Cerpen: Selama bola itu masih bundar, tak ada yang tak mungkin…

Minggu, 20 Juni 2010 | 13.16 WIB | Suluh

Oleh IWAN KOMINDO

Sebelum membalasnya, laki-laki berkopiah itu membaca lagi surat itu. Kali ini kata demi kata dihayatinya betul-betul.

Bersama datangnja soerat ini dinda sampaikan bahwa kabar dinda baik adanja. Begitoepoelalah kandakoe Boejang Parewa di sana hendaknja.

Sebagaimana remboekan kita tempo hari, maka ini hari telah terbentoek Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia jang kemoedian disingkat PSSI. Artinja strategi menyemai benih antikolonial lewat sepakbola di dada para pemoeda kita seperti jang pernah kanda amanatkan sudah dinda djalankan.

Pertemoean tadi dihadiri oleh Sjamsoedin, mahasiswa RHS jang mewakili VIJ, Gatot dari Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB), Daslam Hadiwasito, A.Hamid, M. Amir Notopratomo dari Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta , Soekarno dari Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo. Agar tidak salah sangka, Soekarno ini bukan Boeng Karno tokoh PNI itoe, kanda.

Kemoedian, Kartodarmoedjo dari Madioensche Voetbal Bond (MVB), E.A Mangindaan, siswa HKS/Sekolah Goeroe jang joega Kapten Kes.IVBM mewakili Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM), Pamoedji mewakili Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB).

Organisatie telah terbentoek dan dalam pertemoean tadi teman-teman memilih dinda menjadi Ketoea Oemoem PSSI. Tentoe ini bukan pekerdjaan yang ringan. Oleh karenanja tenaga dan pikiran kanda sangatlah dinda boetoehkan untuk merantjang program PSSI. Kapan kita bisa bermoeka-moeka?

Djogjakarta, 19 April 1930

Salam hangat,

Soeratin Sosrosoegondo

Bujang Parewa sumringah. Surat itu telah dibacanya berulang-ulang. Lalu membakarnya.

Dua tahun sebelumnya, Bujang Parewa berjumpa Soeratin di alun-alun Yogyakarta. Dia insinyur sipil lulusan Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman tahun 1927. Tahun 1928 dia kembali ke tanah air dan bekerja di Sizten en Lausada perusahaan bangunan milik Belanda yang berpusat di Yogyakarta.

Dia satu-satunya pribumi yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi besar itu. Intensitas pertemuan dengan Bujang Parewa lah yang kemudian mendorong jiwanya bergolak sehingga memutuskan mundur dari perusahaan tersebut.

Hobi mereka sama. Sama-sama suka main sepakbola. Setelah berhenti dari Sizten en Lausada, hari-hari Suratin lebih banyak dihabiskan di lapangan sepakbola dan lapangan pergerakan antokolonial.

“Sepakbola adalah satu dari sekian banyak cara mengimplementasikan pertemuan para pemuda 28 Oktober 1928 tempo hari. Sepakbola harus dilihat sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda. Besok dalam pertemuan dengan Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) bersama dengan pengurus lainnya di Hotel Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta kita matangkan gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi persepakbolaan kebangsaan,” kata Bujang Parewa.

“Apa mungkin?”

“Selama bola itu masih bundar, tak ada yang tak mungkin…”

Omongan Bujang Parewa itu terpartri dibenak Soeratin. Pendek cerita, paska pertemuan itu, Soeratin mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan tokoh-tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung . Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID).

Selamat atas terbentoeknya PSSI!

Berkat sering mengolah si koelit boendar dan doa dinda joealah kanda di sini tetap boegar dan penuh semangat.

Dinda memang loear biasa. Bangga rasanya punya sodara seperjoeangan seperti dinda. Dalam waktu dekat kita segera bermoeka-moeka. Rindoe joega lama tak joempa. Setelah menimang-nimang soerat jang dinda kirimkan, saran kanda bersegeralah menyoesoen program jang pada dasarnya menentang berbagai kebijakan jang diambil pemerintah Belanda melaloei NIVB,jakni program perjoeangan seperti jang dilakoekan oleh partai dan organisasi massa jang telah ada.

Merdeka!

Djakarta, 21 April 1930

Salam hangat,

Boejang Parewa

Surat itu langsung dibakarnya. Selalu begitu untuk menghilangkan jejak. “Aku harus bergerak seperti angin. Cepat, tak terlihat tapi terasa,” pikir Soeratin.

Tak lama kemudian PSSI melahirkan Stridij Program. Setiap bonden atau perserikatan diwajibkan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II, selanjutnya di tingkatkan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut Steden Tournooi dimulai pada tahun 1931 di Surakarta.

Kegiatan sepakbola kebangsaan yang digerakkan PSSI menggugah Susuhunan Paku Buwono X. Raja Solo itu membangun stadion Sriwedari lengkap dengan lampu. Sriwedari diresmikan Oktober 1933. Keberadaan stadion ini kian menggencarkan kegiatan persepakbolaan.

Menghitung kekuatan dan kesatuan PSSI yang kian lama kian bertambah membuat NIVB menyusun ulang kekuatan. Tahun 1936 NIVB berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan mulailah dirintis kerjasama dengan PSSI.

***

“Piala Dunia ketiga di Perancis 1938 sudah di depan mata. Final Piala Dunia 1938 diadakan saat dunia diwarnai dengan perang yang terjadi di sejumlah negara,” kata Soeratin.

“Kita harus ambil bagian. Harapannya tim kita bisa berhadapan dengan Belanda. Di sana kita libas mereka,” sahut Bujang Parewa.

“Apa mungkin mengalahkan Belanda?”

“Selama bola itu masih bundar, tak ada yang tak mungkin,” jawab Bujang Parewa.

“Jerman mengambil alih kekuasaan Austria sehingga negara yang pada tahun 1930 an dianggap sebagai salah satu tim kuat Eropa itu punah.”

“Inggris dan Italia terlibat perselisihan politik dukung mendukung gerakan pemberontakan di negara Eropa lain. Salah satunya adalah Spanyol yang dilanda perang saudara sehingga tim yang di final 1934 sebenarnya bisa menyingkirkan Italia jika saja wasit tidak berat sebelah atas tim tuan rumah itu.”

“Negara-negara di Amerika Selatan protes. Situasi politik di negara Amerika Selatan ini tidak memungkinkan tim nasionalnya berangkat ke Prancis.”

“Uruguay masih marah karena tim-tim Eropa tidak datang mengikuti Piala Dunia tahun 1930 yang diadakan di Montevideo dan memutuskan untuk tidak turun.”

“Argentina juga memboikot karena memandang bahwa penyelenggaraan Piala Dunia seharusnya diadakan bergantian di benua Amerika dan Eropa.”

“Akibat situasi ini hanya Kuba dan Brasil yang mewakili Amerika Selatan di Piala Dunia 1938 dan datang ke Prancis dan Brasil menjadi favorit untuk menjadi juara.”

“Grup kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 1938 hanya terdiri dari dua negara, kita dan Jepang. Hanya kita berdua. Dunia sepakbola Asia memang hampir tidak ada.”

“Pertanyaannya apakah PSSI atau NIVU yang berlaga?”

“Kita harus bersiasat…”

“Kita tidak mungkin melebur dengan NIVU. Mereka itu antek kolonial.”

“Lantas bagaimana?”

“Kita tantang mereka berlaga. Siapa yang menang dia yang berangkat ke Perancis.”

“Mhhh….”

Dalam perjalanannya, NIVU dan PSSI membuat perjanjian Gentelemen’s Agreement yang ditandatangani oleh Soeratin (PSSI) dan Masterbroek (NIVU) pada 5 Januari 1937 di Jogyakarta.

“Sialan penjajah! Kekuasaan ada ditangan mereka. Mereka menginginkan tim yang berangkat ke Perancis mengusung bendera NIVU, yakni merah putih biru.”

“Meskipun kita yang menang?”

“Iya.”

“Secara politis, bila kita ikuti aturan main mereka, ini akan berdampak tidak baik terhadap pergerakan kebangsaan.”

Dalam kongres PSSI 1938 di Solo, Soeratin membatalkan secara sepihak Perjanjian dengan NIVU tersebut. Itu aksi yang muncul ke permukaan. Kabar itu disambut gembira massa rakyat yang berlawan.

Di sisi lain, berbekal kepiawaian mengotak-atik si kulit bundar, Bujang Parewa yang memang tokoh balik layar PSSI berhasil menyusup ke tim Dutch East Indies; tim Hindia Belanda yang berlaga ke piala dunia 3. Bersama Soeratin, Bujang Parewa merencanakan sesuatu.

Para pemain terdiri dari 9 orang pribumi dan Tionghoa, termasuk Bujang Parewa dan sisanya orang Belanda. Tim ini lolos ke Perancis tanpa harus menyepak bola setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan Cina.

Bujang Parewa ke Perancis bersama kiper Bing Mo Heng, Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermandji, Anwar Sutan, dan kapten tim Nawir.

***

Salam hangat,

Adinda Soeratin, kami soedah sampai dengan selamat di Perancis. Piala Dunia FIFA ke-tiga diselenggarakan mulai tanggal 4 Juni hingga 19 Juni 1938.

Ada lima belas tim jang akan berlaga; Prancis sebagai toean roemah, Italia, Jerman, Swedia, Norwegia, Brasil, Kuba, Swiss, Polandia, Hindia Belanda, Rumania, Hongaria, Cekoslowakia, Belanda dan Belgia.

Pada World Cup ini, oentoek pertama kalinya juara bertahan, Italia lolos ke Piala Dunia setjara langsoeng tanpa koealifikasi bersama Perancis jang meroepakan toean roemah. 37 negara berpartisipasi dalam koeualifikasi. Setelah koealifikasi 16 tim lolos ke poetaran final.

Austria tidak mengikoeti perhelatan ini karena Anschluss pada Maret 1938, sehingga tim yang berpartisipasi menjadi 15, dan Swedia langsung melaju ke babak perempat final secara otomatis. Jadi oentuk ketiga kali bertoeroet-toeroet Piala Dunia tidak menggambarkan toernamen doenia sepakbola ataoepoen turnamen seloeruh doenia.

Sistem goegoer jang pertama diperkenalkan di final tahoen 1934 tetap diberlakoekan di Prancis.

Kita menjadi negara Asia pertama jang ikoet Piala Dunia. Sayangnya, tim Hindia Belanda tidak berhadapan dengan Belanda. Padahal toejoean oetama saya ikoet ke sini oentoek berhadapan dengan Belanda. Memenangkan pertandingan dan mempermaloekan Belanda di mata doenia.

Kami berhadapan dengan tim koeat Hongaria di Stade Velodrome, Reims tanggal 5 Juni 1938. Pertandingan jang tidak seimbang ini ditonton oleh sekitar 9.000 orang. Hindia Belanda bisa melakoekan perlawanan selama 12 menit pertama, sebelum akhirnya gawang Bing Mo Heng kemasoekan satoe gol dan disoesoel dengan lima gol berikoet. Kandas soedah harapan berhadapan dengan Belanda.

Sepertinya saya tidak ikoet serta poelang ke tanah air bersama tim Hindia Belanda. Oentoek sementara waktoe saya akan menetap di Eropa.

Perancis, 5 Juni 1938

Boejang Parewa

Nb: empat kali empat enam belas, surat ini tak perlu dibalas.

Terus berjoeang!

Mardeka!

Itulah kabar terakhir yang kudapat dari Bujang Parewa, orang yang selama ini kupanggil kakanda. Semenjak itu batang hidungnya tak pernah kelihatan lagi.

Kabar selanjutnya tentang piala dunia 1938 kudapat dari orang-orang NIVU. Kata mereka, Italia kembali menjadi juara setelah mengalahkan Hongaria 4-2. Mhhh… rupanya tim yang mengalahkan Hindia Belanda, menjadi runner up.

Entah di mana kini kau Bujang Parewa? Aku merindukanmu. Semenjak berkenalan hingga menghilang kau tetap misterius. Kau datang tiba-tiba. Lalu menghilang tiba-tiba. Dengan ketangkasanmu kau pengaruhi aku. Kutinggalkan pekerjaanku di Sizten en Lausada setelah terpengaruh kata-katamu.

Kudirikan PSSI juga karena pengaruhmu. Siapa sebenarnya kau Bujang Parewa. Sebegitu hebat kah engkau sehingga mampu merobah jalan hidupku?

Sebagai penawar rindu, kuberanikan diri membuka catatan harian yang kau tinggalkan di kediamanku. Luar biasa memang engkau. Berkali-kali kubaca catatanmu. Kali ini kubaca lagi lebih serius tanpa melewatkan satu kalimatpun…

Agustus 1924

R. Oesadiningrat memimpin rapat akbar di tanah lapang Pandeglang, Banten. Dia karyawan stasiun kereta api Tanah Abang yang baru saja dipecat otoritas kolonial karena aktivitasnya di Sarekat Buruh Kereta Api (VSTP). Pidatonya bak nyala api.

Ini rapat akbar ke empat yang punya tujuan mendirikan Sarekat Rakyat. Tiga rapat akbar sebelumnya selalu dihadiri tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) terkemuka. Waktu itu PKI belum punya cabang di Banten, meskipun dua tokoh ISDV, cikal bakal PKI, Hasan Djajadiningrat dan J.C Stam tinggal di sana.

Sesaat sebelum perang dunia pertama, seorang warga negara Belanda bernama H.J.F.M Sneevliet, anggota Sociaal Democratiesche Arbeiders Partij (SDAP) datang ke Hindia Belanda lalu bekerja sebagai wartawan di koran Soerabajasch Handelsblad.

Tahun 1913 dia pindah ke Semarang. Kemudian tanggal 9 Mei 1914 bersama J.A Bransteder, H.W Dekker dan P. Bergsma, Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Meskipun didirikan oleh orang Belanda, ISDV ini berwatak anti kolonial-anti penjajahan. Tak ayal jika mereka menjalin hubungan baik dengan Sarekat Islam dan menerbitkan koran Soeara Merdeka dan Soera Ra’jat.

23 Mei 1920, pada kongresnya yang ke tujuh, ISDV berganti nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia. Ketua Sarekat Islam Semarang, Semaoen terpilih sebagai ketua. Darsono sebagai wakil ketua. Bergsma sebagai sekretaris dan Dekker sebagai bendahara. Desember 1920 nama Perserikatan Komunis Hindia dirubah jadi Partai Komunis Indonesia. Inilah partai politik yang memakai nama Indonesia.

Dua belas bulan setelah rapat-rapat akbar yang dipimpin R. Oesadiningrat, anggota Sarekat Rakyat menjadi ribuan orang di Banten. Perkembangannya sangat pesat, apalagi di tahun 1925 banyak orang Banten yang merantau pulang kampung. Mereka ini umumnya anggota PKI. Hingga tahun 1926 anggotanya terus bertambah.

Di antara mereka yang mudik adalah Tu Bagus Alipan dan Puradisastra, propagandis PKI yang memang ditugaskan Darsono mendirikan PKI cabang Banten. Selain itu ada juga Achmad Bassaif yang fasih berbahasa Arab.

Rapat akbar semakin sering saja digelar. Tokoh PKI, Alimin dan Muso pernah datang ke Pandeglang dan berpropaganda mengisahkan sejarah perang Diponegoro dan Imam Bonjol melawan Belanda. Mereka menjelaskan pengertian komunis dalam menghadapi penjajah tak ubahnya perang sabil. Di setiap rapat akbar yang lebih ditekankan persamaan islam dan komunis yang sama-sama anti penindasan.

Kala itu petani di Banten resah dengan hoofdgeld yang diberlakukan oleh otoritas kolonial. Hoofdgeld merupakan pajak kepal atau pajak perorangan. PKI mengumandangkan penjajahan harus dilawan. Apabila penjajah kolonial berhasil dikalahkan maka hoofdgeld dihapuskan. Kemampuan membaca situasi inilah yang membuat PKI mendapat dukungan besar rakyat Banten.

Basis PKI di Banten mula-mula besar di wilayah Serang, kemudian merambat ke Rangkasbitung, Lebak dan wilayah lainnya. Setelah kuat, PKI mendirikan Dubbel Organisatie (DO). Organisasi rahasia untuk mematangkan semangat revolusioner menyambut hasil keputusan pertemuan Prambanan yang merencanakan pemberontakan besar-besaran terhadap kolonialisme Belanda.

Setelah mematangkan persiapan, Puradisastra dan Bassaif kembali ke Batavia. Keduanya menjadi penghubung PKI Pusat dan PKI Banten. Bulan Mei 1926 PKI Banten melakukan reorganisasi. Kini, Ishak dan Mohammad Noer menjadi pimpinan. DO dipimpin oleh Hasanudin dan Solaiman. KH Achmad Khatib menjadi Presiden Agama PKI cabang Banten.

Rencana pemberontakan PKI bocor ke kuping kompeni. Kisaran Juli hingga September 1926, berita penangkapan pimpinan-pimpinan PKI menjadi buah bibir masyarakat Banten.

“Tju Tong Hin, proklamator PKI warga Cina di Rangkasbitung ditangkap.”

“Tubagus Muhamad Hasjim alias Entjim, Komisaris PKI Rangkasbitung ditangkap.”

“Tjodroseputro, Ketua PKI Rangkasbitung ditangkap.”

“Salihun, agen propaganda PKI Rangkasbitung ditangkap.”

“Si anu ditangkap.”

“Si ini ditangkap.”

“Si itu ditangkap.”

Berita itu sampai di kupingku, ya… kuping Bujang Parewa, bocah lima belas tahun yang paling getol menghadiri rapat akbar. Kehadiranku di rapat akbar bukan sebagai simpatisan PKI, melainkan nyopet. Aku terlahir dari keluarga jawara yang miskin. Keramaian selalu menjadi incaran. Dari mulai panggung hiburan hingga rapat akbar disambangi. Sejauh ini aksiku di keramaian tak pernah ketahuan.

Keseringan menghadiri rapat akbar, sedikit banyak menambah pengetahuan. Dia aku tahu penyebab betapa jauh jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Aku mulai mengenal sistem kapitalisme yang dipakai kaum kafir kolonial Belanda dan kaum pribumi oportunis yang menjadi penyebab kenapa keluargaku menjadi miskin. Namun demikian, untuk menyambung hidup, aku tetap mencopet.

“Wah, kalau pimpinan-pimpinan PKI ditangkapi semua, bisa-bisa nggak ada rapat akbar nih. Ini sama saja Belanda merampas periuk nasiku,” aku, si Bujang Parewa ini bicara pada diriku sendiri.

November 1926

Meski pimpinan legal banyak yang ditangkapi, pemberontakan tetap meletus di Banten. Kaum jawara tampil mengambil alih kepemimpinan.

Tengah malam di tanggal 6 November ratusan orang bersenjata menyerbu Kota Labuan. Senjata itu barang selendupan yang diperoleh dari masyarakat Cina yang bermukim di Labuan dan Menes.

Massa menyerbu rumah Mas Mohamad Dahlan, pegawai yang dituding membocorkan pemberontakan PKI sehingga berbuntut ditangkapnya sejumlah tampilan legal. Dahlan mengalami luka parah.

Jam satu malam, massa bergerak ke rumah wedana R Partadiningrat, seorang pengawas kereta api antek kolonial yang sangat kejam terhadap pribumi. Di tempat lain, massa tampak bringas di kediaman Benjamin, satu-satunya orang Belanda yang tinggal di Banten. Benjamin yang bekerja sebagai polisi malam itu tewas terbunuh.

Sepekan lamanya pihak PKI menguasai Banten. Tanggal 13 November pihak kompeni melancarkan aksi guna mengambil alih Banten. Tak butuh waktu lama, bulan Desember pengkapan. Sampai desember pemberontakan berhasil diredam; 99 dibuang ke Digul, 9 dipenjara di Banten, 4 tembak ditempat.

Aku ikut ditangkap dan dibuang ke Digul. Mereka mengira aku ini kader PKI karena selalu hadir di setiap rapat akbar. Lho, ada yang memata-matai rupanya. Semenjak itu aku tahu tidak sedikit orang-orang yang bermental anjing di sini. Anjing itu kan kalau dikasih tulang disuruh apa saja langsung mau. Sama kayak mata-mata Belanda itu, dikasih uang tidak seberapa, langsung mau mengkhianati perjuangan kaum sebangsanya.

Mending aku, walau nyopet tapi tidak berkhianat!

Aku tak tahan dengan kehidupan di Digul. Alamnya sadis. Penyakit malaria menjadi hantu yang paling ditakuti. Ada satu hantu lagi yang paling dibenci, yakni Meneer Hon, kepala penjara Digul. Dia sangat kejam. Paling suka mengadu sesama tahanan berantam. Kalau tidak mau ditembak.

Ada dua jalan keluar dari Digul. Lewat sungai atau lewat perkampungan yang didiami Suku Mupi. Lewat sungai disambut buaya, lewat perkampungan ketemu orang Mupi yang paling doyan makan jantung manusia. Ibaratnya makan buah simalakama; tak ada pilihan yang enak.

Tahanan generasi awal di Digul tak sedikit yang mati. Aku tak mau mati di sini. Aku juga tak mau hidup berlama-lama di sini. Aku harus kabur. Digul tak ubah neraka. Mahal sekali harga yang harus dibayar untuk merdeka rupanya.

***

Wow! Alumni Digul rupanya kau kakanda. Kenapa hal ini tak pernah kau ceritakan wahai nasionalis generasi awal. Aku hanya bisa terbahak-bahak mengenangmu. Sebenarnya aku masih penasaran, bagaimana caramu lolos dari pulau neraka itu? Dan bagaimana kisah sampai kita berjumpa di alun-alun Jogja tahun 1928. Artinya kan engkau tak sampai dua tahun di sana?

Sejenak kuhentikan dulu membaca catatanmu… “Tahanan PKI ikut berlaga di Piala Dunia….ckckkckckkc…!?” gumamku seraya geleng-geleng kepala. Selama bola itu masih bundar, memang tak ada yang tak mungkin!

Komplek Bier, Pancoran, 18 Juni 2010.

· Dalam kongres di Solo 1950 PSSI dirubah menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

· Meneer Hon: Dalam bahasa belanda Hon berarti anjing.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut