Bung Karno Di Mata SK Trimurti

21 Juni 1970, 43 tahun yang lalu, Bung Karno wafat. Meski kematiannya disembunyikan oleh rezim Orde Baru, ribuan rakyat Indonesia berjejer di pinggir jalan melepas Bung Karno. Di Blitar, Jawa Timur, lautan manusia menangis saat jenazah Bung Karno diturunkan ke liang lahat.

Hari itu juga, begitu mendengar kabar wafatnya Bung Karno, SK Trimurti pontang-panting ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Di rumah sakit itulah Bung Karno menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Namun, sampai di RSPAD, Trimurti baru tahu kalau jenazah Bung Karno sudah dipindahkan ke Wisma Yaso. Ia pun langsung meluncur ke Wisma Yaso. Lagi-lagi perjuangan Trimurti untuk melihat wajah Bung Karno untuk terakhir kalinya tidak gampang. Wisma Yaso sudah dipagar betis oleh tentara. Susah sekali untuk masuk. Tetapi Trimurti tidak kehabisan akal. Ia melihat seorang tentara berdiri dengan mengangkang. Tanpa berfikir lama, ia menerobos sela-sela kaki tentara itu dan berlari menghampir peti jenazah Bung Karno.

Bagi Trimurti, Bung Karno adalah gurunya. Tetapi justru Bung Karno menganggap Trimurti sebagai adiknya. Kalau bukan karena pengaruh Bung Karno, mungkin jalan hidup Trimurti bisa lain. Bung Karno-lah yang menginspirasi Trimurti untuk terjun dalam perjuangan politik.

Trimurti sendiri lahir di tengah keluarga Keraton Kasunanan Surakarta tanggal 11 Mei 1912. Ayahnya, R. Ng. Salim Mangunsuromo, hanya mengajari Trimurti bahwa perempuan pada akhirnya akan menjadi seorang istri. Karena itu, ajaran pertama yang didapatnya hanya: marak (setia pada suami), macak (pandai menghias diri), masak (pandai memasak), dan manak (bisa melahirkan anak).

Namun, pandangan itu mulai berubah setelah Trimurti menyelesaikan pendidikannya di Meisjes Normaal School (Sekolah Guru Perempuan). Saat itu, ia bekerja sebagai guru di sekolah khusus anak perempuan (Meisjesschool). “Selama mengajar, saya makin akrab dengan buku-buku. Tapi saat itu saya lebih memusatkan perhatian pada buku-buku politik,” ujar Trimurti.

Namun, situasi penjajahan saat itulah yang paling mendorong Trimurti untuk terlibat gerakan politik. Ia menjadi anggota Rukun Wanita dan beberapa kali mengikuti rapat-rapat Boedi Oetomo cabang Banyumas. Namun, saat itu langkah politik Trimurti masih moderat.

Pada tahun 1930, ia mulai berkenalan dengan tulisan-tulisan dan pidato Bung Karno. Ia juga sering mendengar pidato Bung Karno yang menggelegar dari radio. Sejak itulah pemikiran politik radikal mulai merasuki Trimurti. Begitu Bung Karno keluar dari penjara, tahun 1932, ia segera bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo)–pecahan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Saat itu Partindo hendak menggelar Rapat Umum di Purwokerto. Trimurti mendengar kabar itu. Dengan menumpangi dokar, ia pergi ke Purwokerto untuk menyimak pidato Bung Karno. Sayang, gedung tempat Rapat Umum sudah penuh sesak. Ia hanya kebagian tempat duduk paling belakang. Namun, kendati Bung Karno berpidato tanpa pengeras suara, suaranya tetap membahana ke seluruh ruangan.

Pidato Bung Karno langsung menohok kolonialisme. Ia menguliti kejahatan kolonialisme dan imperialisme ke akar-akarnya. Tak hanya itu, Ia lantang menyeruan kemerdekaan sebagai jalan keluar dari keterjajahan. Pidato Bung Karno sangat menggugah Trimurti. Sepulang dari Rapat Umum, ia merenung. Akhirnya, ia membulatkan tekad bergabung dengan Partindo. Pekerjaannya sebagai guru di Meisjesschool pun ditinggalkan.

Ia kemudian pindah ke Bandung. Di sana ia mengajar di sekolah pergerakan yang didirikan oleh tokoh nasionalis Sanusa Pane, yakni Perguruan Rakyat. Di sana pula Trimurti mulai bertemu langsung dengan Bung Karno. Ia mulai aktif dalam kursus-kursus politik yang digelar oleh Partindo. Bung Karno jadi pengajarnya.

Bung Karno pula yang memicu bakat jurnalisme Trimurti. Suatu hari Bung Karno mengajak Trimurti menulis di korannya, Fikiran Ra’jat. “Tri, ayolah nulis,” ujar Bung Karno. Karena Fikiran Ra’jat adalah majalah minggu politik populer, yang penulis-penulisnya adalah tokoh terkenal, Trimurti pun merasa segan. “Saya ndak bisa,” Jawab Trimurti. Tetapi Bung Karno bersikeras agar Trimurti bisa menulis.

Trimurti belajar keras. Ia belajar merangkai kalimat demi kalimat. Alhasil, dalam waktu singkat ia berhasil. Tulisan-tulisannya tajam dan garang. Tahun 1936, ketika ia bergabung dengan Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI) di Jogjakarta, Trimurti menjadi pemimpin redaksi majalah “Soeara Marhaeni”. Sejak itulah, supaya aktivitas politiknya tidak tercium oleh orang tuanya, ia menggunakan nama pena: S.K. Trimurti. Belakangan orang lebih mengenal nama penanya, Trimurti, ketimbang nama aslinya, Surastri.

Selain terkenal tajam dengan goresan penanya, Trimurti juga menjelma menjadi ahli pidato. Ia belajar dari Bung Karno. Pidatonya selalu membakar semangat peserta Rapat Umum. Alhasil, ketika sedang berpidato di sebuah Rapat Umum Wanita, PID datang menghentikannya. Ia diinterogasi panjang lebar. “Pidatomu itu dibikinkan oleh Soekarno, ya?” kata Interogator itu.

Sejak terjun dalam gerakan anti-kolonial, Trimurti sering keluar-masuk penjara. Ia pernah dipenjara 9 bulan gara-gara famplet gelap. Bahkan, menjelang kedatangan fasisme Jepang, Trimurti dipenjara bersama anaknya yang masih balita. Meski sering menjadi langganan hotel Prodeo, Trimurti tidak pernah kapok. Ia sadar, itulah konsekuensi dari pilihan politiknya.

Tahun 1943, Trimurti diajak Bung Karno masuk ke Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Namun, tak lama berdiri, Putera dibubarkan Jepang. Mereka kemudian dipaksa masuk Jawa Hokokai. Trimurti tidak punya banyak pilihan. Bung Karno berusaha menyakinkan, “kereta yang dibuat Jepang itu hanya satu, ya naikilah. Yang penting kita tetap konsisten terhadap cita-cita.” Bagi Trimurti, bergabung dengan Jawa Hokokai bukan berarti kooperatif dengan Jepang. “Tapi justru sebagai taktik dan strategi untuk menggunakan “kereta” itu bagi perjuangan kami,” ujarnya.

Trimurti juga menyaksikan dari dekat detik-detik menuju Proklamasi Kemerdekaan. Tapi tak hanya menyaksikan, Ia bagian dari proses itu sendiri. Ketika Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan Bung Karno di kediamannya, Pegangsaan Timur 56, Trimurti ditawari untuk menjadi salah satu pengerek bendera Merah-Putih. Namun, ia melimpahkan tawaran itu ke Latief Hendraningrat.

Usai Proklamasi Kemerdekaan, Trimurti menjadi tenaga penting bagi berjalannya roda pemerintahan Republik muda ini. Awalnya, ia menjadi pimpinan pusat Partai Buruh Indonesia (PBI). Ketika Kabinet Amir Sjarifuddin dibentuk, Ia diminta mengisi posisi Menteri Perburuhan. Akhirnya, sejarah mencatat: Trimurti adalah Menteri Perburuhan pertama di republik ini. Semasa menjadi Menteri, ia aktif memperjuangkan UU perburuhan baru sebagai ganti UU perburuhan kolonial.

Ketika Kabinet Amir berakhir di tengah jalan, Trimurti kembali ke Jakarta. Ia aktif mengorganisir gerakan perempuan. Akhirnya, pada tahun 1950-an, bersama sejumlah aktivis perempuan lainnya, Ia mendirikan Gerakan Wanita Indonesia Sedar atau Gerwis. Kelak, Gerwis ini berganti nama menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

Tahun 1959, Trimurti diangkat Bung Karno menjadi Anggota Dewan Nasional. Tahun berikutnya ia ditunjuk sebagai anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas). Dan pada saat itu, ketika Kabinet jatuh-bangun, Bung Karno menunjuk Trimurti sebagai Menteri Sosial. Tetapi Trimurti menolak. Ia merasa tidak bisa mengembang banyak tugas sekaligus. Ia menyampaikan keberatannya Bung Karno. Bung Karno agak marah dengan penolakan itu. “Mukanya menjadi merah, tapi dia tidak menyemburkan kemarahannya seperti biasa,” kenang Trimurti.

Namun, meski dekat dengan Bung Karno, bukan berarti Trimurti tidak pernah mengeritik. Ketika Bung Karno memutuskan menikah lagi, Trimurti melancarkan kritik. Ia menentang poligami. Bung Karno marah. “Saya tak ditegurnya,” kata Trimurti. Bahkan, ketika Bung Karno menyematkan Bintang Mahaputra ke dada Trimurti, muka Bung Karno cemberut. Namun, ketika Trimurti lulus dari Fakultas Ekonomi UI dan ada acara Wisuda, Bung Karno justru hadir. Hubungan Trimurti dan Bung Karno pun mencair.

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1962, Bung Karno menugasi Trimurti ke Yugoslavia untuk belajar Worker’s Management. Di sana ia belajar tentang gerakan buruh dan bagaimana buruh menjalankan pabrik. Tahun 1965, Trimurti kembali ke Indonesia. Namun, ia kurang sreg dengan kedekatan Bung Karno dan PKI. Maklum, Ia kecewa dengan Gerwani yang terkesan underbouw PKI.

Namun, kendati secara agak renggang, tetapi Trimurti sering menemui Bung Karno di Istana Negara. Di situ Bung Karno sering curhat dari masalah politik hingga keluarga. Begitulah, hingga akhirnya Bung Karno memenuhi panggilan Tuhan pada tanggal 21 Juni 1970. Bagi Trimurti, terlepas dari kelemahannya, Bung Karno adalah gurunya.

Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut