Cerpen: Berorganisasi Dan Berlawanlah!

Akhirnya kantor Kepala Desa, simbol dari segala angkara murka, berhasil dikuasai penduduk desa. Mereka, laki-laki dan perempuan, bersorak-sorai bak pahlawan yang baru saja meraih kemenangan.

Ya, siang itu, di desa Panujang, sebuah kemarahan telah berbuah “penggulingan kekuasaan”. Pariman, sang Kepala Desa, baru saja digiring ke penjara dengan kawalan empat anggota Polisi. Ia dituding telah “mengkorup” dana bantuan desa dan menjual secara sepihak tanah milik warga desa.

Pariman ini dulu lulusan ilmu politik di universitas terkemuka. Begitu lulus, dengan memanfaatkan status bapaknya yang seorang Kepala Desa, ia bekerja di kantor desa. Lama-kelamaan ia ditunjuk sebagai Kepala Desa. Baginya, kepala desa sudah seperti jabatan turun-temurun.

Pariman, yang banyak belajar “kenakalan” di kota sewaktu kuliah, jatuh cinta pada seorang bunga desa. Namanya Fatima. Banyak pemuda desa yang rela bertekuk lutut dihadapan wanita ini. Kecantikannya, juga tutur bahasanya yang halus, tak ada bandingannya di desa Panunjang dan sekitarnya.

Tetapi Fatima sudah punya kekasih: Tarkam. Ia seorang pemuda desa yang dikenal ahli silat dan pemabok. Kenapa Fatima suka pada pemuda ini? Entahlah, paling-paling jawabannya: ini soal perasaan.

Pariman, dengan posisi politiknya, berusaha merampas Fatima dari tangan Tarkam. Disusunlah siasat licik: dikirimlah sebungkus narkoba di tempat ‘nongkrong’ Tarkam dan kawan-kawannya. Saat itu, saat Tarkam dan kawan-kawannya sedang berpesta arak kampung, polisi datang menggerebek. Narkoba itu ditemukan di lokasi, dan segera dijadikan “barang bukti”. Tarkam dan kawannya dipaksa menjadi penghuni Hotel Prodeo selama bertahun-tahun.

Pada saat itulah Pariman beraksi bak pahlawan. Ia segera berkampanye: “ya, saudara-saudara, desa kita sudah bersih dari pemuda tukang onar. Pemuda-pemuda pemabuk, yang tak berguna itu, memang pantas tinggal di penjara.”

Pariman berhasil mempersunting Fatima. Selangkah cita-cita Pariman tercapai! Ia merasa dirinya sebagai sang pemenang!

Tapi cerita belum berakhir. Pada suatu hari, datanglah pengusaha sawit dari kota. Boy, nama pengusaha itu, ingin membuka kebun di Panunjang. Dengan kekuatan modalnya, ia menjadikan Pariman sebagai alat untuk mencapai tujuannya.

Pariman adalah tipe birokrat yang tak tahan dengan godaan kemewahan. Mimpinya punya mobil mewah, rumah mewah, naik haji bersama istrinya, dan menikmati gemerlap kota Singapura tiap 6 bulan, membuatnya “gelap mata”. Dengan segala kelicikan yang dipunyainya, ia minta warga mengumpulkan semua sertifikat tanahnya. Katanya, ada kebijakan pemerintah pusat untuk memperbarui surat sertifikat itu. Penduduk desa yang sebagian besar buta huruf dan buta informasi itu, hanya menuruti.

Singkat cerita, sertifikat itu dijual ke Boy. Lalu, supaya tak diamuk warga, Pariman memberi uang ke warga sebagai “uang tunggu”. Ia meyakinkan, berhubung sedang musim kemarau, maka tanah itu disewakan sementara saja. Paling-paling enam bulan, katanya. Nah, uang yang diterima itu hanya bonus menunggu. Penduduk desa percaya saja.

Tak berselang lama, sawit pun mulai ditanam. Alangkah kagetnya penduduk desa saat mengetahui hal itu. Mereka pun melakukan protes. Pariman memanggil Polisi dan Koramil untuk memadamkan protes itu. Satu per satu petani ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Tuduhannya: menyerobot tanah milik Boy. Rupanya, tanda-tangan penduduk desa pun sudah dipalsukan untuk jual-beli tanah dengan pengusaha. Oh, jaman modern, kenapa masih kau sisakan praktek kolonial ini?

Perlawanan pun redam. Saat itulah Tarkam dan kawan-kawannya sudah keluar dari penjara. Betapa kagetnya ia ketika mengetahui tanah garapan orang tuanya sudah berubah menjadi kebun sawit. Darahnya mendidih. Tapi, pada saat itu ia terkenang cerita kawan barunya di penjara. Kawannya itu, seorang aktivis kiri, mengatakan, keahlian silat dan keberanian saja tak cukup untuk dijadikan modal perlawanan.

Kata aktivis itu, di jaman modern ini, dengan musuh yang juga terorganisasi secara modern, diperlukan alat perlawanan modern. “Ya, alat perlawanan modern itu adalah pengetahuan, organisasi, dan peralatan modern,” kata si aktivis kiri itu.

“Pengetahuan modern adalah ilmu untuk mengenal keadaan dan hukum-hukum yang menggerakkannya,” kata si aktivis itu menerangkan. “Dengan begitu, kau akan tahu seluk-beluk ketertindasan rakyatmu. Kau juga akan menemukan jalan paling tepat untuk mengatasinya.”

Aktivis pengagum Soekarno itu, yang berwajah bundar itu, menghisap rokok dalam-dalam, kemudian melanjutkan, “kau juga harus membangun organisasi. Dengan berorganisasi, kekuatan perorangan akan digabungkan dengan banyak orang dan bakalan menjadi sebuah kekuatan besar. Gabungan orang itu akan menjadi raksasa.”

Lalu, katanya, organisasi perlu peralatan modern untuk berbicara kepada orang banyak guna membangkitkan perlawanan. Ya, itulah Koran propaganda. Dengan Koran itu, katanya, kita punya mulut untuk berbicara kepada banyak orang, menyampaikan keinginan-keinginan kita, bahkan tuntutan kita.

Tarkam menjadi murid tak resmi aktivis kiri itu. Sekeluarnya dari penjara, dipraktekannya ilmu yang didapat dari gurunya itu. Awalnya, ia mengumpulkan pemuda-pemuda kampung. Kemudian dibangunlah sebuah organisasi pemuda: Pemuda Rakyat.

Organisasi pemuda itu bergerak. Dengan Koran, juga melalui radio kampung, Tarkam bercerita tentang penipuan kepala desa. Ia meyakinkan, praktek jual-beli antara penduduk desa dan pengusaha itu tidaklah sah alias illegal.

Tapi, siapa yang mau percaya dengan pemuda kampung tak lulus sekolah itu? Sudah begitu, cap pemabuk melekat pada si Tarkam. Namun, Tarkam tak putus asa. Ia laporkan kejadian ini pada lembaga bantuan hukum. Lalu, dipanggilnya pengacara lembaga hukum untuk berbicara pada warga. Ya, usaha itu membuahkan hasil.

Aksi massa mulai digelar di kantor desa. Tak cukup dengan aksi massa, dikumpulkanlah pernyataan tertulis penduduk bahwa mereka tak pernah menjual tanah. Tarkam dan penduduk desa juga melaporkan kejadian ini ke Polisi. Awalnya, polisi bertindak acuh tak acuh. Tapi, gara-gara kantornya terus-menerus dikepung penduduk desa, maka polisi pun mulai mengusut kasus itu. Suara perlawanan makin kuat.

Pariman, yang sedang asyik berlibur dengan istrinya di Singapura, tak menyadari berkobarnya api perlawanan itu. SMS silih berganti masuk ponselnya. “Pak, situasi makin gawat, sudah berhari-hari kantor desa dikuasai warga,” begitu bunyi salah satu diantara pesan singkat itu. Alangkah kagetnya Pariman.

Ia pun segera pulang. Istrinya, yang sejak awal memang kekasih Tarkam itu, malah berpihak pada penduduk desa. Perempuan pujaan hati para pemuda desa itu segera membuka kedok suaminya. Ia bahkan membuat laporan ke polisi. Tamatlah sudah riwayat si Pariman.

Suatu hari, sekelompok warga dan pemuda desa menyeret paksa Pariman keluar dari rumahnya. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos putih, Pariman diseret ke kantor desa. Beruntung, polisi datang dan segera mengamankannya. Kalau tidak, mungkin Pariman sudah masuk ke liang lahat. Ia kemudian digiring ke penjara.

Mendengar kabar Pariman sudah dipenjara, si pengusaha pun segera menghilang entah kemana. Ia meninggalkan sawitnya yang berumur 3 tahun lebih. Sedangkan Fatima, yang dituding bersekongkol dan menikmati kejahatan suaminya, harus menerima hukuman nasib: dipenjara 1 tahun lebih.

Tarkam sendiri memilih ke kota untuk menemui gurunya. Ia memilih menjadi anggota organisasi kiri dan berjuang. Kepada setiap orang-orang tertindas, ia selalu berpesan: berorganisasi dan berlawanlah!

Pasar Minggu, 29 September 2012

Aji Prasetyo ([email protected])

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • TAN EL

    Jadi kembali ingat jaman Lekra, Cerita Rakyat-Bahsa Pasar.hhee
    AYO!