Camilo Torres, Imam Dan Gerilyawan Revolusioner

Camilo Torres

Tanggal 15 Februari 1966, seorang pastor pembela kaum miskin gugur di tangan militer Kolombia. Nyawa boleh saja tumpas, tetapi semangat tetap akan hidup. Dan hari ini, 47 tahun setelah kepergiannya, rakyat Amerika Latin masih terus mengenangnya.

Dia adalah Camilo Torres Restrepo. Kepergiannya ditangisi oleh kaum buruh, petani, dan kaum tertindas. Memang, sepanjang hidupnya, Camillo tak hanya piawai berkotbah tentang kemiskinan, tetapi turut serta bergerilya di hutan-hutan untuk membebaskan umatnya dari ketertindasan.

Camilo lahir di Bogota, Ibukota Kolombia, pada 3 Februari 1929. Ia berasal dari keluarga berada. Ayahnya adalah seorang dokter biasa, tapi pemiliki pemikiran cukup liberal. Hal itu memungkinkan Camilo kecil bisa mengakses pendidikan yang lebih baik.

Ia sempat ikut dengan keluarganya di Eropa. Namun, ketika keluarga itu bercerai, ia pulang bersama ibunya ke Kolombia. Di sini ia berusaha menuntaskan pendidikannya. Sejak kecil, Ia sudah membulatkan tekad memperdalam agama. Akhirnya, ia bersekolah di Seminari.

Tahun 1954, setelah ditasbihkan sebagai Iman, Ia berangkat ke Belgia untuk belajar sosiologi di Universitas Uskup Katolik Leuven (Louvain). Di sinilah ia melahirkan karyanya yang terkenal, Proletarisasi Di Bogota. Karya itu baru dipublikasikan 1987—21 tahun setelah ia meninggal. Karya itu dianggap penting karena mengulas soal penyebab kemiskinan di Kolombia.

Lima tahun kemudian, Ia kembali ke Kolombia. Ia bertemu dengan situasi sosial yang sangat buruk di Kolombia jaman itu, seperti kemiskinan dan kekerasan yang merajalela. Sebagai seorang sosiolog, ia berusaha mendalami persoalan-persoalan tersebut.

Pada tahun 1959, Camilo sempat bekerja di Universitas Nasional Kolombia. Di sana ia mendirikan Fakultas Sosiologi. Di situ ia mulai menjalin hubungan dengan mahasiswa-mahasiswa progressif.

Meksi begitu, Camilo tetap tidak tenang melihat keadaan. Sebagai seorang sosiolog, ia sadar bahwa kemiskinan tidak datang begitu saja, melainkan dihasilkan oleh struktur ekonomi-politik. Inilah yang mendorong Camilo mendalami marxisme.

Camilo sadar, agama tidak bisa diam menyaksikan penindasan terhadap rakyat. Ia juga tak rela menjadi Imam yang hanya meringkuk dalam kungkungan ritual belaka. Dengan keimanannya, Ia berusaha menjawab persoalan yang dihadapi rakyat.

Sikap dan posisi politiknya itu membuat Camilo bertabrakan dengan kelompok gereja konservatif. Kardinal  Luis Concha, yang mewakili gereja Kolombia, menganggap tindakan Camillo bisa mendegradasi nilai-nilai Katolik dan pengaruh gereja.

Tetapi Camilo tetap bergeming. Malahan, ketika menghadiri Kongres Teologi Episkopal di Leuven, Belgia, September 1964, Camilo menyerukan agar Kristen bekerjasama dengan kaum marxis karena keduanya sama-sama menginginkan perubahan struktur sosial. Perubahan sosial alias revolusi itu diperlukan, kata Camilo, untuk memberi makan si lapar, memberi minum kepada yang haus, dan memberi pakaian kepada yang telanjang. “Revolusi bukan hanya diperbolehkan bagi orang Kristen, tetapi kewajiban,” katanya.

Pada tahun 1964, Ia mulai menyerukan pembentukan Front Persatuan. Ini merupakan alat untuk menyatukan klas tertindas, khususnya mereka yang tidak terhimpun oleh partai politik. Tujuannya pun jelas: rakyat harus merebut kekuasaan politik. Front Persatuan ini mulai mengorganisir aksi-aksi, kampanye, pertemuan besar, dan pemogokan. Front Persatuan juga mengorganisir rakyat di kampung-kampung, di kampus, dan di pabrik-pabrik.

Pada tahun 1964 itu juga, di Kolombia, berdiri organisasi revolusioner, yakni Tentara Pembebasan Nasional (ELN), yang menggunakan perjuangan bersenjata sebagai metode perlawanannya. Organisasi ini sangat terinspirasi oleh ide-ide Che Guevara dan Revolusi Kuba.

Tahun itu juga Camilo melakukan kunjungan ke sebuah wilayah bernama Santander, dimana ia bertemu dengan petani dan kaum miskin desa. Namun, pada saat itu, Camilo mulai membangun kontak dengan gerilyawan ELN. Akhirnya, pada Juli 1965, Ia bertemu langsung dengan pimpinan ELN, Fabio Vasquez Castaño.

Setelah pertemuan itu, Camilo resmi menjadi bagian dari ELN. Ia kemudian menjadi propagandis yang menyebarkan gagasan-gagasan revolusioner dari tentara pembebasan. Untuk itu, ia membuat majalah mingguan, yang terjual 45,000 eksemplar pada edisi perdananya.

Penguasa makin ketakutan dengan ide-ide radikal dari Camilo Torres, yang berusaha menghubungkan ajaran gereja dan marxisme. Ide-ide tersebut terus mendorong rakyat mempertanyakan penyebab mereka tertindas dan bagaimana berjuang. Banyak yang bersimpati dan tertarik dengan ide-ide Camilo Torres.

Tentara juga mulai mencium keterkaitan pastor kaum miskin itu dengan gerilyawan ELN. Akhirnya, pada 18 Oktober 1965, Camillo Torres resmi melepas jubahnya sebagai pastor dan bergabung dengan gerilyawan ELN di pegunungan. Kepada pimpinan ELN, ia menyatakan siap ditempatkan sebagai prajurit biasa. “Aku tidak ingin menjadi pemimpin, tetapi hanya ingin melayani sampai akhir,” katanya.

Di dalam kehidupan gerilyawan, Ia menolak perlakuan khusus terhadap dirinya. Ia selalu berbagi makanan dengan sesama kawan-kawan seperjuangannya di dalam hutan. Ia mengajari para petani membaca dan menulis.

Dan akhirnya, pada 15 Februari 1966, pada pertempurannya yang pertama, Camilo Torres tertembak dan meninggal. Hari itu juga ribuan petani berduka atas kepergiannya. Mereka memasang bunga dan salib sebagai bentuk penghormatan kepada “Imam Revolusioner” ini.

Pada tahun 1987, Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan Gerakan Kiri Revolusioner (MIR) menyatu. Mereka kemudian berganti nama menjadi Tentara Pembebasan Nasional- Perhimpunan Camilista (UCELN), sebagai bentuk penghormatan terhadap Camilo Torres dan ide-idenya dalam gerakan revolusioner.

Hari ini, Amerika Latin terus bergerak ke kiri. Teologi pembebasan telah memainkan peranan penting dalam kebangkitan gerakan revolusioner di kawasan itu. Kendati Kolombia sendiri belum terbebas dari kekuasaan reaksioner yang sokong oleh Imperialisme AS.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Arman Kalean

    boleh minta rujukan pustakanya?