Bung Karno Dan Anarkisme

Ada beberapa faham politik yang kerap disalah-artikan. Salah satunya: anarkisme. Kata ‘anarkis’, misalnya, sering disematkan pada kejadian atau tindakan yang merusak fasilitas umum, kerusuhan massal, kekacauan, dan ketiadaan aturan.

Lantaran itu, kaum anarkis kerap dicap kaum perusuh, penentang ketertiban, dan tukang bikin onar. Kita juga kerap mendengar himbauan pemerintah dan aparatus keamanan yang meminta setiap orang atau kelompok yang hendak menggelar aksi massa untuk ‘tidak bertindak anarkis’.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘anarki’ diartikan sebagai: pertama, hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban; kedua, kekacauan (dalam suatu negara). Sedangkan kata ‘anarkisme’ diartikan sebagai ‘ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang’.

Di tahun 1932, Fikiran Ra’jat, koran milik Partai Nasionalis Indonesia (PNI), menurunkan tulisan berjudul ‘Anarchisme’. Tulisan tersebut merupakan buah tangan sang pemimpin redaksi koran pergerakan tersebut: Soekarno. Dalam tulisan tersebut, Bung Karno mengulas panjang lebar soal anarkisme sebagai sebuah faham politik.

Diawali dengan pengertian anarkisme secara harfiah. Kata Bung Karno, anarkisme terdiri dari tiga perkataan: A, archi, dan isme. “A artinya tidak. Archie artinya memerintah. Isme artinya faham. Jadi makna anarchisme ialah salah satu faham yang tidak suka sama pemerintahan,” tulis Bung Karno.

Menurut Bung Karno, seorang pemeluk anarkisme menentang bentuk kepemilikan pribadi. Karena itu, bagi dia, anarkisme merupakan sebuah faham yang anti-kapitalisme. Ia pun menggolongkan anarkisme sebagai salah satu aliran dalam sosialisme.

Kata Bung Karno, kaum anarkis setuju dengan persamaan milik atau kepemikan bersama. Sebab, kepemilikan bersama itu adalah ‘sesuatu hak dari manusia yang dapat menyelamatkan pergaulan hidup manusia’. Dengan kepemilikan bersama, seseorang punya hak dalam produksi barang dan syarat-syarat kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, perampasan hasil kerja orang lain akan lenyap. Kapitalisme akan tumpas!

Namun, kaum anarkis sendiri sering berseberangan dengan kaum sosialis. Karena kaum sosialis, dari varian yang moderat hingga radikal, masih percaya pada negara—dalam fase perkembengan tertentu—sebagai alat untuk mengorganisasikan masyarakat.

Bung Karno juga mengetahui, faham anarkisme menentang negara. Di mata kaum anarkis, kata Bung Karno, tiap-tiap pemerintahan pasti mengandung paksaan (koersif). Karenanya, kendati sebuah pemerintahan punya karakter demokratis atau kerakyatan, namun tetap saja punya celah untuk menindas kemerdekaan rakyat.

Peter Kropotkin, salah seorang bapak anarkisme, menegaskan bahwa anarkisme tidak hanya menyerang kapital, tetapi juga sumber utama kekuasaan kapitalisme: hukum, otoritas, dan negara. Karena itu, kaum anarkis mengimpikan sebuah masyarakat sosialis tanpa negara.

Kata Bung Karno, anarkisme juga memerangi patriotisme yang mengabdi pada cinta tanah air. “Patriotisme yang jadi agama baru, yang memisah-misahkan rakyat yang seharusnya hanya mempunyai tanah-air satu ialah menschheid (kemanusiaan),” tulis Bung Karno.

Anarkisme juga, kata Bung Karno, sangat mendukung kemerdekaan individu. Karena kemerdekaan individu merupakan hukum alam yang tak bisa dirampas oleh siapapun atau otoritas apapun. “Hanyalah di dalam keadaan merdeka seseorang itu bisa mendapat bahagia di hidupnya,” kata Bung Karno.

Yang menarik, dalam artikel tersebut, Bung Karno juga menyoroti soal hubungan laki-laki dan perempuan. Hubungan tersebut haruslah berlandaskan kemerdekaan kedua belah pihak. Termasuk dalam urusan percintaan. Kaum anarkis, kata Bung Karno, menganggap hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan harus berlandaskan dua hal: kemerdekaan bergaul dan kemerdekaan untuk memilih. Cinta sejati tidak akan mungkin lahir zonder (tanpa) kemerdekaan memilih pasangan.

Bung Karno juga membeberkan bagaimana cara pandang kaum anarkis dalam meletakkan kemerdekaan individu. Ia menjelaskan, kaum anarkis meletakkan kemerdekaan individu di atas masyarakat. “Seseorang hidup dan tumbuh menurut wataknya sendiri-sendiri dan juga menurut aanlegnya atau kodratnya sendiri-sendiri. Tiap-tiap kemajuan itu ialah terjadi dari tumbuhnya dan lahirnya benih-benih yang tersimpan dan hidup di dalam seseorang. Oleh karena itu, anarchisme itu di dalam hakikatnya ialah teori individualisme, teori yang menghargakan manusia lebih dari masyarakat,” tulis Bung Karno di akhir artikelnya.

Yang menarik, Bung Karno menganggap kaum anarkis tidak setuju dengan minuman keras. Sebab, minuman keras ini bisa merusak manusia secara lahir dan batin. Saya kira, ini murni pendapat Bung Karno. Benarkah demikian? Kaum anarkis bisa menjawab hal itu.

Secara politik, Bung Karno adalah politisi yang berseberangan dengan kaum anarkis. Pandangan politiknya menggabungkan ide-ide nasionalisme progressif dan sosialisme. Bung Karno percaya pada nasionalisme progressif sebagai senjata melawan kolonialisme. Ia juga percaya pada negara sebagai alat untuk mewujudkan cita-cita sosialisme.

Namun demikian, Bung Karno tidak buta dengan faham anarkisme. Ia mempelajarinya. Dalam beberapa pidatonya, Bung Karno sering menyebut nama bapak anarkisme: Bakunin.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut