Bung Karno Dalam Iklan Parpol

Partai politik makin tidak tahu diri. Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-67 lalu, sejumlah parpol berebut ruang iklan di Televisi. Ironisnya, dua partai politik busuk, yakni PAN dan Golkar, dengan tidak tahu malu “menjual” sosok Bung Karno pada iklannya.

Gara-gara itu kawanku mencak-mencak. Katanya, tindakan parpol itu benar-benar memalukan. Kawanku itu memang seorang pengagum Bung Karno. Ia banyak mengulas pemikiran Bung Karno.

“Apa yang salah dengan iklan itu,” tanyaku dengan ekspresi sangat memerlukan jawaban.

“Yang terjadi adalah semacam simulakrum—sebuah proses pembentukan kesadaran yang dihasilkan oleh strategi narasi dan pencitraan. Dengan menggunakan sosok Bung Karno, parpol itu hendak mencitrakan diri sebagai penerus cita-citanya, setidaknya sebagai pelanjut cita-cita kemerdekaan.  Apa benar demikian? Kau sudah tahu, di tangan partai-partai itu, cita-cita kemerdekaan kandas di tengah jalan. Golkar di bawah Orde baru sangat aktif menjalankan de-sukarnoisme. Sedangkan PAN merupakan sponsor utama pengamandemen UUD 1945—anak kandung Revolusi Agustus 1945 itu.”

“Tapi kan Bung Karno tokoh bangsa. Ia milik seluruh bangsa Indonesia, termasuk berbagai golongan politik di dalamnya. Lantas, kenapa PAN dan Golkar disalahkan?

“Ya, kalau ukurannya politik tanpa prinsip, PAN dan Golkar tidak salah. Tapi, bangsa ini dibangun oleh prinsip-prinsip. Dan bangsa ini akan mengalami kehancuran tatkala prinsip-prinsip yang membangunnya ditinggalkan. Kedua partai itu jelas anti-Soekarnoisme dan anti Revolusi Indonesia. Kedua partai itu lebih tepat disebut sebagai ‘agen neokolonialis’. Golkar memanipulasi Pancasila dan UUD 1945 untuk kepentingan kekuasaannya. Sedangkan PAN perusak UUD 1945. Mereka merupakan penghianat prinsip-prinsip pembangun bangsa ini.”

Aku tertegun mendengar jawabannya. Tempo hari aku pernah membaca artikel tentang kemarahan Gus Dur terhadap Amin Rais. Gus Dur menyebut Amien Rais melakukan kesalahan karena mengamandemen UUD 1945.  “Perubahan UUD itu telah diselundupkan oleh lembaga-lembaga asing melalui para anggota MPR yang waktu itu dipimpin oleh Prof. Dr. Amin Rais,” kata almarhum Gus Dur.

Aku kembali mengangkat wajahku dan menyodorkan pertanyaan, “kenapa mereka menggunakan sosok Bung Karno?”

Kawanku itu tak segera menjawab. Ia malah mengambil sebuah koran dan memperlihatkan sebuah artikel kepadaku. “Bacalah artikel itu, bung. Pesannya sangat jelas: para pemimpin sekarang gagal menjadi teladan politik.”

Katanya, pemimpin sekarang hanya sibuk berjuang untuk kepentingan pribadi dan golongan, sedangkan kepentingan rakyat terbengkalai. Negara dikelola di atas pertautan kepentingan penguasa yang berorientasi perorangan dengan kapital asing yang juga bermotifkan perorangan. Rakyat kehilangan panutan. Akhirnya, di tengah kekosongan, muncul ingatan tentang masa lalu. Salah satunya era bergemuruh di masa awal kemerdekaan. Pada masa itu, para pemimpin bertindak sebagai kemudi kepentingan rakyat. Bung Karno adalah salah satu sosok terkemuka jaman itu.

“Jadi, rakyat merindukan sosok seperti Bung Karno,” kataku berusaha menyimpulkan.

“Ya, ada kerinduan semacam itu. Dan parpol-parpol busuk itu berusaha merangkul rakyat dengan meminjam sosok Bung Karno. Mereka berusaha berlindung di balik kharisma Bung Karno.”

Sekarang ini, katanya, orang suka meminjam sosok tertentu untuk menutupi kelemahan dirinya. Ada yang meminjam sosok pahlawan besar. Ada pula yang menggunakan sosok musisi terkenal. Tidak sedikit pula yang berlindung di balik tokoh agama besar. Sampai-sampai ada kandidat dalam pemilihan Kepala Daerah yang meminjam sosok Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Kawanku menjelaskan, fenomena pemimpin kharismatik bisa dijelaskan dari dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang mistik, yakni seorang pemimpin berhasil memikat massa karena faktor-faktor manipulatif seperti takhyul. Kedua, sudut pandang material yang menganggap pemimpin terlahir oleh kondisi tertentu. Seorang pemimpin karismatik, kata tesis kedua ini, lahir karena si pemimpin sanggup menjawab tuntutan rakyat pada konteks zamannya.

“Dengan demikian, kalau mengikuti kesimpulanmu, seorang pemimpin adalah produk historis dan kondisi material tertentu. Artinya, setiap zaman akan melahirkan pemimpinnya.”

“Tepat sekali, bung, setiap pemimpin adalah produk jamannya. Bung Karno adalah produk masa revolusi pembebasan nasional. Di jaman sekarang, yang perkembangannya sudah melangkah sangat jauh, memerlukan tipe pemimpin tersendiri. Zaman ini akan melahirkan pemimpinnya.”

“Kapan pemimpin itu lahir?”

“Ya, ketika ada seorang tokoh perubahan yang sanggup menjawab persoalan atau tuntutan rakyat pada zamannya. Sayang, hal itu tak dimengerti elit politik saat ini. Mereka mau jadi pemimpin dengan mengaborsi hukum sosial. Akibatnya, yang terlahir adalah pemimpin karbitan yang gila pencitraan.”

Aku merenungkan pendapat kawanku itu. Ada benarnya juga. Aburizal Bakrie dan Hatta Radjasa bukan pemimpin yang dilahirkan oleh kebutuhan sosial. Mereka menjadi pemimpin karena punya kelicinan dalam memainkan permainan kepentingan.

Dan, tak perlu khawatir, iklan itu tak akan mengubah apapun. Rakyat juga tak sebodoh itu menganggap Aburizal Bakrie dan Hatta Radjasa sebanding dengan Bung Karno. Toh, paling-paling rakyat menganggap iklan itu rekayasa belaka.

Timur Subangun

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut