Buruh PT. Matahari Kuda Laut Tuntut Kesejahteraan

Ratusan buruh PT. Matahari Kuda Laut (MKL) menggelar pemogokan di depan kantor pabriknya siang tadi, Senin (20/6). Mereka memprotes kebijakan manajemen pabrik yang tiba-tiba mengubah kebijakan gaji para buruh.

Para buruh ini merupakan anggota Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Dalam pemogokan itu, para buruh mendapat dukungan solidaritas dari serikat buruh lain, antara lain, puluhan anggota Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI).

Selain itu, para buruh yang sudah bekerja selama 20 tahun ini mempertanyakan status kerja mereka. “Sudah 20 tahun kami bekerja, tetapi kami belum dianggap karyawan tetap. Status kami masih mitra kerja, yang kapan saja bisa di-PHK,” kata Anjar Supriyanto, salah seorang jubir aksi, kepada Berdikari Online.

Karena status para buruh itu sebatas mitra-kerja, mereka pun kesulitan untuk mendapatkan hak-hak normatif. Beberapa hak normatif yang dituntut kaum buruh ini, antara lain: upah layak, program Jamsostek, dan pembayaran jaminan kecelakaan kerja.

Selain itu, sehubungan dengan PHK sepihak, para buruh menuntut agar rekan-rekan mereka dipekerjakan kembali. “PHK sepihak terhadap mereka yang bergabung dengan serikat buruh adalah pelanggaran hukum,” ujar seorang buruh dalam orasinya.

Setelah menggelar aksi selama berjam-jam, para buruh akhirnya dimediasi oleh perwakilan Dinas Tenaga Kerja kota Surabaya. Dalam proses mediasi tersebut, pihak manajemen menjanjikan akan mengikutkan kaum buruh dalam program Jamsostek.

Akan tetapi, pihak buruh mengaku belum begitu puas, apalagi beberapa tuntutan kaum buruh seperti sengaja diambangkan. Sebagai missal, tuntutan agar buruh yang di-PHK sepihak dipekerjakan kembali, itu tidak mendapat pemastian.

Karenanya, para buruh mengulimatum pihak manajemen: jika dalam sepuluh hari tuntutan buruh tetap tidak dipenuhi, maka para buruh akan kembali melakukan pemogokan dan membawa kasus ini pada pengadilan.

Kecam Pidato SBY di Konferensi ILO

Persoalan yang dialami buruh PT.MKL ini sangat bertentangan dengan isi pidato SBY di depan konferensi ILO ke-100 di Jenewa, Swiss. Dalam pidatonya itu, SBY berseru agar semua negara dan pemberi kerja menghindari PHK.

Aktivis FNPBI, Hendraven Saragih, yang turut bersolidaritas atas perjuangan buruh, menganggap pidato SBY sebagai ‘pidato kosong’. “ Tidak ada makna dalam pidato SBY itu. Sebagian besar tidak berpijak kepada kenyataan,” ujarnya.

Selain itu, Hendraven juga menyoroti soal ketidakseriusan pemerintah dalam menjamin hak-hak kaum buruh untuk berorganisasi. Banyak fakta memperlihatkan bagaimana pemerintah sengaja diam atas berbagai kasus pemberangusan serikat buruh yang terjadi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut