Caleg Aktivis: Dari Rumah Ke Rumah, Gang Ke Gang, Untuk Penyadaran Politik

Pemilu bukan sekedar pertempuran untuk memperebutkan kursi parlemen. Bukan pula sekedar soal mendulang suara. Tetapi, di atas semua itu, ada hal yang lebih penting: penyadaran dan partisipasi politik rakyat.

Anshar Manrulu, SE, caleg aktivis dari Makassar, sangat menyadari hal tersebut. Maka, dalam momentum pemilu kali ini, Anshar menggunakan metode dan taktik kampanye yang berbeda dengan caleg-caleg pada umumnya.

“Rakyat sudah bosan dengan gaya politik tradisional. Mereka butuh hal-hal baru yang lebih kreatif, inspiratif, dan mendidik. Karena itu, saya lebih menekankan metode dan cara-cara baru,” ujar Anshar.

Berikut ini lima metode politik elektoral yang sudah dilakoni Anshar dalam dua bulan terakhir:

Pertama: Sosialisasi menggunakan mural

Biasanya, untuk media sosialisasi kepada massa pemilih, para caleg mengandalkan baliho, spanduk, dan poster. Biasanya, media-media itu dicetak dalam jumlah banyak dan disebar di seantero teritori daerah pemilihan Caleg bersangkutan.

Tak jarang, kalau sudah mendekati pemilu, baliho dan spanduk caleg berebut ruang di pinggir jalan. Umumnya di daerah-daerah yang dilalui atau diakrabi oleh banyak orang. Tak jarang ditempel di tempat-tempat atau fasilitas umum.

Tetapi, bagi Anshar Manrulu, metode itu sudah tidak begitu efektif. Ia kemudian mencari media baru: Mural dan Wheatpaste [ gambar di atas kertas yang ditempel ke tembok/dinding dengan menggunakan perekat dari tepung kanji (tapioka/aci) yang dididihkan]. “Kami ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda dengan masyarakat,” kata Anshar.

Anshar memulai aksi mural ini sejak Desember lalu. Hampir setiap malam, aktivis Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 (GNP 33 UUD 1945), nama barisan pendukung Anshar, bergerilya untuk memasang mural di sejumlah tembok dan dinding di teritori Dapilnya, yakni kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya.

Mural dan wheatpaste itu bergambar wajah Anshar, nama, nomor urut partai dan caleg, dan slogan: Se’remo [bahasa Makassar, yang berarti ‘nomor satu saja’]

Salah satu wheatpaste Anshar Manrulu di sebuah tembok di daerah Biringkanaya, Makassar.
Salah satu wheatpaste Anshar Manrulu di sebuah tembok di daerah Biringkanaya, Makassar.

“Kami juga ada aturan: tidak boleh memasang mural dan wheatpaste di tempat-tempat layanan publik, seperti tempat ibadah, sekolah, dan lain-lain. Biasanya kami membuatnya di tembok di pinggir jalan atau di gang-gang sempit,” katanya.

Sejauh ini, kata Anshar, respon masyarakat cukup positif. Belum ada yang komplain karena temboknya dipasangi mural. Malahan, sejumlah warga memuji aksi itu sebagai bentuk kreativitas. Metode ini terbukti efektif, murah, dan massal.

Kedua: Diskusi dari rumah ke rumah

Selain itu, setiap malam, Anshar dan aktivis GNP-33 UUD 1945 juga aktif menggelar diskusi dari rumah ke rumah. Pada tahap awal, rumah yang didatangi adalah rumah kenalan.

“Yang saya datangi pertama adalah rumah basis kawan-kawan SRMI [Serikat Rakyat Miskin Indonesia] dan FNPBI [Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia],” ungkapnya.

Namun belakangan ini, Anshar juga mulai mendatangi rumah-rumah warga yang belum dikenal. Ia mengajak mereka berdiskusi. “Saya memperkenalkan diri, lalu memperkenalkan program, dan kemudian berdikusi dengan mereka,” tuturnya.

Anshar sedang melakukan diskusi dengan komunitas Bentor (Becak Motor) Sudiang Makassar.
Anshar sedang melakukan diskusi dengan komunitas Bentor (Becak Motor) Sudiang Makassar.

Tak jarang, diskusi itu menyerempet ke persoalan-persoalan rakyat yang ada kaitannya dengan kebijakan pemerintah, seperti soal pendidikan, layanan kesehatan, administrasi kependudukan, lapangan pekerjaan, dan lain-lain.

Tak hanya berdiskusi, Anshar juga menawari mereka bantuan advokasi, terutama untuk pengurusan adminstrasi kependudukan, pendidikan, kesehatan, dan hak-hak dasar rakyat lainnya. “Kami jelaskan mengenai hak-hak dasar mereka sebagai warga negara, yang dijamin oleh konstitusi, dan seharusnya dipenuhi oleh negara,” katanya.

Malahan, kalau warganya belum berorganisasi, Anshar mengajak mereka mengorganisir diri. Sebab, dengan berorganisasi, rakyat bisa lebih mudah memperjuangkan hak-hak dan kepentingannya.

Selain itu, Anshar juga sering mendatangi tempat tongkrongan anak muda, pangkalan tukang ojek, pangkalan sopir angkot, kawasan pemukiman buruh, dan lain-lain. Di situ ia mendengar aspirasi dan keinginan berbagai sektor sosial di dapilnya.

Ketiga: Mengumumkan dana Kampanye

Di bawah slogan “Transparan Sejak Dini, Terbuka Pada Rakyat”, Anshar mengumumkan penggunaan dana kampanyenya kepada publik melalui media cetak dan online. Juga melalui jejaring sosial, khususnya Facebook.

Di pengumumannya itu, Anshar juga mencantumkan sumber dana kampanyenya, besaran, dan alokasi penggunaannya. “Saya ingin rakyat juga tahu dari mana sumber dana kampanye saya dan proses pengunaannya,” terang dia.

Anshar menjelaskan, rakyat perlu mengetahui sumber keuangan setiap caleg yang berkompetisi dalam pemilu. Maklum, kata Anshar, banyak caleg yang mendapat dukungan dana besar-besaran dari kelompok tertentu, termasuk pengusaha. Biasanya, donasi dari kalangan bisnis itu menuntut pamrih.

Anshar ingin menunjukkan, jika seseorang mengaku berkomitmen pada pemerintahan bersih, maka setidaknya ia harus memulai dengan komitmen pribadinya. Salah satunya dengan mengumumkan dana kampanye dan sumber pendapatan kepada masyarakat.

Keempat: Gerakan menanam pohon

Banyak caleg sengaja memasang atau menempelkan poster atau baliho mereka di pohon-pohon di pinggir jalan. Tak hanya merusak pemandangan, tetapi juga melukai pohon itu sendiri.

Anshar ogah menempuh jalan itu. Sebaliknya, Anshar justru mencanangkan gerakan menanam pohon di pinggir jalan dengan melibatkan partisipasi warga. Jadi, selain menanam pohon, ia juga mensosialisasikan program perjuangannya.

Anshar dan warga sedang menanam pohon di daerah jalan Dg Ramang, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.
Anshar dan warga sedang menanam pohon di daerah jalan Dg Ramang, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

“Kami ingin tunjukkan kepada warga, kami tidak suka merusak pohon. Tetapi kami justru menanam untuk memperbanyaknya,” kata dia.

Sejauh ini, ungkap Anshar, respon warga terhadap gerakan ini cukup positif. Ia sudah melakukannya di sejumlah titik di Makassar, seperti di jalan Dg Ramang, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Kelima: Kerja bakti dan bersih-bersih kampung

Hari minggu mendatang, Anshar bersama para pedagang akan melakukan kerja bakti di depan GOR Sudiang. Kemudian, minggu depannya lagi, ia bersama warga akan melakukan bersih-bersih kampung di daerah perumahan Sudiang.

“Jadi, selain soal bagaimana menciptakan lingkungan yang sehat, ini juga upaya saya untuk membangkitkan kembali semangat gotong-royong bangsa kita,” katanya.

Selain itu, Anshar juga berencana untuk melakukan ‘fogging’ untuk mengurangi potensi ancaman penyakit malaria dan demam berdarah dengue (DBD).

…..

Sejauh ini, lima metode dan program itulah yang sedang dikerjakan oleh Anshar Manrulu di palagan elektoral. Selain itu, dia juga sering menggelar pendidikan dan kursus politik di tingkat basis.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Supriantosj

    Perlu dicontoh oleh caleg caleg yg lain seindonesia..1kursi anggota DPRD kota makassar sbagai sejatinya wakil rakyat…