Bung Hatta: Kaderisasi Partai itu Penting!

hatta-madiun

Bisakah sebuah partai berdiri kokoh tanpa melakukan kaderisasi? Tentu saja tidak bisa, kata Bung Hatta. Alasannya, politik memerlukan kesadaran dan pengertian mendalam dari rakyat. “Kalau rakyat tidak punya keinsyafan dan pengertian, politik tidak bisa dijalankan,” ujarnya.

Bung Hatta mengingatkan, jika partai tidak menjalankan kaderisasi, maka anggota partai hanya akan menjadi “pembebek” keinginan pimpinannya. “Kebiasaan membebek itu tiada memperkuat pergerakan. Bahkan, itu akan membunuh pergerakan,” kata Bung Hatta.

Ada alasan kuat mengapa Bung Hatta menekankan pentingnya kaderisasi. Awalnya, Bung Hatta bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang diketuai oleh Bung Karno. Namun, pada tahun 1930, Bung Karno dan sejumlah tokoh PNI ditangkap. Penguasa kolonial menuding PNI sedang menyiapkan pemberontakan.

Begitu Bung Karno ditangkap, PNI langsung macet. Pimpinan partai di luar penjara ketakutan. Bahkan, pada Januari 1930, pimpinan PNI mengeluarkan arahan agar rakyat tetap diam dan tidak bergerak. Bung Hatta sangat kecewa dengan langkah mundur pimpinan PNI itu.

Puncaknya, pada April 1931, Kongres Luar Biasa (KLB) memutuskan untuk membubarkan partai. Bung Hatta marah besar. Menurutnya, tindakan yang dimotori pimpinan PNI itu sama saja dengan menikam diri sendiri.

Bung Hatta juga tak setuju dengan proses menuju pembubaran partai. Anggota luas PNI tidak dilibatkan dalam mendiskusikan nasib partai. Tiba-tiba, tanpa didahului rapat Afdeling/cabang dengan anggota luas, diselenggarakan KLB untuk memutuskan nasib partai.

“Perkataan kerakyatan hanya di bibir pemimpin saja, tetapi prakteknya tidak kelihatan,” ujar Bung Hatta. “Rakyat disangkanya seperti tikar tempat sapu kaki saja. Cukup disuruh bertepuk tangan ketika sang pemimpin berpidato,” tambahnya.

Akhirnya, Bung Hatta membangun partai sendiri: Pendidikan Nasional Indonesia (PNI)—sering disebut PNI Baru. Pada partai barunya, Bung Hatta menekankan arti penting pendidikan. “Sebab itu Pendidikan Nasional Indonesia bersifat pendidikan,” tegasnya.

Penekanan“pendidikan” ini bukan tanpa alasan. Bung Hatta beralasan, kemerdekaan Indonesia tidak akan tercapai dengan keinginan pemimpin-pemimpin pergerakan saja, melainkan oleh usaha dan keyakinan rakyat banyak. “Nasib rakyat ditentukan oleh rakyat sendiri,” katanya.

Namun, supaya rakyat siap berjuang, maka ia harus menyadari mengapa dan untuk apa ia berjuang. Dan proses penyadaran itu, salah satunya, melalui kaderisasi reguler, terencana, dan intensif.

“Kalau keyakinan itu sudah berkobar dan dipapah pula oleh imam perjuangan yang teguh, maka semangat rakyat sudah merdeka. Badan orang bisa dirantai, tetapi semangat merdeka tidak dapat diikat,” ujarnya.

Karena itu, menurut Bung Hatta, tugas untuk mendidik rakyat (kaderisasi) adalah melahirkan semangat merdeka. Semangat merdeka itu tidak bisa dibangun hanya dengan agitasi belaka. “Agitasi memang bisa membangkitkan rakyat banyak, tetapi tidak membentuk fikiran orang,” jelasnya.

Ada tiga bentuk kaderisasi yang dianjurkan oleh Bung Hatta:

Pertama, Pendidikan politik untuk memberi rakyat pengetahuan politik. Dengan begitu, rakyat menyadari mengapa ia harus berjuang, bagimana ia berjuang, dan tujuan perjuangannya. Pendidikan politik ini juga harus menanamkan pemahaman yang utuh mengenai Kedaulatan Rakyat sebagai dasar dari “Daulat Rakyat”.

Kedua, Pendidikan soal ekonomi untuk memberi pemahaman kepada rakyat mengenai azas perekonomian Indonesia nantinya, yakni kolektivisme (milik bersama).

Ketiga, Pendidikan Sosial untuk memberi pemahaman kepada rakyat mengenai sistem sosial agar mereka memahami penyakit sosial yang menggerogoti kehidupan nasional (?)

Adapun pengajaran calon anggota PNI adalah sebagai berikut: (1) Sejarah umum Indonesia secara garis besarnya, terutama sejarah timbulnya Boedi Oetomo (B) serta perbedaan antara kooperasi dan non-koperasi; (2) imperialisme dalam pertumbuhannya; (3) kapitalisme dalam perkembangannya; (4) Kolonialisme; dan (5) Kedaulatan Rakyat.

Selain itu, PNI Baru bacaan wajib untuk setiap kursus politik partainya, yakni: (1) terbitan Daulat Ra’jat; (2) Mohammad Hatta, Indonesia Vrij; (3) Mohammad Hatta, Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional Indonesia; (4) Soekarno, Indonesia Menggugat.

Sebagai organisasi kader, PNI baru memang selektif menerima anggota. Setiap calon anggota harus melalui proses uji sesuai dengan bahan pengajaran di atas. Targetnya: lahir kader yang sadar dan pandai serta bisa melaksanakan dan mempertahankan azas partai.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut