Bung Karno Sebagai Icon Perjuangan Melawan Penjajahan Asing

    Backdrop bergambar Bung Karno terpasang di sebuah ruangan. Di situ, di sebuah rumah di Jalan Cikini I Menteng, Jakarta Pusat, seratusan pemuda sedang membahas persiapan kongres pemuda pergerakan. Adalah menarik, dan tentu saja bukan kebetulan, para pemuda itu benar-benar menganggap Bung Karno sebagai inspirator pembebasan nasional.

Di Surabaya, Jawa Timur, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, ratusan massa PRD juga membawa poster Bung Karno. Hal serupa juga dilakukan oleh gerakan rakyat di Makassar, Lampung, dan berbagai tempat lainnya.

Selama bertahun-tahun, sejak sepeninggal Bung Karno hingga reformasi, icon Bung Karno seolah-olah menjadi hak paten partai-partai bekas PNI atau partai-partai tempat berkumpulnya anak-anak Bung Karno. Padahal, Bung Karno bukan milik sebuah keluarga atau aliran politik tertentu, melainkan milik bangsa Indonesia.

Sekarang ini, setelah imperialisme neoliberal begitu deras menindak kekayaan dan perasaan nasional kita, sebagian kaum muda pun mulai mengangkat kembali icon Bung Karno. Kecintaan terhadap founding father bangsa Indonesia ini pun memuncak. Salah satunya, dalam musyawarah pemuda pergerakan mendatang, sosok Bung Karno akan ditonjolkan.

>>>

Partai Rakyat Demokratik, salah satu partai progressif di Indonesia, menjadikan Bung Karno sebagai salah satu tokoh inspirasi bangsa, sebagaimana rakyat Venezuela mengangkat Simon Bolivar dan Kuba dengan Jose Marti. “PRD bukan hanya mengambil Bung Karno sebagai inspirasi perjuangan, tetapi juga mempelajari kembali fikiran-fikiran beliau,” kata Agus Jabo, Ketua Umum PRD.

Menurut Haris Rusli Moti, aktivis yang sekarang ini aktif di Petisi 28, saat ini diperlukan suatu simbol nasional untuk menyatukan kembali seluruh gerakan pemuda dan rakyat. Untuk tujuan itu, menurutnya, sosok Bung Karno sangatlah cocok. “Bung Karno memang sudah tiada secara fisik, tetapi fikiran-fikirannya masih terus hidup,” kata alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Umar Said, bekas wartawan yang sering mengikuti acara kunjungan Bung Karno, mengatakan bahwa jiwa besar Bung Karno sangat relevan untuk membangkitkan bangsa Indonesia saat ini.

“Dengan menelusuri perkembangan berbegai gerakan nasional melawan kolonialisme Belanda sejak lahirnya Boedi Oetomo dalam tahun 1908 sampai 1965, maka nampak nyatalah bahwa Bung Karno adalah promotor atau penerus gerakan kebangkitan nasional,” kata Umar Said, 83 tahun, yang kini bermukim di Paris, Perancis.

Upaya memunculkan Bung Karno sebagai icon perjuangan melawan penjajahan asing juga disetujui oleh Masinton Pasaribu, yang juga Ketua Umum Repdem–Relawan Perjuangan Demokrasi. “saya merasa, sejak dari sekarang, kita memerlukan simbol untuk menyatukan perjuangan nasional. Bung Karno-lah yang paling cocok,” tegas mantan aktivis mahasiswa tahun 1998 ini.

PRD sendiri, sebagai partai yang serius mengusung ide bung Karno, telah menamai sekolah-sekolah politik yang didirikannya dengan nama “Akademi Soekarno”. Di luar PRD, ada banyak akademisi dan penulis yang mulai menggeluti kembali fikiran-fikiran Bung Karno.

Roso Daras, seorang penulis yang cukup produktif, memenuhi blog pribadinya, Roso Daras, dengan artikel-artikel pendek mengenai Bung Karno dan fikiran-fikirannya. Ia juga menulis sejumlah buku mengenai kehidupan Bung Karno dan jejak perjuangannya.

Di Surabaya, seorang soekarnois kawakan kelahiran NTT, Peter A. Rohi, telah mendirikan sebuah institut yang diberi-nama “Soekarno Institute”. Selain membangkitkan kembali Bung Karno melalui artikel, Soekarno Institut juga sering membuat peringatan kelahiran “Putra Sang Fajar” ini, membuat monumen Bung Karno di tempat kelahirannya, dan berbagai kegiatan-kegiatan lainnya.

Di Berdikari Online sendiri, ada rubrik khusus yang diberi nama “Bung Karnoisme”. Untuk diketahui, rubrik “Bung Karnoisme” ini paling sering dikunjungi oleh para pembaca Berdikari Online. “Ini membuktikan bahwa banyak orang sedang berusaha menggali kembali fikiran-fikiran Bung Karno,” ujar Agus Pranata, kepala bidang kajian Berdikari Online.

>>>

Ajaran Bung Karno, Marhaenisme, juga dianggap sangat relevan untuk memperkaya teori perjuangan melawan imperialisme dan neo-kolonialisme. Pada masa orde baru, sebagaimana juga marxisme, marhaenisme juga turut dilarang.

Barulah pada pemilu 1999, pemilu pertama pasca kejatuhan Soeharto, ada partai politik yang secara resmi menggunakan marhaenisme sebagai azas, yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI)-Front Marhaen. Pada saat itu, kendati dikatakan era transisi demokrasi, Presiden B.J. Habibie sempat berbicara tentang bahaya “Komas”, singkatan dari komunisme, marhaenisme, dan sosialisme.

Dalam Dictionary of the Modern Politics of South-East Asia (1995), karya Michael Laifer, mencantumkan bahwa Marhaenisme merupakan salah satu varian dari Marxisme. Sementara menurut Dawam Rahardjo, Guru besar ekonomi pada Universitas Muhammadiyah, di Malang, marhaenisme juga merupakan alternatif terhadap marxisme. “Dalam interpretasi itu terkandung adanya penolakan, paling tidak kritik terhadap marxisme,” katanya.

Menurut Rudi Hartono, Koordinator Kajian dan Bacaan KPP-PRD, fikiran-fikiran Bung Karno tidak dapat dilepaskan dari Marxisme. Setidaknya, menurut dia, sebagian besar karya-karya Bung Karno diperkaya oleh fikiran-fikiran orang-orang marxist.

Teori mengenai imperialisme, misalnya, Bung Karno banyak mengambil dari Rudolf Hilferding, J.A Hobson, Karl Kautsky, dan Lenin. “Semua orang itu adalah orang yang menganut marxisme. Ada yang berkecenderungan sosial demokrasi, tetapi ada pula yang komunis,” kata pemuda yang juga memimpin media online, Berdikari Online.

Dalam pemahaman Rudi Hartono, marhaenisme merupakan cara Bung Karno menerapkan Marxisme dalam konteks Indonesia, khususnya kekhususan-kekhususan relasi produksi yang muncul di Indonesia saat itu.

Sebagai misal, penggunaan kata Marhaen mengacu kepada pemilik produksi kecil, yang meskipun mempunyai alat produksi, tetapi hasil produksinya tidak bisa mengcukupi untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya sendiri. “Marhaen adalah identifikasi kelas dalam kekhususan relasi produksi di Indonesia,” katanya.

Marhaen, kata Bung Karno, adalah kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain, misalnya kaum dagang kecil, kaum ngarit, kaum tukang kaleng, kaum grobag, kaum nelayan, dan lain-lain.

Dimana letak kecocokan marhaenisme dengan situasi sekarang? Rudi Hartono berusaha memberi contoh: Sekarang ini, yang disebut sektor informal sudah mencapai 70%. Sektor informal ini sebagian besar adalah pemilik produksi kecil alias marhaen. Kalau mau memperjuangkan sosialisme di Indonesia, maka itu akan menjadi tidak mungkin jika mengabaikan kaum marhaen yang sebanyak itu.

Bung Karno sendiri pernah mengatakan, untuk memahami Marhaenisme perlu untuk memahami dua pengetahuan: pertama, pengetahuan mengenai situasi dan kondisi Indonesia, dan kedua, pengetahuan tentang Marxisme.

“Di tangan kaum nasionalis, yang tidak mau belajar marxisme dan situasi Indonesia, marhaenisme hanya menjadi dogma dan slogan, sedangkan Bung Karno dikerangkeng sekedar sebagai gambar mati dalam spanduk,” tegasnya.

Sekarang ini, menurut Rudi Hartono, ajaran marhaenisme mulai terancam bangkrut, karena tidak ada usaha untuk memperdalam marhaenisme itu sendiri dan tidak ada usaha mengembangkannya untuk situasi sekarang. (Mahesa Danu)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Mike

    Ada yang mengatakan, Bung Karno saat itu sedang sakit dan pergi ke belakang untuk mendapat suntikan dari tim dokternya. Sementara versi lain menyebutkan, Bung Karno diminta untuk menerima sebuah informasi yang sangat penting.
    Mike,
    Jailbreak for iPhone 4S