Carut-Marut Ujian Nasional

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) untuk SMA/SMK sederat, yang semestinya digelar serentak mulai hari Senin (15/4), sangat kacau balau. Sebanyak 11 Provinsi harus melakukan penundaan karena belum menerima naskah soal UN.

Tak hanya itu, pelaksanaan UU di sejumlah daerah kekurangan lembar soal dan lembar jawaban. Mata pelajaran yang tertukar. Lembar kertas jawaban berkualitas sangat buruk dan mudah rusak. Belum lagi, sejumlah siswa dihilangkan hak-nya untuk ikut UN.

Padahal, pelaksanaan UN ini sudah menyedot anggaran negara cukup besar. Untuk pelaksanaan UN tahun ini, pemerintah menganggarkan dana Rp 600 miliar. Bayangkan, untuk urusan pencetakan dan distribusi soal, Kemendikbub menganggarkan sebesar  Rp 94,9 miliar.

Kritikan pun mengalir deras terkait pelaksanaan UN. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menuntut Presiden SBY untuk menghapus UN tahun depan. “UN ini sudah berbiaya tinggi, tapi kualitasnya tidak baik dan tidak mengukur kualitas pendidikan Indonesia yang sebenarnya,” ujar Retno Listyarti, Sekjend FSGI.

Kritik pedas juga dilontarkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Menurutnya, keberadaan UN sebagai syarat utama kelulusan hanya membuat stress peserta didik. Lebih lanjut, Basuki berpendapat, sistem pendidikan yang baik seharusnya menekankan pada proses pembelajaran, bukan ujian akhir.

Pertama, penempatan UN sebagai ukuran mutu dan penentu standar kelulusan sangat bermasalah. Ini membuat siswa, guru, dan sekolah hanya berkonsentrasi bagaimana menghadapi UN. Sekolah yang siswanya banyak tidak lulus bisa dicap gagal. Akhirnya, demi menyelamatkan nama baik sekolah, tak sedikit guru ‘terpaksa’ membantu muridnya agar bisa menjawab soal-soal UN.

Menurut kami, UN tidak bisa dijadikan ukuran mutu. Sebab, belum tentu siswa yang lolos UN benar-benar sudah memahami pelajaran. Bisa saja karena siswa tersebut kuat menghafal, mencontek, mendapat bocoran soal, atau dibantu oleh gurunya/temannya yang terpintar.

Kedua, evaluasi belajar berbasis UN mengabaikan proses belajar-mengajar. Padahal, proses belajar-mengajar juga punya kandungan nilai-nilai yang penting bagi pembangunan karakter siswa, seperti sikap kritis, kerjasama, solidaritas, dan lain-lain.

Sebaliknya, karena konsentrasi pembelajaran bermuara pada lolos UN, maka proses belajar pun tak ubahnya lembaga bimbingan tes, pengajaran berbasis ujian, pembelajaran yang bersifat hafalan, dan pengabaian terhadap pelajaran yang tidak masuk UN.

Ketiga, UN menjadi menciptakan tekanan dan stress kepada anak-anak. Demi lulus UN, mereka memeras otak di hari-hari menjelang ujian.  Sebagian besar aktivitas mereka adalah menghafal rumus, kejadian (tanggal, bulan, tahun), defenisi, nama tokoh, dan lain-lain.

Alhasil, banyak sekolah menyelenggarakan terapi menghilangkan stress menjelang UN. Akibat, pendidikan bukan lagi alat mencerdaskan anak-anak Indonesia, malah menteror dan membuat mereka stress. Tak sedikit anak yang bunuh diri gara-gara UN.

Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang baik tidak boleh menciptakan kegelisahan dan ketakutan. Pendidikan semacam itu hanya akan melahirkan anak-anak bertabiat penakut dan selalu merasa rendah diri (inferioritycomplex). Selain itu, bentuk-bentuk pemaksaan, tekanan, dan hukuman justru menghalangi perkembangan kreatif dari si anak didik.

Pendidikan seharusnya tidak hanya bicara kelulusan, angka, nilai, ijazah. Tetapi, lebih penting dari itu, pendidikan seharusnya menjadi alat integrasi sosial, menanamkan nilai-nilai progressif/humanis, menumbuh-kembangkan kreatifitas, dan membentuk kepribadian si anak didik.

Karena itu, dalam proses belajar, kemerdekaan dan kreatifitas anak didik tidak boleh dipasung. Suasana pendidikan juga harus dibuat senyaman mungkin agar anak-anak bisa belajar dengan ceria, senang, dan bebas. Hanya manusia yang terbebas dari tekananlah yang bisa belajar dengan baik.

Sistim pembelajaran yang bersifat mencatat dan hafalan harus dikurangi. Sebaliknya, anak didik harus dibebaskan untuk berfikir dan diperhadapkan dengan konstruksi sosial di hadapannya. Pesan Ki Hajar Dewantara juga cukup bagus: jangan biasakan anak didik mengikuti buah fikiran orang lain, tetapi biasakanlah anak-anak mencari pengetahuan dengan buah fikirannya sendiri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut