Cerpen: Menanti Burung Camar

Di puncak bukit, di jalan itu aku berhenti. Ini pertengahan musim hujan, tapi langit sedang membiru. Awan hanya tipis menyapu, tanpa ancaman akan jatuhkan hujan. Bila di musim panas, bukit dan lembah ini sekedar tumpukan batu gersang berselimut debu. Setiap gundukan bukit hanya berteman sebatang pohon yang kering. Selain itu, di mana-mana hanya ada warna coklat, dan hitam.

Sebaliknya, di musim ini, air hujan memangsa debu dan kerikil, kemudian muntahkan lumpur hitam berbau kehidupan. Wajah bumi yang muram pun perlahan menjadi gembira. Akar-akar rumput tumbuh menjadi daun, mengepung batuan di bukit, hingga batu-batu hitam itu menghijau tanpa daya. Lain lagi di lembah. Biji bunga-bunga nirwana menyudahi kesunyian warna di musim panas. Mereka bergerombol di suatu tempat, dan kadang menyembul keluar di antara batang rumput; menjadi riasan kuning, ungu, dan merah, di atas hijau semak belukar. Mereka tumbuh menanjak setinggi lutut, dan jauh menghampar seluas mata menangkap. Setiap batang menata sedemikian elok, melebihi mewahnya jubah beludru milik ratu di Eropa. Mataku tak mau berkedip, hingga keindahan yang nikmat ini mengalir puaskan hati. Sepuas-puasnya, dari semua sumber yang bisa dirasa. Dari bukit, dari langit, dari awan, dari lembah, dari batu, dari rumput, dari ranting, dari tangkai, dari bunga; dari putik-putiknya, dari setiap kelopaknya yang bergerak membuka; tadahkan tubuh pada mentari.

Sebelum hati melarutkan waktu, aku ingatkan kaki sendiri untuk kembali beranjak. Kali ini aku harus menuju pantai. Terbatasnya waktu selalu jadi belenggu bagi kesenangan. Tapi, tak apa… Karena akan sangat menjemukan juga, bila waktu tak punya batas. Tak akan ada kesenangan, tak ada sejarah, dan tak ada kenangan. Dan pantai yang kutuju adalah kenangan yang menunggu. Sesungguhnya, tak pernah kulihat pantai itu dengan mata sendiri. Aku hanya mengenangnya dalam cerita legenda yang sering kudengar. Tempat itu terletak di balik bukit-bukit yang berbaris, tempat matahari sembunyikan diri. Pantai berpasir memanjang, yang terapit sepasang tanjung. Terbayang, jika ia dipotret dari angkasa, akan terlukis bulatan coklat kehitaman yang meliuk-liuk, seperti raksasa likusaen[*]. Di sini aku rasa sengatan bau amis lautan. Dan terutama, sengatan bau orang-orang pantai.

Konon, ratusan tahun yang lalu, pantai ini menjadi tempat orang-orang berkumpul, sambil menanti datangnya kapal-kapal para saudagar. Pantai ini adalah tempat menggunungnya ribuan pikul akar cendana, yang dijual raja-raja Timor kepada saudagar berbagai bangsa; Arab, India, Jawa, Bugis, Tiongkok, sampai Portugis dan Belanda. Beratus-ratus tahun lamanya, beratus-ratus kapal yang dinanti singgah kemari. Selir-selir sering duduk di sekitar sini, menanti tuannya yang akan berjual-beli. Lalu orang berbagai bangsa itu, dari masa ke masa, turun ke daratan. Mereka membawa sedikit barang dan pencerahan, sambil menguras tanah berbatu, tempat semua suku di pulau ini menuai kehidupan. Di daratan ini mereka saling bertukar segala sesuatu yang dibutuhkan. Madu ditukar dengan kain lenan atau keramik, cendana dengan emas, sarang lebah dengan senapan; dan juga, budak-budak dengan koin piaster[†]. Di pantai ini, tahun 1613, kapal Half Moon milik Apollonius Schotte penuh diisi cendana atas perintah raja Insana. Sebagai gantinya, Schotte membiayai pembangunan sebuah pelabuhan kayu, yang dipakai beratus-ratus tahun lamanya.

Sekarang, di tahun ini, kembali kutelusuri tanah yang sudah bergerak dan berubah. Tiada lagi ditemukan bekas pendaratan Half Moon, ataupun jejak kaki Schotte. Sepintas aku bertanya dalam hati; “Apakah Schotte beranak-pinak di sini, seperti Jan de Hornay, si pembelot Belanda, yang menikahi seorang budak Timor di Larantuka? Atau seperti si ahli perang, Da Costa, yang kemudian diangkat menjadi fetor[‡] NoEmuti?” Aku tak tahu. Mitos tentang Schotte pun tiada bersisa. Yang masih tersisa hanyalah jejak Antonio de Sao Jacinto, Vikaris Jenderal Dominican dari Solor. Tiga ratus enam puluh lima tahun lalu, ia tanam ‘simpati kristiani’ kepada rakyat Insana, tak lama setelah mereka disakiti oleh serangan tujuh ribu pasukan Sultan Talo dari Salebes ‘yang muslim’. Jacinto mendarat 365 tahun yang lalu. Namun ia masih tinggalkan bekas, berbentuk kembang-kembang gereja. Semua kembang ini dipersembahkan bagai pilar, yang turut menopang takhta Vatikan.

***

Sepanjang jalan terlalui, rumah-rumah beratap daun masih berbaris memunggungi pantai. Rumah-rumah ini adalah tempat bernaung orang-orang pantai. Turun-temurun mereka huni, bersama debur ombak yang bisa kau jumpai di setiap biliknya. Juga akrab dengan merdunya siulan angin laut, yang menembus setiap celah dinding berbahan pelepah lontar.

Aku terus berlalu, dan berbelok ke arah laut. Di sini kujumpai belasan orang yang duduk di pinggir pantai. Mereka bukan sedang menanti kapal dari berbagai bangsa yang akan menepi, atau menanti layar tergulung, seperti kejadian ratusan tahun yang lampau. Tak ada lagi kapal yang singgah di pantai ini. Orang-orang ini hanya menanti burung camar, yang akan memberi tanda datangnya sejumput rejeki. Mata mereka tertuju ke angkasa yang terpampang di atas lautan lepas. Kadang mata mengarah ke bawah, untuk menangkap lintasan bayangan hitam pada permukaan laut. Sekilas menatap, sudah bisa kau resap harapan-harapan dari hati mereka.

Aku hampiri mereka, dengan landasan persahabatan. Dan mereka menerima itu, dengan sikap sopan orang desa terhadap tamunya. Tidak berlebihan, karena sikap sopan itu ditunjukkan dengan cara yang samar. Tak ada badan yang dibungkukkan, saat menjawab tegur sapa. Kebiasaan itu tak berlaku di sini; dan memang, seharusnya tidak. Badan membungkuk adalah penampakan dari hati yang tertindas; jika bukan hati yang munafik. Mereka tidak sedang ditindas olehku. Juga tidak sedang sembunyikan niat menjilat, dengan pura-pura menghormat.

Aku duduk di samping seorang lelaki berusia empat puluhan. Tubuhnya tegap berotot, dengan kulit hitam mengkilat. Bajunya adalah kaos tipis dan lusuh, bergambar lambang partai politik yang menang di daerah ini pada pemilu lalu. Celana yang ia pakai aslinya adalah celana panjang berbahan halus, yang sekarang sudah kusam dan terpotong sebatas lutut. Aku buka percakapan, dengan pertanyaan yang sudah kutahu jawabannya;

“Menanti burung camar, Om?”

“Yah, ini yang sehari-hari kami lakukan…”

“Perahu dan jala siapa, yang akan dipakai?”

“Bos Lambert. Itu perahunya. Tapi orangnya masih di rumah,” orang itu menunjuk sebuah perahu berukuran sedang. Perahu itu mengapung di pantai, dengan tambang tertambat pada sebatang kayu. Panjangnya sekitar delapan meter, lebar satu setengah meter, dengan sepasang sayap sebagai penyeimbang. Tambangnya kadang tertarik, kadang terulur, ikuti arus gelombang yang bergerak mendekat dan menjauh.

***

Tak lama berlalu, burung camar yang ditunggu muncul di kejauhan, seperti titik-titik putih yang bergerak perlahan. Berseling sekejap, bayangan hitam melintas di atas hamparan laut. Ugh…! Burung camar dan bayangan hitam. Mereka seperti sejoli yang berkencan tak kenal waktu. Mereka adalah perantara bagi angkasa yang sepi, dan lautan yang ramai. Kalau ada bayangan hitam, maka akan muncul burung camar. Kalau ada burung camar, maka akan muncul bayangan hitam.

Camar-camar sudah mendekat, tetap mengencani bayangan hitam. Empat pasang sayap putih menari melambai-lambai. Seolah sedang memanggil orang-orang pantai sambil menitip bisikan, lewat angin; “Ssst.. mari kalian, makhluk daratan! Mari kita pesta bersama. Makhluk lautan sudah terhidang. Kami, makhluk angkasa, tak akan sanggup berpesta sendirian, karena makhluk lautan itu terlalu berlimpah.” Tiada menunggu lebih lama, dua orang pantai membebaskan perahu dari ikatan, lalu memburu bayangan hitam di tengah lautan. Mereka mengurai jala ke dalam gelombang. Sampai makhluk-makhluk lautan itu terkepung dalam uraian jala berbentuk setengah lingkaran. Lengkungan jala sepanjang dua kilometer itu hilang tenggelam. Hanya dua ujungnya yang tampak di daratan. Ujung yang satu di sebelah timur, yang satu lagi di barat. Aku berdiri di tengah-tengahnya. Semua orang sudah merapat ke pantai, berkumpul di kedua ujung jala, dan mulai menariknya. Semua turut bekerja. Laki-laki, perempuan, tua, muda, sampai anak-anak beranjak remaja. Hanya beberapa bocah ingusan yang terlihat sedang bermain dengan ombak, sambil pamerkan tubuh bugil mereka.

Jengkal demi jengkal jala ditarik. Jengkal demi jengkal ikan-ikan mendekat; menjadi rejeki. Jengkal demi jengkal burung camar mendekat; menjadi sekutu. Satu setengah jam jala mereka tarik, masih separuh lagi panjang jala yang terendam dalam lautan. Kaki orang-orang pantai sudah amblas membenam ke dalam pasir. Otot mereka menyembul, berisi kelelahan dan ketabahan. Kulit mereka menebal, dilapisi cemar sinar ultra-violet bercampur uap air garam—oleh-oleh pemberian angin laut.

***

Terasa begitu lama menunggu. Kapan kiranya, makhluk lautan akan berjingkrak di atas pasir, di dalam jala. Tak sabar kunanti, berubahnya wajah-wajah kelelahan berganti girang, demi melihat tumpukan rejeki yang sekarat—ikan-ikan yang mengejang, karena tak bisa bernafas. Tak sabar menanti, hingga perhatianku beralih pada seorang perempuan tua di kejauhan. Ia muncul dari seonggok gubuk, lalu berjalan mendekat di atas pasir, menyusuri pantai. Pada tangan kurusnya bergantung sebuah ko’e[§] kecil, yang mulai koyak. Sesekali ombak berbuih datang menjilat kakinya, sekaligus lunturkan jejak yang ia tinggalkan di atas pasir. Mirip usilnya si waktu yang melunturkan jejak Apollonius Schotte. Ketika ombak pergi menjauh, perempuan ini jejakkan lagi kakinya. Seolah ia tengah menantang ombak, yang sedemikian lancang lunturkan jejaknya. Berulang kali seperti itu. Tiada lelah ombak melunturkan jejaknya, dan tiada lelah pula ia kembali mengukir bentuk kakinya pada pasir. Sebagian rambutnya yang kriting berwarna kemerahan terikat ke belakang. Rambut bagian depan tidak terikat, sehingga bebas bergoyang tertiup angin, seperti barisan pohon kurus kering di tengah badai. Dadanya keriput menggantung, tiada utuh tertutupi. Yah…, siapa peduli pada rambut keriting kemerahan. Rambut kemerahan adalah bukti kesetiaannya menyambut matahari, sejak pagi hingga petang. Siapa juga yang peduli pada dadanya yang keriput menggantung. Karena di sana tempat bayi-bayi manusia didekap, untuk memulai kehidupannya di atas bumi yang penuh kemelaratan. Yah…, ia tak peduli. Dalam hati perempuan ini hanya ada hasrat untuk bekerja. Membiarkan sinar matahari legamkan kulitnya, dan butiran pasir semakin banyak menempel di sekujur kakinya.

Perempuan itu telah bersama gerombolan orang-orang pantai di ujung jala. Ia turut menarik jala yang berat, meski peran tenaganya tak terlalu penting di antara orang-orang yang masih berotot. Apa yang ia andalkan adalah kedua tangan yang mulai rapuh, dan barisan tulang belakang yang melengkung seperti busur panah. Tak berani aku tanyakan, kenapa ia masih mau bekerja. Pertanyaan seperti itu adalah penghinaan paling besar. Karena ia akan terjemahkan sendiri pertanyaan itu menurut nalurinya. Jika mulutmu keluarkan bunyi, “Kenapa masih mau bekerja, Nek?”, maka yang tertangkap telinganya adalah, “Kau tak perlu lagi bekerja, perempuan tua!” Ia pasti marah jika dilarang bekerja. Bukan karena kesepian, jika tidak bekerja. Tapi kehidupan mengajarkan padanya, bahwa bekerja adalah kehidupan itu sendiri. Karena si maling ayam saja ‘masih bekerja’ untuk bertahan hidup.

***

Gerombolan ikan-ikan yang terjaring sudah mendekat, dan burung camar semakin banyak melayang sambil bernyanyi. Bergantian mereka menukik dan menyambar ke dalam air, memilih mangsa yang diinginkan. Ikan yang terkepung jala, memudahkan mereka memlih mangsa. Sorak-sorai orang-orang pantai makin sering terdengar sebagai selingan, menjawab debur ombak dan deru angin laut. Sebagian di antara mereka mulai memungut satu-satu ikan yang tak punya cara selamatkan diri, sehingga malah berenang menuju daratan. Masing-masing orang melempar ikan ke arah ko’e miliknya. Tak dibiarkan seekor pun menjalani hidup sejenak lebih lama. Nasib setiap ekor adalah tambahan sedikit rupiah bagi kepulan asap di dapur mereka.

Perempuan tua itu turut memungut ikan-ikan, sambil terus membawa ko’enya. Perlahan. Di antara orang-orang berotot yang lebih gesit memungut dan melempar. Tapi, tiada tampak mereka saling berebutan. Karena mereka tidak pernah diajarkan menjadi serakah, dalam bekerja. Hanya orang-orang yang masih setia menarik jala yang kerap memarahi mereka, karena beban jala terasa kian berat saat kumpulan ikan kian mendekat. Mereka butuh bala bantuan.

Sekarang ikan-ikan sudah tampak menyembul di permukaan air yang dangkal. Berbagai jenis saling menumpuk dalam satu gerombolan; dan dalam satu nasib. Sekonyong-konyong muncul seorang lelaki kurus dengan topi cowboy yang kebesaran di kepalanya. Lelaki ini berteriak-teriak memberi perintah. Kerap tangannya memukul pantat orang-orang itu, karena dianggap tidak becus mengatur jala, sehingga beberapa ekor ikan berhasil lolos. Aku pastikan bahwa inilah Bos Lambert, si pemilik perahu dan jala, yang dikatakan lelaki tadi. Matanya tertuju pada gerombolan ikan. Coba-coba menghitung, seberapa besar tangkapan hari ini. Ia tak peduli pada camar di atasnya, yang semakin banyak mengintai, dan semakin keras memekik. Seperti sedang berterimakasih, atas kerjasama yang saling menguntungkan itu.

Ikan-ikan sudah tidak berkutik. Mereka sudah diseret ke atas pasir, dalam buntelan jala. Sekarang mereka berpisah dari ombak, berpisah dari lautan tempat mereka hidup sebelumnya. Beberapa ekor masih berjingkrak, dan mengejang, sampai terdiam. Tinggal insang-insangnya yang membuka dan menutup, mencari sedikit nafas. Orang-orang pantai pun terengah-engah, sambil berdiri mengelilingi tumpukan makhluk laut itu.

Empat orang lelaki membawa tiga buah ko’e besar untuk mengukur jumlah tangkapan. Lebih dari seratus ekor ikan parang, dua ratus ekor kombong, serta seribuan ekor tembang, bening, dan cucut. Tiga ko’e besar terisi penuh. Dan semua itu adalah milik Bos Lambert. Sebentar lagi ikan-ikan itu akan diantar ke pasar-pasar di kota, menggunakan sebuah pick-up miliknya. Orang-orang pantai itu akan diberi uang, sesuai hasil penjualan di kota.

Perempuan tua yang tadi sibuk memungut, sekarang telah duduk menghitung ikan bening di dalam ko’enya. Ikan bening yang tertangkap rata-rata sebesar jari telunjuk orang dewasa. Mungkin karena dagingnya yang tipis dan tembus pandang, sehingga ia dinamakan ‘bening’. Ikan-ikan itu biasanya langsung dijual saat itu juga, jika ada yang mau membeli. Aku tergerak untuk menghampiri, dengan keingintahuan; seberapa banyak ikan yang berhasil dipungutnya.

“Dapat banyak, Nek?” aku bertanya, sambil berjongkok di dekatnya.

Perempuan itu tidak menjawab. Hanya sekilas ia menoleh ke arahku, kemudian lanjut menghitung ikan-ikannya. Ko’e kecilnya terisi tidak sampai setengah bagian. Mungkin sekitar lima puluh ekor.

“Berapa harganya? Saya ingin beli,” aku kehabisan cara untuk memancing pembicaraan, sehingga langsung mengarah pada transaksi jual-beli. Perempuan itu masih tidak menjawab.

Tiba-tiba seorang gadis menghampiri kami. Usianya sekitar lima belas tahun. Bentuk tulang wajahnya mirip dengan perempuan tua di depanku. Rambutnya juga keriting memerah, dengan kulit kuning kemerahan terbakar panasnya pantai. Ia bicara kepada perempuan tua itu dengan bahasa daerah, sehingga baru menyadarkan aku, rupanya perempuan tua itu tak mengerti bahasa yang kupakai tadi. Ia memanggil perempuan tua itu dengan sebutan “bei”, yang berarti nenek. Tak lain, ia adalah cucu dari perempuan tua itu. Mereka berbicara sesaat, kemudian gadis remaja itu berkata padaku;

“Dua puluh, seribu. Itu sudah murah, karena kami hanya menangkap sedikit hari ini,” gadis itu menjelaskan panjang lebar, khawatir aku akan menawar lagi menjadi lebih murah.

“Saya beli semua. Tolong dihitung…,” sahutku.

Setelah dihitung, jumlahnya lima puluh lima ekor. Aku menyerahkan tiga ribu rupiah kepada perempuan tua itu, tanpa meminta kembalian. Bukan untuk mengasihani, tapi semata tak ingin merepotkan. Aku tahu, tak banyak uang yang dia punya. Tidak untuk membeli sebungkus sampo untuk menguras uap garam yang puluhan tahun meresap di rambutnya, apalagi sepotong baju ganti penutup tubuhnya. Tapi jelas, mereka bukan pengemis.

Aku berlalu dari mereka, tanpa berkata-kata. Menjauh dari kerumunan orang-orang pantai, yang masih menekuri ko’e-ko’e besar dipenuhi ikan. Ketika ko’e-ko’e itu diangkat ke atas pick-up di pinggir jalan raya, wajah-wajah lesu beralih memandang lautan. Mereka sadar, ikan-ikan itu bukan punya mereka. Yang mereka punya hanya otot-otot untuk menarik jala, dan sebuah ko’e kecil untuk mengisi beberapa ekor ikan bening. Yang mereka punya hanya kesabaran, menanti kembalinya burung camar keesokan harinya. Aku menjauh dari mereka, karena ketiadaan daya memberi selipat harapan akan kehidupan mereka yang lebih baik; perahu bersama, jala milik bersama, membagi hasil bersama.

Sementara burung-burung camar pun sudah pergi, setelah mengucapkan sayonara; kepada kemiskinan orang-orang pantai.

***

Matahari bergerak turun, lalu menjauh. Aku pun pulang. Menapaki jalan yang pernah dilalui raja-raja dari selatan, yang datang ke pantai untuk menjual akar-akar cendana, menjual sarang lebah untuk bahan lilin, menjual madunya, ratusan tahun yang lampau. Aku menapaki lagi, jalan yang pernah dilewati oleh jiwa-jiwa terjual, untuk menjadi budak pekerja pada kebun pala milik kompeni di kepulauan Banda; atau menjadi babu di Batavia, sampai ke Macau di daratan Tiongkok; atau sebagai hadiah dari para pelaut buat pembesarnya di negeri Belanda. Aku lewati lagi, lembah berbunga nirwana yang kelopak-kelopaknya telah menutup, seperti menutup sejarah bagi hinanya perbudakan di tanah leluhur ini. Dan besok pagi mereka akan membuka lagi, membebaskan madunya terenggut lebah, memberi harapan bagi orang-orang pantai untuk merebut kesejahteraannya.

PERCIK ([email protected])


[*] Ular piton, dalam bahasa tetun.

[†] Uang logam bernilai 1/100 pound. Biasa digunakan di negeri-negeri Timur Tengah dekat Eropa, dan Afrika Utara.

[‡] Fetor; raja setingkat kecamatan di Timor.

[§] Sejenis bakul yang terbuat dari anyaman daun gewang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut