Cabut Kuota Ekspor Mineral, Pemerintah Dianggap Tidak Konsisten

Menteri Neoliberal.jpg

Salah satu paket kebijakan pemerintah untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan adalah menggenjot ekspor. Selaras dengan kebijakan itu, pemerintah menerapkan relaksasi kuota ekspor bahan tambang dan mineral.

Namun, banyak yang mengeritik langkah pemerintah tersebut. Salah satunya adalah staff Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), Alif Kamal.

Menurut Alif, kebijakan pemerintah tersebut menabrak keputusan mereka sendiri, yakni Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Permurnian Mineral.

“Kendati kebijakan ini dinyatakan hanya temporer, tetapi mengorbankan cita-cita untuk melakuan hilirisasi bahan mineral. Misalnya dengan membangun pabrik pemurnian dan pengolahan bahan mentah mineral (smelter),” ujarnya.

Alif beranggapan, kebijakan pemerintah menghapus kuota ekspor hasil tambang dan mineral menandakan nihilnya komitmen pemerintah untuk menghentikan ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan mengembangkan industri pertambangan nasional.

Selain itu, ia juga meragukan usaha menggenjot ekspor, termasuk bahan mentah tambang dan mineral, bisa menyelamatkan neraca transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah.

“Masalah pokoknya ini kan pasar komoditas dunia sedang menurun. Nah, kita terkena dampak itu karena mayoritas ekspor kita adalah bahan mentah. Kok malah ekspor bahan mentah itu mau digenjot. Inikan langkah yang tidak tepat,” tegasnya.

Menurutnya, yang harus dilakukan pemerintah sekarang ini adalah reorientasi ekonomi, yakni dari ekonomi yang mengandalkan ekspor bahan mentah menjadi ekonomi yang berorientasi untuk memenuhi kebutuhan rakyat di dalam negeri.

Bagi Alif, pemerintah seharusnya mengembangkan pasar internal untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar eksternal. Strategi ini, kata dia, sejalan dengan cita-cita perekonomian kita untuk membangun ekonomi berdikari.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut