Bung Karno: Hubungan Perikemanusiaan Dan Kebangsaan

Kamis, 16 Agustus 2012 | 2:22 WIB 0 Komentar | 445 Views

BK-111.jpg

Bagi sebagian orang, nasionalisme itu sudah pasti chauvinis. Kebangsaan dianggap sebagai pengkotak-kotakan manusia. Dan, pada ujungnya, peruncingan kebangsaan akan mengarah pada tragedi kemanusiaan.

Mungkin mereka tak pernah tekun mempelajari Pancasila. Kita tahu, sila kedua pancasila adalah perikemanusiaan. Di sini, para pendiri bangsa ingin menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia berlandaskan perikemanusiaan. Pemikiran Bung Karno sangat mempengaruhi gagasan Pancasila ini.

Soal perikemanusiaan itu?

Bung Karno membedakan antara kemanusiaan (mensheid) dan perikemanusiaan (menselijkheid). Kata Bung Karno, kemanusiaan itu adalah alam manusia. Kemanusiaan itu sudah ada sejak dahulu, yaitu sejak adanya manusia.

Sedangkan perikemanusiaan lain lagi. Kata Bung Karno, perikemanusiaan adalah jiwa yang merasakan bahwa antara manusia dan manusia lainnya ada hubungannya; jiwa yang hendak mengangkat/membedakan jiwa manusia itu lebih tinggi daripada jiwa binatang.

Pendek kata, pemeluk perikemanusiaan itu melihat dirinya sebagai satu kesatuan dengan lainnya dalam suatu masyarakat.

Perikemanusiaan adalah hasil perkembangan rohani; hasil perkembangan kebudayaan; hasil dari perkembangan masyarakat dari tingkat rendah ke tingkat tinggi. Pendek kata, kemanusiaan merupakan hasil evolusi.

Menurut Bung Karno, perikemanusian itu mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan perkembangan masyarakat. Pada suatu masa, perbuatan tertentu dianggap jahat. namun, pada tahap selanjutnya, perbuatan itu dianggap tak jahat. Begitu pula sebaliknya.

Bung Karno memberikan contoh sederhana: pada masa primitif, dimana jumlah manusia masih kecil dan belum berhukum, relasi seksual belum mengenal sistim berpasangan (suami-istri). Bagi masyarakat sekarang, tindakan semacam itu bisa dianggap free-sex.

Kemudian, kata Bung Karno, manusia mulai hidup dalam sistim keluarga (verwantschapsfamilie). Awalnya, keluarga ini tinggal di dalam rumah panjang atau rumah besar. Kemudian berkembang lebih besar dan menjadi suku. Dalam perkembangan selanjutnya, karena pergaulan hidup, manusia berkembang lebih besar lagi melampaui suku-suku.

Nah, pada tahap itulah, seperti dijelaskan Bung Karno yang mengutip pemikir politik Austria, Otto Bauer: “manusia-manusia yang banyak itu kemudian mengalami pengalaman bersama dan persamaan watak”. Inilah landasan, seperti diyakini Otto Bauer, sebagai landasan terbentuknya bangsa.

Dalam perkembangan lebih tinggi, selaras dengan perkembangan teknik dan kemajuan masyarakat, batas-batas bangsa semakin terhapus. Pada tahap itu, kata Bung Karno, terjadi dua hal: di satu sisi, terbentuknya bangsa atau negara nasional. Kemudian, pada sisi lain, hungan manusia antar manusia dan bangsa atas bangsa makin rapat.

Perikemanusiaan dan Kebangsaan

Bung Karno banyak menyerap faham perikemanusiaan Mahatma Gandhi. Bagi Gandhi, kemanusiaan itu satu atau universal. Kemanusiaan itu tidak pernah terkotak-kotak atau terbelah. Sehingga, kata Gandhi, “nasionalismeku adalah perikemanusiaan.”

Bung Karno juga sangat menyadari hal itu. Dalam pidato 1 Juni 1945 (Lahirnya Pancasila) dikatakan dengan tegas: “Nasionalisme hanya bisa hidup subur di dalam taman sarinya internasionalisme. Internasionalisme hanya dapat hidup subur jikalau berakar di buminya nasionalisme.”

Manusia merupakan makhluk masyarakat (homo socius). Karena itu, kata Bung Karno, bangsa tak dapat hidup sendiri. Bangsa hanya dapat hidup di dalam masyarakat manusia dan masyarakat bangsa-bangsa.

Bangsa Indonesia punya cita-cita nasional, yakni masyarakat adil dan makmur. Akan tetapi, bangsa Indonesia juga harus berjuang untuk masyarakat adil dan makmur untuk seluruh umat manusia di dunia. Oleh karena itu, seperti ditegaskan Bung Karno, nasionalisme Indonesia menolak isolasionisme.

“Kita harus mencari hubungan dengan bangsa-bangsa lain di atas dasar persamaan, daulat sama daulat, dan saling-menguntungkan,” kata Bung Karno.

Apalagi, dalam kerangka perjuangan melawan imperialisme dan kapitalisme, bangsa Indonesia tidak bisa mengisolasi perjuangannya dalam kerangka nasional saja. Sebab, kata Bung Karno, imperialisme dan kapitalisme itu juga bersifat internasional. Itulah sebabnya bangsa Indonesia perlu menggalang solidaritas bangsa-bangsa anti-imperialis dan anti-kapitalisme.

Bung Karno menentang nasionalisme Hitler dan segala bentuk Chauvinisme lainnya. Kata Bung Karno, nasionalisme Hitler itu tak berperikemanusiaan. Sebab, manusia yang diakui oleh nasionalisme Hitler hanyalah manusia turunan Aria yang berkulit putih, berambut merah-kuning-jagung, dan bermata biru. Bung Karno menganggap tipe nasionalisme Hitler ini sebagai nasionalisme yang jahat.

Bagi Bung Karno, perikebangsaan atau kebangsaan hanyalah jembatan menuju kemanusiaan yang universal. Ini sejalan dengan pendapat Bung Hatta, bahwa cita-cita menuju persatuan hati atau persaudaraan segala bangsa dan segala manusia haruslah didahului dengan kemerdekaan bangsa.

Kata Bung Hatta, hanya bangsa-bangsa dan manusia yang sama derajat dan sama merdeka yang bisa bersaudara. Artinya, persaudaraan bangsa-bangsa dan manusia sedunia hanya mungkin terjadi kalau sudah tidak ada lagi penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa.

Timur Subangun, Anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Tags: , ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :