Cerpen: Sang Birokrat!

Kereta api, yang usianya sudah puluhan tahun itu, mulai meraung-raung. Itu pertanda perjalanan panjang akan dimulai: Jakarta-Jogjakarta. Bonar, yang duduk di gerbong eksekutif, tak henti-hentinya memuji temuan George Stevenson ini.

Bonar baru saja naik pangkat. Ia tak sabar memamerkan pangkatnya itu pada kedua orang tuanya, juga orang-orang kampung. Karena itu, seragam birokrat itupun tak pernah dilepasnya.

Hati Bonar berseru-seru, “Hei, kalian, inilah si Bonar, si anak desa yang cerdas dan pekerja keras itu. Aku-lah si pembawa panji-panji Veni, Vidi, Vici. Karena aku tak malas seperti kalian, tak mudah menyerah, maka aku menang.”

Sampai di Jatinegara, beberapa penumpang baru naik. Tiba-tiba duduk di samping Bonar seorang gadis berkulit putih, halus, dan berparas cantik. Bibirnya tersenyum seakan meruntuhkan iman. Bonar tak bisa mengalihkan pandangannya pada gadis ini.

Dan laki-laki birokrat itu, dengan pangkat dipundaknya, tak kuasa menahan tangannya yang sudah gatal untuk berkenalan.

“Perkenalkan, nama saya Bonar, sering dipanggil Bonnie.” Tiba-tiba Bonar memodifikasi namanya.

“Diana Kusumasari,” perempuan itu menyambut tangan Bonar alias Bonnie, tapi kelihatan agak lemas.

“Mau ke Jogja juga?”

“Iya, ada urusan di sana.”

“Urusan apa? Kalau boleh tahu.”

“Urusan yang sangat penting: urusan Rakyat.”

Diana merogoh kantongnya dan dikeluarkannya sebungkus rokok putih. Setelah membakarnya, ia menawarkan sisanya ke Bonar. Bonar, yang sebetulnya bukan perokok, menerima tawaran itu.

“Anda seorang birokrat?”

“Iya, saya bekerja di Kementerian. Sudah tiga tahun saya bekerja di sana. Kemarin, berkat kerja keras dan karunia Tuhan, saya naik jabatan. Ya, saya menganggap ini anugerah Tuhan.”

“Wow, anda sangat beruntung,” Diana memuji dengan suara lemas.

Perbincangan berhenti. Diana mulai bermain dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukannya. Kelihatannya, ia agak menyesal duduk di samping manusia yang begitu bangga memikul pangkatnya itu.

Dan Bonar pura-pura beralih melihat keluar jendela. Sawah, ladang, bukit, perkampungan seakan lari berkejar-kejaran. Dalam hatinya berkecamuk perasaan yang tak bisa diredam lebih lama lagi: cinta. Ya, ia mulai terpikat dengan Diana, gadis yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.

Bonar yakin, seragam yang dikenakannya, juga pangkat yang menempel di pundaknya, akan menaklukkan perasaan gadis itu. Kalau belum takluk juga, katanya di dalam hati, keluarkanlah BlackBerry dari saku celanamu.

Tetapi Diana tetap mengabaikannya. Malahan gadis itu sekarang mengeluarkan buku tipis dari dalam tasnya. Lalu dibukanya buku itu tepat di pertengahan. Ia seakan tenggelam dalam bacaan buku itu.

Bonar, yang makin gelisah tak mendapat respon, mulai memberanikan diri.

“Anda punya cita-cita mencari suami seorang pejabat?”

“Anda tahu, bung, pada abad ke-19 orang-orang di Eropa sana sudah menaklukkan petir agar sejalan dengan keinginan manusia. Lahirlah Kereta Api, seperti yang kita tumpangi sekarang ini. Dan di Jakarta ini, kota terbesar di Republik ini, masih ada orang yang merasa dirinya hebat hanya karena seragam. Huhh, aku seperti hidup di jaman kolonial.”

Jawaban Diana itu seperti petir yang menyambar kuping Bonar. Tak disangkanya, ada perempuan yang tak takluk oleh seragam. Betapa malunya hati ini, pikirnya, seorang perempuan telah menampik kebanggaan hidupnya.

Bonar memang bercita-cita jadi birokrat. Sejak dulu, ia melihat garis kehidupan itu seperti garis lurus: lahir, besar, sukses, menikah, kaya raya. Baginya, birokrat adalah jalan untuk mewujudkan cita-citanya itu. Ia sangat berharap, dengan suksesnya itu, orang tuanya menjadi bangga.

“Anda sendiri kerja di mana?” tanya Bonar penasaran.

“Apa pentingnya pertanyaan itu kujawab. Tapi, kalau kau tetap mau tahu, saya bekerja sebagai manusia bebas.”

“Hah, adakah pekerjaan seperti itu?”

“Ya, saya penulis lepas. Sesekali, kalau ada kebijakan negara yang tak pantas, saya menjelma menjadi aktivis. Bagiku, manusia merdeka itu adalah manusia paling ideal. Manusia-manusia merdeka, dengan senjata kritisisme di tangannya, adalah penyuluh pembebasan.”

“Hehehe, rupanya demonstran toh,” balas Bonar seakan mengejek.

Tak puas mengejek, Bonar pun mulai melancarkan serangan tambahan, “Tapi kan aparatus negara itu juga pengabdian. Kami bekerja untuk melayani rakyat. Tanpa tangan-tangan kami, negara ini mungkin sudah lumpuh. Bahkan, berbeda dengan kalian yang hanya pandai mengumbar kritik, kami bekerja dengan tekun.”

“Ya, menjadi apparatus negara memang sebuah pengabdian. Saya sangat menaruh hormat kepada mereka yang benar-benar berdedikasi terhadap bangsa dan rakyat. Tapi, ingatlah, tak sedikit juga diantara mereka yang mengejar seragam apparatus negara karena motif gaji dan status sosial. Mereka menghalalkan kolusi dan nepotisme demi motif itu.”

“Apa yang salah dengan mencari gaji? Toh, tak ada manusia yang tak bisa hidup tanpa gaji. Jangan dikira kami bisa hidup, juga keluarga kami, kalau tak ada gaji. Tapi, harus anda ingat, gaji bukanlah motif paling pokok. Kami memang ingin mengabdi.”

“Hei, tahukah kau, 70-an persen anggaran APBN itu hanya belanja rutin. Itu sebagaian besar untuk membiayai apparatus, ya, termasuk kau itu. Sedangkan belanja modal, yang menyangkut pembangunan, hanya 12-an persen. Kalau dasarnya kalian adalah pengabdian, maka tak perlu kinerja kalian menyedot sebegitu besar uang negara. Bukankah ajaran moril para pendiri bangsa mengatakan, kalau rakyat kenyang, biarlah para abdi negara kenyang belakangan. Kalau rakyat lapar, maka biarkanlah para abdi negara lapar duluan.”

Bonar benar-benar terpojok. Ia sama sekali tak punya jurus untuk menangkis penjelasan Diana. Di benaknya muncul gugatan: “Hei, Bonar, jangan kau pongah dengan seragammu itu, apalagi pangkatmu itu, tidakkah kau ingat bahwa kebanyakan koruptor di negeri ini adalah orang-orang berseragam dan berpangkat.”

Diana terus berceramah. Ia bilang, banyak orang berseragam hidup bak menara gading, terpisah jauh dengan rakyatnya. Anehnya, dia menambahi, mereka merasa status-sosialnya jauh di atas rakyat kebanyakan. Alih-alih menjadi abdi negara, terhadap rakyat saja mereka sengaja membuat jarak.

Ia juga bercerita, priyayi-priyayi di masa lalu begitu bangga menjadi ambtenar-ambtenar di administrasi kolonial. Pramoedya Ananat Toer menggambarkan watak mereka: beku, rakus, gila hormat, dan korup.

Badan Bonar makin lemas. Bukannya berhasil menaklukkan hati sang gadis di depannya, malahan kepercayaan dirinya yang diruntuhkan. Ia seakan kembali ke masa silam: masa ia membangun cita-citanya. Dia akhirnya memejamkan mata dan berdoa: semoga sejam lagi sudah sampai ditujuan.

Pasar Minggu, 19 Oktober 2012

Aji Prasetyo ([email protected])

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Mang Sandi

    hahahahha dimodifikasi dari Bonar ke Boni.
    “Dia akhirnya memejamkan mata dan berdoa: semoga sejam lagi sudah sampai ditujuan”…hahahahahhaha
    bagus bgt nih cerpen, kreatif, serius, komedi, renyah dibaca, perlawanan kaum cw, dll
    Keren…abis!!!