Bung Karno Dan Tiga Hal Pokok Dalam Pembangunan

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

(Sajak Sebatang Lisong, WS Rendra)

Inilah penggalan puisi WS Rendra yang mengeritik model pembangunan orde baru. Tak hanya itu, Rendra juga mengeritik model pendidikan yang hanya mereproduksi model pembangunan semacam itu.

Apa boleh buat, model pembangunan itu bukannya mengantarkan bangsa kita ke depan pintu gerbang masyarakat adil dan makmur, tetapi malah mengarahkan kita pada proses penjajahan ulang (rekolonialisme). Mayoritas rakyat kita tetap terbelenggu dalam kemiskinan, penyakit, dan kebodohan.

Di pihak lain, sebagian besar kekayaan alam kita telah berpindah-tangan ke perusahaan-perusahaan asing. Maka, penyair WS Rendra menganjurkan, “Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.”

Para penyelenggara negara, termasuk ekonom kita, malas belajar kepada para pendiri bangsa kita. Padahal, banyak sekali pemikiran-pemikiran pendiri bangsa  yang relevan dalam konteks membangun bangsa saat ini. Salah satunya adalah Bung Karno.

Bung Karno menyebut tiga hal pokok yang mesti dipersiapkan sebuah bangsa yang akan membangun: investasi keterampilan manusia (human skill investment), investasi material (material investment), dan investasi mental (mental investment).

Human skill investment menyangkut penyiapan keterampilan manusia Indonesia. Bagi Bung Karno, seusai perjuangan fisik menumbangkan kolonialisme dan imperialisme, kita memasuki tahap perjuangan baru: menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur. Untuk itu, kita perlu menundukkan alam agar bersahabat dan memenuhi kebutuhan manusia.

Dibangunlah sekolah-sekolah teknik di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, ribuan putra-putri Indonesia dikirim belajar di luar negeri, terutama ke Eropa Timur dan Uni Soviet. Mereka disebut Mahid (Mahasiswa Ikatan Dinas). Pada pidato pelepasan, Bung Karno berpesan agar mereka belajar sebaik-baiknya dan kembali ke tanah air untuk membangun negeri.

Apa mau dikata, kudeta Soeharto menggagalkan cita-cita itu. Sebagian besar putra-putri bangsa itu terhalang pulang dan sempat menjadi stateless di luar sana. Padahal, dalam jiwa mereka berkobar-kobar semangat membangun negeri.

Kemudian material investment. Ini menyangkut penyiapan berbagai material, seperti semen, besi, baja, aluminium, dan lain-lain, untuk kebutuhan pembangunan atau industrialisasi.

Bung Karno sangat yakin, tanpa kesiapan material yang cukup, tak mungkin pembangunan bisa dijalankan dengan baik. Kalau material tak ada, maka tak mungkin membangun jembatan, pelabuhan, industri mobil, industri kapal, dan lain-lain. Kita akan selalu bergantung pada impor bahan material dari luar.

Karena itu, pada masa Bung Karno dibangun industri baja Trikora di Cilegon. Kelak, industri baja ini beranama PT. Krakatau Steel. Dibangun pula industri semen di Padang (Sumatera Barat), di Gresik (Jatim) dan di Tonasa (Sulsel).

Industri dasar ini, seperti pabrik baja Trikora, merupakan industri induk (mother industry), yang nantinya akan membuka jalan bagi pembangunan industri otomotif, transporasi, elektronik, telekomunikasi, dan sebagainya.

Kemudian, yang terakhir, penyiapan mental manusia Indonesia (mental investment). Pembangunan mental ini bertujuan melahirkan manusia Indonesia baru, yang mental politiknya berdaulat, mental ekonominya berdikari, dan mental kebudayaannya berkepribadian bangsa Indonesia.

Manusia baru ini harus anti-imperialisme dan anti-kapitalisme. Dengan demikian, jiwa manusia baru ini bisa sejalan dengan pembangunan sosialisme Indonesia alias masyarakat adil dan makmur.

Bung Karno sering berseru-seru “nation and character building”. Katanya, keahlian atau pengetahuan teknik, jikalau tak dilandasi jiwa yang besar, tidak akan mungkin mencapai tujuannya. Ilmu pun harus dilandasi oleh sebuah jiwa. Ilmu harus didedikasikan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Namun, Bung Karno menekankan, tiga prasyarat tadi hanya bisa berjalan kalau disandarkan pada massa-rakyat. “Kita kerahkan kemajuan teknik ini bersama-sama dengan massa-rakyat, oleh karena tidak bisa pembangunan berjalan tanpa massa-rakyat,” kata Bung Karno.

Selain itu, Bung Karno mengingatkan, setiap manusia Indonesia harus punya dedication of life  (pembaktian yang seikhlas-ikhlasnya) kepada bangsa, kepada Rakyat, kepada Sosialisme, kepada penyelenggaraan tata dunia baru tanpa “exploitation de I’homme par I’homme” dan  “exploitation de nation par nation”.

Timur Subangun, Kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • MUCHAMAD ERWAN

    WHO CAN BUILD THIS COUNTRY winsome if NOT CARE ABOUT OUR GENERATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA …….