Bung Hatta Dan Konsep Kebangsaannya

Bung Hatta3

Konsep kebangsaan Indonesia sedang menghadapi ujian. Di satu sisi, konsep kebangsaan ini berhadapan dengan agresi dari luar, yakni neokolonialisme. Di sisi lain, secara internal, konsep kebangsaan ini terancam dikoyak oleh kesenjangan ekonomi dan meluasnya konflik berbau suku, agama, dan ras (SARA).

Kenapa bisa begitu? Saya kira, jawabannya sudah jelas: para penyelenggara negara saat ini telah bergeser jauh dari konsep kebangsaan kita. Gagasan-gagasan yang dulunya menjahit konsep kebangsaan kita, seperti pemikiran pendiri bangsa, sudah disapu bersih dari ruang-ruang politik dan akademis. Kita kemudian ramai-ramai memuja-muja konsep kapitalisme neoliberal.

Padahal, pada  tahun 1930-an, kita sudah punya konsep kebangsaan yang canggih dan bervisi jauh kedepan. Para pendiri bangsa, seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Tan Malaka, sudah menggagas konsep kebangsaan kita itu.

Artikel ini berusaha melihat cuplikan pemikiran Bung Hatta soal kebangsaan. Maklum, pada tahun 1932, melalui famplet politik “Ke Arah Indonesia Merdeka”, Bung Hatta sudah mengulas konsep kebangsaan kita. Dan, sedikit-banyaknya konsep kebangsaan kita dijahit dari serpihan pemikiran Bung Hatta.

Bagi Bung Hatta, tidak ada pergerakan kemerdekaan yang terlepas dari semangat kebangsaan. Artinya, perjuangan anti-kolonial apapun, sekalipun bercita-cita pada pembebasan manusia seutuhnya, tetap harus berpijak pada semangat kebangsaan.

Bung Hatta bahkan menegaskan, “cita-cita kepada persatuan hati dan persaudaraan segala bangsa dan manusia adalah bagus dan baik, akan tetapi, supaya tercapai maksud itu, haruslah dulu ada kemerdekaan bangsa.”

Artinya, kata Bung Hatta, hanya bangsa-bangsa dan manusia yang sama derajat dan sama merdeka yang bisa bersaudara. “Tuan dan budak susah mendapat persaudaraan, kan?” gugat Bung Hatta. Dengan demikian, persaudaraan atau humanisme seutuhnya pun tidak mungkin terwujud jikalau masih ada penindasan bangsa atas bangsa.

Kata-kata Bung Hatta ini menohok langsung pendirian kaum internasionalis maupun penganut humanisme universal, yang selalu menegasikan antara kebangsaan bagi kaum bangsa terjajah dan internasionalisme. Sebaliknya, Bung Hatta beranggapan, perjuangan kebangsaan bagi bangsa terjajah merupakan upaya pemulihan rasa kemanusiaan itu sendiri. Maklum, kolonialisme menginjak-injak martabat manusia.

Betapapun, Bung Hatta juga menyadari, ekspresi kebangsaan itu tidaklah tunggal. Ia sangat tahu, terkadang semboyan “membela kehormatan bangsa” digunakan oleh klas tertentu, termasuk kaum borjuis, untuk kepentingan ekonomi-politiknya. “Rakyat yang banyak hanya dipakai mereka sebagai perkakas saja. Rakyat menderita azab dunia di atas medan peperangan, menjadi umpan pelor dan gas racun,” kata Bung Hatta.

Bung Hatta pun membagi semangat kebangsaan dalam tiga kategori: ada kebangsaan ningrat, kebangsaan intelek, dan kebangsaan rakyat. Tiga kategori ini pernah eksis dalam sejarah perjuangan bangsa-bangsa di dunia.

Kebangsaan ningrat berarti kebangsaan yang menempatkan kaum ningrat di puncak kekuasaan. Artinya, sekalipun jumlah rakyat berlimpah-limpah, tetapi yang diakui keberadaannya hanya kaum ningrat. Dengan demikian, ketika Indonesia merdeka, kaum ningrat berkeinginan memegang kendali politik.

Kemudian, ada kebangsaan kaum intelek. Menurut cita-cita kebangsaan ini, kaum intelektual-lah yang harus memegang kekuasaan pasca Indonesia merdeka. Sebab, bagi mereka, negara ini tidak akan maju dan makmur kalau tidak dikemudikan oleh kaum intelektual. Memang, konsep kebangsaan ini menolak keras model kekuasaan turun-temurun menurut garis keturunan. Sebaliknya, mereka mengajukan bahwa hanya orang-orang cakap-lah yang pantas memimpin.

Selain itu, seperti dijelaskan Bung Hatta, konsep ini sangat meremehkan rakyat jelata. Bagi mereka, rakyat miskin itu lebih banyak bekerja untuk mencari nafkah hidup, sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan politik. Karena itu, mereka tak usah diberi ruang untuk mengurus kehidupan negeri. Mereka cukup mengikut saja.

Bung Hatta menolak dua konsep kebangsaan di  atas. Ia lebih tertarik pada konsep kebangsaan ketiga, yakni kebangsaan rakyat. Bagi konsep ini, kebangsaan apapun tidak akan berguna tanpa adanya rakyat. Pemerintahan yang berjalan mestilah berdasarkan kemauan atau kehendak rakyat. Pendek kata, konsep ini menempatkan rakyat di atas singgasana kekuasaan.

Konsep kebangsaan Bung Hatta meletakkan rakyat sebagai protagonis-nya. Ia meletakkan rakyat sebagai dasar dari eksistensinya bangsa itu sendiri. Memang, tak ada bangsa tanpa rakyat. “Dengan rakyat kita akan naik dan dengan rakyat kita akan turun,” tandasnya.

Bangsa adalah kumpulan manusia yang tersusun sekaligus terbelah. Ada bangsa, seperti Indonesia, berhasil disusun dari keragaman suku, agama, dan adat-istiadat. Namun, pada aspek lain, masyarakat Indonesia itu terbelah dalam klas-klas. Dengan demikian, bangsa bukanlah sebuah komunitas yang stabil.

Tetapi Bung Hatta—juga Bung Karno—sudah menyadari keadaan itu. Karena itu, dalam menyusun konsep kebangsaannya, Bung Hatta memperlihatkan keberpihakan yang jelas dan tegas kepada rakyat banyak. Bung Hatta, seperti juga Bung Karno, tidak menghendaki Indonesia merdeka jatuh ke tangan ningrat, borjuis, ataupun di tangan segelintir kaum intelektual. Bung Hatta menghendaki agar Indonesia merdeka jatuh di bawah kekuasaan rakyat.

Konsep kebangsaan Bung Hatta tidaklah bervisi pendek. Ia tak sekedar mengejar kemerdekaan. Akan tetapi, kebangsaan Bung Hatta menghendaki sebuah masyarakat yang bisa menegakkan kemanusiaan setingi-tingginya, tanpa diganggu oleh penghisapan dan penindasan dalam bentuk apapun.

Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut