Cerpen: Abu Syik Dan Kereta Api

Abu Syik [1]berdiri menghadap jalan raya. Ia memandangi bengkolan jalan di hadapannya dengan tatapan kosong. Matanya nyaris tak berkedip. Berbagai macam kendaraan yang lewat di depannya, tak sedikitpun membuat ia buyar. Ia tampak gusar. Sesekali ia menyibak ubannya seraya mengernyitkan dahi.

“Yakop, kemarilah, Nak,” panggilnya, setelah beberapa menit berdiri kaku di pinggir jalan—seperti pengemis.

“Iya, Abu Syik, ada apa?”

Abu Syik tak menyahut pertanyaanku. Ia memutar badannya dan menghampiriku. Lalu, aku diajaknya duduk di kedai kopi, di samping mesjid, tepatnya di pinggir jalan Nasional: Banda Aceh-Medan. Kami duduk berhadap-hadapan. Abu Syik memesan kopi, sedangkan aku pesan soft drink.

Sigli. Sebuah kota kecil, ibu kota Kabupaten Pidie. Jika dihitung dengan  jarum jam, jarak tempuh dari Sigli ke Banda Aceh, hanya memakan waktu dua jam. Untuk bisa sampai ke Sigli dari kediaman keluarga besar kami di Chow Kit[2], sekurang-kurangnya kami menghabiskan waktu seharian.

Tiga hari yang lalu, pagi-pagi benar, kami berangkat dari Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur. Dan kami menginjakkan kaki di bumi Iskandar Muda. Inilah pertama kalinya aku menghirup udara di tanah kelahiran Abu Syik. Abu Syik mengajakku pulang bersamanya untuk bersilaturahmi dengan sisa-sisa keluarganya yang telah puluhan tahun berpisah dengannya.

Di sebuah desa, yang tak jauh dari tempat kami bersantai sekarang, di sanalah kami akan menetap selama sepekan. Abu Syik  punya sanak keluarga di Sigli. Tentu itu yang membuat kami tak terlalu ambil pusing mengenai tempat tinggal.

Abu Syik seperti mendengar suara mesin uap kereta api,” katanya, sambil menyerumput kopi yang masih panas.

“Tak ada rel kereta api di sini, Abu Syik,” sanggahku.

Abu Syik tersenyum tipis. Aku penasaran dibuatnya. Bagiku Abu Syik memang sosok yang misterius. Ia kadang-kadang menggunakan istilah-istilah dan isyarat-isyarat tertentu ketika hendak berkomunikasi denganku. Seperti ada momok menakutkan  jika ia tak mengontrol setiap ucapannya. Kata per-kata yang keluar dari mulutnya, diseleksi dengan sangat ketat.

Telah banyak yang ia ceritakan tentang Aceh. Dari semua cerita Abu Syik, aku berkesimpulan bahwa Aceh selalu dirudung perang besar sepanjang zaman. Hal itu kutafsirkan dari hikayat-hikayat yang diceritakan Abu Syik padaku. Misalnya Hikayat Malem Dagang, yang menceritakan tentang kegagahan Panglima Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda di masa memerangi Portugis, di Selat Malaka. Kemudian  Hikayat Prang Sabi, yang mampu membakar semangat juang orang-orang Aceh melawan Belanda.

Abu Syik kembali melemparkan matanya ke jalan raya. “Yakop, dulu tiga baris rel membentang di hadapan kita. Sigli punya stasiun kereta api yang besar dulu.”

Abu Syik menceritakan tentang kereta api selama 20 menit. Kata dia, ada tiga rute  keberangkatan di stasiun Kota Sigli, yaitu Sigli-Banda Aceh, dengan kereta api cepat atau sneltrain; Sigli-Lameulo, dan Sigli-Padang Tiji, dengan kereta biasa.

“Tiap jam satu siang, stasiun di sini dulunya sesak dengan penumpang,” ujar Abu Syik. “Abu Syik selalu tergiang  Aceh meskipun berada di rantau orang. Kau tahu, Nak, keindahan alam yang tiada tara terbentang sepanjang mata memandang jika saja kau dulu berpergian ke Banda Aceh dengan kereta api. Engkau akan melewati rimba Seulawah, dan matamu akan dihibur oleh hijaunya hutan. Aliran sungai yang berputar-putar, terlihat begitu elok di bawah sana.  Kruëng peuët ploh peuët[3], jembatan atau rel kereta api yang kemegahannya tak bisa Abu Syik lupakan hingga sekarang, di sanalah kau akan takjub jika saja kau pernah melihatnya. Sayang, sekarang tak ada lagi kereta api di Aceh. Bekas atau sisa-sisa keberadaan kereta api pun tak ada. Tapi semua tentangnya tersimpan di dalam memori Abu Syik.”

Abu Syik, bolehkah Yakop bertanya? Mengapa Abu Syik memilih meninggalkan Aceh?”

Ia mendeham pelan usai mendengar pertanyaanku.

Senyumnya mengembang, ia menjawab: “Abu Syik dituduh orang-orang yang mengingkari esensi dan eksistensi Tuhan. Padahal Abu Syik dan kerabat Abu Syik hanya berbicara tentang revolusi. Kami menentang kapitalis. Kami ingin menghapuskan penghisapan oleh manusia di atas manusia. Indonesia harus berdikari! Kami ingin mewujudkan tatanan masyarakat sosialis, di mana seluruh rakyat berhak mendapatkan sandang dan pangan yang cukup, pendidikan yang layak, dan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Karena Abu Syik PKI, Abu Syik harus meninggalkan Aceh.”

Mata Abu Syik berkaca-kaca. Abu Syik dengan bisik-bisik mengatakan padaku ia adalah salah satu kader Partai Komunis Indonesia. Pada awal 1960-an, cerita Abu Syik, PKI mulai mengepakkan sayap di Aceh. Partai tersebut mulai mendapatkan simpatisan hingga ribuan sebelum semuanya tampak buruk pada tahun 1965. Ketika kabar tentang pembunuhan tujuh jenderal di Pulau Jawa, tersiar hingga ke Aceh, maka munculah petaka yang maha dahsyat. PKI dituduh sebagai dalang dari penculikan dan pembunuhan tersebut.

“Nak, 3 Oktober 1965, kami mulai dimusuhi. Semua elemen masyarakat Aceh menghalalkan darah kami. Entah hukum mana yang membenarkan tindakan sedemikian. Karena mendapati situasi yang sudah tak aman lagi, kami mencari perlindungan di berbagai tempat. Kawan-kawan Abu Syik yang komunis takut difitnah dan mati konyol. Pada suatu sore, kawan-kawan Abu Syik berbondong-bondong pergi Banda Aceh dengan kereta api.”

Suara Abu Syik terdengar parau.

Abu… masih ingat lambaian tangan mereka. Kata mereka, mereka ingin ke markas tentara, di Mata Ie. Tapi…  Abu Syik dapati kabar bahwa mereka dikumpulkan di Dodiklat, tempat Pendidikan dan latihan milter, di Mata Ie. Dan kemudian kabarnya mereka semua dibunuh.”

Aku terbayang kegelapan zaman di masa itu.

Abu Syik tak ikut mereka. Abu Syik memilih menyebrangi Selat Malaka,” kata Abu Syik. “Tapi bukankah, kawan-kawan Abu Syik  itu setidaknya sempat melihat panorama sekeliling Kruëng Peuët Ploh Peuët, sebelum mereka benar-benar meninggalkan dunia?”

Abu Syik mencoba menghibur diri dengan kata-katanya.

Kopi Abu Syik nyaris habis, kami pun meninggalkan kedai tersebut beserta dengan kenangan stasiun kereta api dan zaman kelam itu. Aku tahu sekarang mengapa Abu Syik begitu hati-hati saat mengeluarkan kata-kata. Semuanya lantaran komunis masih menjadi paham terlarang di Indonesia hingga saat ini, bahkan juga dimusuhi di Malaysia. Dan telah jelas sekarang bagiku untuk mengetahui sebab: mengapa Abu Syik yang telah berumur 73 tahun itu, tak bisa pulang ke kampung halamannya sekian tahun yang lalu. Aku kira dulu alasan Abu Syik tak bisa pulang ke Aceh karena  konflik panjang antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Republik Indonesia. Ternyata dugaanku salah!

Firdaus (nama pena: Daus Yusuf), Penulis Lepas ini berdomisili di Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di media online dan media cetak di Aceh.


[1] Abu Syik (Aceh), Panggilan untuk kakek (orang tua laki-laki dari Ayah atau Ibu), atau panggilan untuk lelaki yang sudah tua.

[2] Chow Kit adalah suatu sub-daerah di tengah-tengah Kuala Lumpur,Malaysia.

[3] Salah satu jembatan kereta api dalam rimba Seulawah: antara Seulimeum (Aceh Besar) dengan Padang Tiji (Pidie) yang disebut Kruëng peuët ploh peuët”. Sungainya satu, tetapi berputar-berputar, sehingga perlu dihubungkan dengan 44 jembatan, sebab itu orang Aceh tempo dulu menamai Kruëng peuët ploh peuët, yang artinya sungai empat puluh empat (44).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut