Bung Hatta Dan Soal Gaya Hidup Pemimpin Pergerakan

Minggu lalu, 1 Desember 2011, saya tidak sengaja menemukan sebuah buku berisi kumpulan beberapa tulisan Bung Hatta. Tanpa menunggu lama, saya pun berselancar mengarungi buku yang sudah agak lusuh tersebut.

Bung Hatta membahas banyak tema dalam buku itu. Salah satunya adalah soal organisasi dan pergerakan. Dan, lebih menarik lagi, salah satu ulasannya adalah soal “pemimpin dan penghidupannya”. Ia berusaha menjawab perdebatan penting: bagaimana seorang pemimpin pergerakan mengatasi soal-soal hidupnya.

Maklum, pemimpin juga manusia biasa: ia punya kebutuhan hidup. Tidak sedikit pemimpin yang berganti haluan hanya karena urusan perut. Banyak pula organisasi perjuangan yang berjalan ‘setengah mati” hanya karena sebagian besar pemimpinnya sibuk bekerja dan mencari penghidupan.

Bagi Bung Hatta, seorang pemimpin haruslah mengambil beban yang lebih berat; ia harus tahan sakit dan tahan terhadap cobaan; ia juga tidak boleh berubah hanya karena kesusahan hidup. “Keteguhan hati dan keteguhan iman adalah conditio sine qua non (syarat yang utama) untuk menjadi pemimpin,” kata Bung Hatta.

Pada jaman itu, sebagian pemimpin pergerakan hidup dari honor membuat tulisan di koran-koran. Muncul pertanyaan: bolehkan seorang pemimpin menulis di koran lain yang bukan koran partainya? Ini penting untuk dijawab. Sebab, bagi sebagian orang jaman itu, menulis di koran lain adalah sebuah pelanggaran prinsip.

Bung Karno, seorang tokoh pergerakan jaman itu, sering sekali menulis di koran lain untuk mendapatkan honor. Dengan begitulah, misalnya, ia mendapatkan uang untuk mentraktir istri dan kawan-kawannya.

Menjawab persoalan itu, Bung Hatta pun mencomot pengalaman Karl Marx. Maklum, di mata Bung Hatta, Karl Marx adalah orang yang paling teguh memegang prinsip. Karl Marx, kata Bung Hatta, mau menulis di majalan yang berlawanan dengan keyakinan politiknya. Asalkan: koran itu memuat buah-fikiran Karl Marx dengan tidak dibatasi.

Bahkan, bagi Bung Hatta, menulis di koran lain bermakna memperluas propaganda kepada massa rakyat. Dengan menulis di surat kabar umum, yang pembacanya seluruh glongan, kaum pergerakan bisa menyebar-luaskan pandangan-pandangan politiknya secara terbuka.

Pertanyaan lain yang coba di jawab Bung Hatta adalah soal bagaimana pemimpin pergerakan menafkahi hidupnya. Apalagi jika pemimpin tersebut sudah punya keluarga yang harus dipenuhi kebutuhannya.

Dalam banyak kasus, para pemimpin pergerakan harus bekerja di tempat lain untuk mencari penghasilan. Sebagai konsekuensinya, sang pemimpin pun berkurang keaktifan dan kontribusinya bagi partai. Ini terkadang membuat organisasi seolah mati-suri.

Bung Hatta berusaha menjawab problem ini. Ia mengusulkan agar seluruh kebutuhan hidup seorang pemimpin pergerakan ditanggung oleh partai atau organisasinya. Hal ini untuk memastikan pemimpin atau pengurus puncak partai bisa bekerja 100% untuk pergerakan.

Bagaimana jika partainya adalah partai marhaen? Jika menghidupi dirinya saja tidak sanggup, apalagi membayar iuran. Untuk soal ini, Bung Hatta menganjurkan agar dilakukan pelan-pelan. Ia pun mengusulkan agar iuran disesuaikan dengan penghasilan setiap anggota. Kader atau anggota yang berkemampuan harus menyumbang ke partai lebih banyak.

Bagi Hatta, sebagai seorang revolusioner, kita harus memberikan tenaga dan harta seberapapun kepada partai dan pergerakan. Jadi, bukan kita yang menumpang hidup kepada partai, atau menjadikan pergerakan sebagai sumber penghidupan.

Akan tetapi, besaran gaji seorang pemimpin partai atau pemimpin gerakan harus disesuaikan kebutuhan minimum untuk bertahan hidup dan kemampuan anggaran dari partainya. Seorang pemimpin harus bisa hidup sederhana, sehingga biaya hidupnya tidak terlalu banyak.

Setelah membaca uraian Hatta di atas, saya menjadi tahu mengapa kehidupan para pemimpin pergerakan saat itu sangat sederhana. Bahkan ketika mereka menjadi pemimpin Republik pasca proklamasi, para pemimpin pergerakan ini tetap mempertahankan kesederhanaannya.

Bung Karno, misalnya, sebagian besar pakaiannya dijahit dan dipermak sendiri. Bahkan, salah satu seragam kebesarannya adalah pakaian bekas militer wanita Australia. Begitu juga dengan Bung Hatta; ia menabung bertahun-tahun hanya untuk membeli sepatu kesukaannya.

Seorang aktivis haruslah menekan biaya hidupnya. Ia harus sanggup hidup sederhana seperti rakyat yang diperjuangkannya. Kalaupun si aktivis keturunan orang kaya, ada baiknya tetap menampilkan kesederhanaan.

Sekarang, ada banyak aktivis yang gaya-hidupnya sangat mewah; dari pemilikan barang-barang kebutuhan hidup, pergaulan, dan lain-lain. Hal itu membuatnya harus mencari uang yang banyak untuk membiayai hidupnya yang mahal itu. Tidak sedikit aktivis menggadaikan “perjuangannya” demi membiayai gaya-hidupnya yang mahal itu.

KUSNO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Mas Kusno yb.
    saya tertarik dengan buku yang telah Mas Kusno baca ini, apakah saya bisa memperolehnya.? judulnya apa ya.? apakah masih di cetak oleh media sekarang.?
    mungkin moderator juga bisa membantu saya utk memperoleh buku ini.
    terimakasih sebelumnya.
    berikut ini email saya: [email protected]
    mngkin ada informasi yang berhubungan dengan keberadaan buku tsb.

    Salam
    Ven