa…kami kurang tahu,” jawab warga.

“Tempat ini akan dibangun mall yang megah.”

Seketika riuh mewarnai diskusi. Mereka merasa pak Camat tak lagi memerhatikan nasib mereka. Ada bahkan yang sampai mengeluarkan kata-kata tak sedap di pendengaran, yang mencaci-maki pemerintah dengan ‘tai kucing’.

“Maka, bapak-bapak dan ibu-ibu harus melawan ini. ini tidak adil, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian harus bersatu untuk menolak penggusuran. Kami, mahasiswa dan koalisi aktifis miskin kota akan membantu bapak dan ibu untuk menggagalkan penggusuran ini. ingat, nasib bapak dan ibu ini tak ada yang bisa rubah, kecuali oleh diri sendiri.”

Pak Sobri merasa terbakar oleh ajakan dengan sedikit ceramah itu. Benar, pikirnya. Tak ada yang mampu mengubah nasib kita, kecuali diri kita. Ia pernah mendengar seorang khatib berceramah dengan berapi-api dan mengartikan sebuah ayat alquran: Tuhan tak akan merubah satu kaum, sampai kaum itu mau meruba dirinya sendiri.

Sesaat ia melupakan kesedihannya. Ia memutuskan untuk bergabung dengan para mahasiswa dan aktifis itu.

******

Pak Sobri mendatangi masjid itu lagi. Kali ini ia tak lama-lama ia berdoa. Setelah menatap sebuah kaligrafi indah yang bertuliskan ‘Alla’, ia bersemangat dan segera keluar untuk menyebar pamphlet-pamflet yang mengutuk aksi pemerintah yang tak pernah berpihak kepada rakyat kecil. juga menyeru kepada khalayak untuk bergabung dan bersatu menolak penggusuran itu.

Posko dibangun di sudut pemukiman, dekat jalan raya. Beberapa warga yang ikut, tengah berorasi dengan tertatih-tatih. Mereka baru mengenal dan merasai megapon. Tak salah jika mereka masih gugup untuk berteriak-teriak mengabarkan nasib mereka ke segenap pengguna jalan.

Pak Sobri sangat merasa senang dengan apa yang ia lakukan.

Sehabis pamphlet disebar—sementara menunggu kopian lainnya digandakan—para, warga, juga pak Sobri, beristirahat seraya mengadakan evaluasi aksi.

Sehabis evaluasi aksi, adzan menggema dari masjid yang selalu ia tandangi jika hendak beristirahat dan beribadah. Kini panggilan itu terdengar berbeda dari sebelumnya. Gema itu seperti menyimpan semangat baru bagi dirinya.

Sehabis makan siang, ia pamit. Sejauh ia bisa melihat puncak kubah masjid, ia terus memerhatikan lekat-lekat asma Allah di sana. Sesampai di masjid, ia berwudhlu. Lalu sholat. Sehabis berdoa, ia beranjak ke teras samping masjid. Tiba-tiba secarik kertas jatuh dari kantong celana hijaunya. Tak sempat ia pungut, kertas itu terbawa angin. Berhenti persis di depan ustad Sukri—pengurus masjid yang kerap memberikan khutbah—yang sedang berdoa. Ustad Sukri memungut dan membaca sejenak pamflet itu. Ia geleng-geleng kepala. Pak Sobri jadi kikuk. Ia mendekati ustad Sukri.

“Pak Sobri ikut mereka?”

Pak Sobri hanya bisa mengangguk. Ia tak berani mendongakkan kepala.

“Pak Sobri, hati-hati. Mereka itu hanya bisa mengajar orang berontak. Pak Sobri harus sabar. Nasib kita itu ada di tangan Tuhan. Kita harus berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan.”

“Tapi, bukankan ustad sendiri yang mengatakan nasib kita tak akan dirubah Tuhan, kecuali kita mau merubah nasib sendiri?”

“Hei, pak Sobri. Hati-hati. Kita tak boleh sembarangan menafsirkan ayat Allah.”

Pak Sobri sebenarnya geram dengan jawaban ustad Sukri. Tapi ia hanya bisa diam. Ia tak punya cukup referensi untuk menantang ustad Sukri. Tapi, ia tetap yakin dengan apa yang ia lakukan kini.

Setelah mengambil kertas itu dari tangan ustad Sukri, dan mendengar wejangan singkat yang menganjurkan pak Sobri tetap bersabar dan menunggu musibah ini berlalu, ia pamit.

******

Puluhan anggota polisi turun dari dua buah truk dan membuat barikade memanjang. Para warga dan mahasiswa saling berangkulan tangan, menghalau polisi yang hendak menerobos ke pemukiman. Sementara dua buah bulldozer ada di belakang.

Setelah tim negosiasi dari warga gagal bernegosiasi dengan pimpinan polisi, akhirnya aksi dorong-mendorong antara polisi dengan warga tak dapat dielakkan lagi. Tiba-tiba gas air mata dilemparkan polisi ke tengah-tengah warga, tepat di hadapan pak Sobri. Seluruh warga berhamburan menyelematkan diri. Aksi lempar batu dari warga menjadi balasan. Pak Sobri memungut sebuah batu—yang selama hidupnya menjadi batu pertama yang ia gunakan untuk melempar polisi—dan melemparkannya jauh-jauh ke arah polisi.

Tak lama berselang setelah batu itu dilemparkan, sebuah batu balasan dari arah barikade polisi mengenai keningnya. Darah segar mengalir dari kening menuruni jidat dan pipi. Matanya jadi berkunang-kunang. Ia tak bisa melihat dengan jelas. Suara-suara teriakan dan makian, serta debuman serbuan bulldozer menghantam tembok-tembok dan atap rumah warga, menjelma gema yang sayup di telinganya. Sebelum ia terjatuh, sempat terbayang di ingatannya asma Allah di pucuk kubah masjid itu.

Setelah tersadar, ia mendapatkan dirinya terborgol dan berada di sebuah truk polisi. Bersama warga yang lain dan beberapa mahasiswa, ia diangkut menuju arah barat.

Ketika truk melaju membawa ia dan yang lain pergi, ia menyaksikan rumah-rumah yang telah rata dengan tanah. Benar-benar rata. Kecuali sebuah masjid yang tetap berdiri megah.

Dan ia terus memandang asma Allah di pucuk kubah masjid itu, hingga ia meninggalkan tempat itu.

Makassar, 2013

Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah (Bisa dihubungi di: www.facebook.com/dediarium)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut