Bung Hatta dan Cuplikan Pikirannya Soal Industrialisasi

Bung Hatta Pontianak

Saya menemukan buku itu sudah lusuh di kios buku-buku loak. Saya terperanjak tatkala melihat nama penulisnya: Mohammad Hatta. Sepintas lalu buku itu mirip buku tentang Undang-Undang, tetapi ternyata kumpulan esai mengenai ekonomi.

Buku itu berjudul “Beberapa Fasal Ekonomi”. Dari keterangan di sampulnya, buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1942, ketika Indonesia masih di bawah pendudukan Jepang, entah oleh penerbit mana. Dalam kata pengantarnya, Bung Hatta menjelaskan bahwa buku ini merupakan kumpulan karangannya semasa di Digul dan Banda Neira, antara tahun 1935-1941.

Buku ini kembali diterbitkan pada September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan. Buku yang saya pegang adalah cetakan kelima, yang diterbitkan oleh Perpustakaan Perguruan Kementerian PP dan K. Jakarta, tahun 1954.

Saya menemukan buku itu di kumpulan buku-buku loak, tetapi terang sekali bahwa gagasan dalam buku itu (dan banyak buku loak lainnya) masih sangat relevan dan sangat canggih untuk menjawab persoalan sekarang. Setidaknya dalam ranah gagasan dan konsepsi.

Dalam deretan tokoh-tokoh pendiri bangsa Indonesia, Bung Hatta adalah salah seorang pemikir yang banyak mengulas soal ekonomi. Ekonomi kerakyatan dan Koperasi, dua kata yang populer bagi kaum pergerakan, dianggap identik dengan gagasan ekonomi Bung Hatta.

>>>

Satu hal yang paling menarik perhatian saya dari buku itu adalah gagasan Bung Hatta mengenai industrialisasi. Maklum, sedikit sekali tema soal industrialisasi saya temukan dari pendiri bangsa asal tanah Minangkabau ini.

Pada tahun 1915, sebagaimana diceritakan Hatta, pemerintah kolonialis Belanda sebetulnya sudah merancang cara untuk mengindustrialisasi negeri jajahan bernama Hindia-Belanda ini. Dibentuklah sebuah komisi untuk menyelidikan hal-hal untuk memajukan “fabrieksnijverheid”. Tetapi cita-cita itu kandas di tengah jalan.

Apa Industrialisasi itu? Itulah pertanyaan yang harus segera dijawab.

Sekedar membangun pabrik di sana-sini, menurut Bung Hatta, belum bisa dikatakan industrialisasi. Bung Hatta menulis begini: “Pun tanah Jawa, yang begitu banyak mempunyai pabrik, belum boleh disebut negeri industri, sebab rata-rata penghidupan rakyatnya bergantung kepada pertanian.”

Menurut Hatta, suatu negeri dikatakan menjalankan industrialisasi jikalau dasar perekonomiannya telah berubah dari pertanian menjadi industri. Artinya: pertanian mulai ditinggalkan, lalu masyarakat bergerak menuju industri.

Pertanian dianggap tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Jumlah penduduk semakin berkembang, sedangkan produktifitas pertanian sudah stagnan. Maka, jalan industrialisasilah sebagai jalan keluarnya.

Menariknya, dalam usalan Bung Hatta di buku itu, tujuan industrialisasi dipararelkan dengan kemakmuran rakyat. Bung Hatta memang konsisten sejak awal, bahwa tujuan pengorganisiran ekonomi haruslah bermuara pada kesejahteraan rakyat.

Karena itu, supaya industrialisasi bisa mensejahterakan rakyat, maka jenis industri yang dibangun pun haruslah bisa memproduksi seluruh kebutuhan rakyat dan mempekerjakan banyak tenaga buruh. Bung Hatta kurang setuju kalau keseluruhan industri mengandalkan pertanian. Sebab, selain memerlukan tanah yang luas, industri pertanian juga sangat sedikit dalam menyerap tenaga kerja.

Menurut saya, di sini Bung Hatta tidak sepenuhnya benar. Justru, untuk memberi dasar kepada industrialisasi yang kuat, maka ia harus dibangun dari pertanian: Industri olahan hasil pertanian dan bahan mentah dari alam. Inilah yang disebut sebagai pembangunan pertanian sebagai dasar dari industrialisasi.

>>>

Banyak golongan kiri, terutama dari generasi yang lebih tua, tidak suka dengan pribadi dan kebijakan politik-ekonomi Hatta. Selain karena dianggap arsitek pembasmian kaum kiri pada tahun 1947-1948, Bung Hatta, seperti halnya Sutan Sjahrir dan banyak eksponen Partai Sosialis Indonesia (PSI), dianggap kolaborator imperialis.

Saya tidak bermaksud membahas polemik itu. Tetapi, merujuk pada karya bung Hatta yang saya pegang ini, Ia sangat tidak setuju jika industrialisasi disandarkan kepada modal asing. Di buku itu Bung Hatta menulis sebagai berikut:

    “Soal kapital menjadi halangan besar untuk memajukan industrialisasi di Indonesia. Rakyat sendiri tidak mempunyai kapital. Kalau industrialisasi mau berarti sebagai jalan untuk mencapai kemakmuran rakyat (cetak miring sesuai aslinya), mestilah kapitalnya datang dari pihak rakyat atau pemerintah. Karena, kalau kapital harus didatangkan dari luar, tampuk produksi terpegang oleh orang luaran.
    Pedoman bagi mereka untuk melekatkan kapital mereka di Indonesia ialah keuntungan. Keuntungan yang diharapkan mestilah lebih dari pada yang biasa, barulah berani mereka melekatkan kapitalnya itu. Supaya keuntungan itu dapat tertanggung, maka dikehendakinya supaya dipilih macam industri yang bakal diadakan, dan jumlahnya tidak boleh banyak. Berhubung dengan keadaan, industri agraria dan tambang yang paling menarik hati kaum kapitalis asing itu.
    Dan, dengan jalan itu, tidak tercapai industrialisasi bagi Indonesia, melainkan hanya mengadakan pabrik-pabrik baru menurut keperluan kapitalis luar negeri itu saja. Sebab itu, Industrialisasi Indonesia dengan kapital asing tidak dapat diharapkan. Apalagi mengingat besarnya resiko yang akan menimpa kapital yang akan dipakai itu. Industrialisasi dengan bantuan kapital asing hanya mungkin, apabila pemerintah ikut serta dengan aktif, dengan mengadakan rencana yang dapat menjamin keselamatan modal asing itu. (Hal. 141)

Dari kutipan panjang di atas, saya melihat bahwa Hatta juga menganggap modal asing tidak bisa dijadikan faktor utama untuk mendorong industrialisasi di Indonesia. Pemikiran ini sangat bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah dan resep banyak ekonom jebolan sekolah luar negeri.

Di jaman itu, John Maynard Keynes, ahli ekonomi Inggris yang terkenal itu, sudah mulai mengembangkan teorinya. Saya tidak tahu, apakah Hatta pernah membaca secara tuntas tulisan-tulisan Keynes. Tetapi ada kemiripan, meskipun tidak persis sama, antara buah fikiran Keynes dan Hatta.

Kalau Keynes berbicara tentang permintaan agregat sebagai penggerak perekonomian, maka Hatta berbicara tentang perekonomian sebagai konsumsi rakyat. Menurut Hatta, jika proses industrialisasi mau dijalankan, maka kemampuan konsumsi rakyat pun harus ditingkatkan.

Bung Karno tidak terlalu suka dengan ekonomi yang berorientasi ekspor. Baginya, penyebab kelemahan ekonomi Indonesia di masa lampau, sehingga sangat mudah dikoyak-koyak oleh konjungtur dunia, adalah karena terletak pada “export-economie”.

Sebagai solusinya, menurut Hatta, baik untuk perusahaan kecil maupun besar, adalah pengelolaan dalam bentuk k-o-p-e-r-a-s-i. Itulah inti dari pemikian Bung Hatta mengenai industrialisasi.

KUSNO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut