Kritik Bung Karno Terhadap Sistim Pengajaran Kolonial

Kamis, 14 Juni 2012 | 13:58 WIB 1 Komentar | 180 Views

Soekarno.jpg

Pada tahun 1921, Bung Karno masuk Sekolah Teknik di Bandung, Jawa Barat. Ia bercita-cita menjadi seorang insinyur. Saat itu, di sekolah Teknik itu hanya ada 11 orang bumiputera. Bung Karno adalah salah-satunya.

Di kampus, Soekarno terbilang mahasiswa kritis. Ia menjadi bagian dari kelompok diskusi—sering disebut Algemeene Studie Club. Ya, kalau sekarang mungkin disebut “aktivis mahasiswa”. Itu pula yang membuat Bung Karno cukup kritis di ruang kuliah.

Sekolah Teknik itu, kata Bung Karno, dibuat untuk mengakomodir kecepatan ekspansi dan eksploitasi kolonial. Penguasa kolonial membutuhkan tenaga insinyur dan pengawas lapangan. Akibatnya, kurikulum pun disusun menurut kebutuhan kolonial.

“Pengetahuan yang kupelajari adalah pengetahuan teknik kapitalis,” demikian kritik Bung Karno.

Bung Karno mencontohkan, dalam mata-kuliah soal irigasi, yang diajarkan bukanlah bagaimana mengairi sawah dengan baik, melainkan sistim pengairan tebu dan tembakau. Maklum, sebagian besar kapital Belanda jatuhnya di sektor perkebunan.

Menurut Bung Karno, irigasi yang dijalankan kolonial hanya untuk kepentingan kapitalisme dan imperialisme. “Irigasi tak memberi makan bagi rakyat banyak, melainkan membikin gendut perut pemilik perkebunan,” kata Bung Karno.

Begitu juga dengan ilmu pembangunan jalan. Jalan-jalan dibuat bukan untuk memudahkan rakyat melakukan perjalanan, melainkan untuk kepentingan kapital: menghubungkan pabrik dengan pelabuhan-pelabuhan.

Begitu pula dengan ilmu pasti. Universitas tidak memberi pelajaran rantai-ukuran. Yang diberikan: pita yang panjangnya 20 meter yang sering dipergunakan oleh pengawas perkebunan. Ketika menggambar rencana kota, maka yang utama adalah tempat kedudukan “kabupaten”, yaitu tempat tinggal Bupati-penguasa kolonial.

Kritik Bung Karno terhadap sistim kolonial hampir sejalan dengan gagasan para tokoh pergerakan yang lain, seperti Tan Malaka, Bung Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Bagi Tan Malaka, pendidikan kapitalis hanya untuk tujuan kapital, yakni mencari keuntungan.

Untuk itu, sebagai antitesa terhadap pendidikan kapitalis, Tan Malaka menganjurkan pendidikan kerakyatan, yaitu pendidikan yang tak hanya memberi skill dan pengetahuan tetapi juga keberpihakan kepada rakyat.

25 Mei 1926, Bung Karno lulus dari Sekolah Teknik. Ia resmi menyandang gelar “Insinyur”, sesuatu yang jarang dimiliki kaum bumiputera. Akan tetapi, Soekarno tidak punya keinginan bekerja di jawatan kolonial. Ia memilih jalan “pergerakan”. Berbagai tawaran pekerjaan ditolaknya mentah-mentah.

“Saya tidak yakin di kemudian hari menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah untuk menjadi pembangun dari suatu bangsa,” kata Bung Karno menegaskan jalan hidupnya.

Namun, pada suatu hari, Bung Karno mengalami kesulitan ekonomi. Rumah tangganya kering sama sekali. Istrinya, Inggit Ganarsih, hanya bisa menyuguhkan secangkir teh encer tanpa gula kepada tamunya. Bung Karno harus mencari pekerjaan!

Didatanginya sekolah Yayasan Ksatrian. Sekolah ini didirikan oleh tokoh pergerakan radikal, Dr. Deuwes Dekker alias Setiabudi. Di sekolah itu Sokarno diterima mengajar ilmu sejarah. Ia mengajar sekitar 30 murid di kelasnya. Salah satunya adalah anak HOS Tjokroaminoto, yaitu Anwar Tjokroaminoto.

Bung Karno mengajar dengan metodenya sendiri. Ia enggan menggunakan metode mengajar yang resmi. Bagi Soekarno, yang paling penting adalah membangkitkan semangat anak-anak didiknya.

Teknik mengajar ilmu sejarah Bung Karno beda dengan apa yang kita rasakan di era Orde Baru hingga sekarang ini: menghafal nama-nama, tahun dan tempat.  Bung Karno menekankan pada pengertian sejarah. Baginya, tidak terlalu penting anak-anak dipusingkan tahun berapa Colombus menemukan benua Amerika atau tahun berapa Napoleon gagal dalam perang di Waterloo.

Bagi Bung Karno, mengajar harus disertai improvisasi. Ini agar murid bisa mengikuti dan memahami apa yang diterangkan. Ketika berbicara soal kejadian, Bung Karno lebih banyak menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Bung Karno mengajarkan sejarah seperti orang bersandiwara. Untuk diketahui, Bung Karno ini seorang ahli Tonil.

Terkadang, kalau yang diajarkan adalah soal tokoh politik, misalnya Sun Yat Sen, maka Bung Karno bergaya tak ubahnya orator: mengacungkan tangan, berteriak, dan memukul-mukul meja.

Sudah menjadi kebiasaan dalam pendidikan kolonial, sekolah dikunjungi oleh penilik-penilik sekolah. Penilik sekolah ini adalah orang-orang Belanda. Pada suatu hari, saat sedang mengajar soal imperialisme, sang penilik sekolah datang dan mengikuti mata-pelajaran Bung Karno.

Bung Karno mengajar seperti biasanya. Ia benar-benar berusaha memahamkan siswa tentang apa imperialisme itu. Ia bahkan mengutuk imperialisme itu berkali-kali. Hingga, pada ujung jam mengajarnya, Bung Karno mengatakan, “Negeri Belada kolonialis terkutuk!”

Gara-gara teknik mengajarnya itu, terlebih isian pengajarannya, karir Bung Karno sebagai seorang guru berakhir.

KUSNO, Kader Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Tags: , ,

  • marko

    model pendidikan sekrang pun tidak ubahnya model pendidikan zaman kolonial, bahkan mau dibilang bahwa pendidikan nasional telah gagal menciptakan kualitas lulusan. justru implementasi pendidikan nasional merupakan sutu bentuk pembodohan terhadap masyarakat. Oleh krn itu, sistem pendidikan nasional harus direvisi sampai pada kurikulumnya, sehingga otuputnya berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional.

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :