Botol Pepsi dan Perlawanan

Iklan terbaru Pepsi menuai protes dan hutajan. Pasalnya, iklan yang menampilkan model terkenal Kendall Jenner itu dianggap melecehkan aksi demonstrasi sebagai sarana menyampaikan protes atau menyalurkan pendapat.

Dalam iklan itu digambarkan sedang berlangsung aksi demonstrasi. Di saat bersamaan, Kendall sedang melakukan sesi pemotretan. Tak lama kemudian, model sekaligus presenter televisi ini melepas wig dan menghapus tata rias wajahnya, lalu bergabung dengan massa demonstran. Dia kemudian mengambil sekaleng pepsi dan memberikannya kepada seorang polisi. Sang polisi menenggak sekaleng pepsi itu, lalu tersenyum, disambut sorak-sorai massa demonstran.

Iklan itu menuai protes, terutama oleh gerakan Black Live Matter (BLM). BLM merupakan gerakan protes yang dilakukan oleh komunitas Afro-Amerika untuk memprotes rasialisme di Amerika serikat, termasuk berbagai kasus pembunuhan kulit hitam oleh polisi setempat.

Bagi aktivis BLM, iklan tersebut seakan ingin mengabaikan aksi kekerasan polisi di AS yang makin marak akhir-akhir ini. Tidak hanya terhadap kulit hitam, tetapi juga terhadap setiap aksi protes yang diselenggarakan oleh warga AS. Termasuk pergerakan Occupy Wall Street dan anti-Trump.

“Jika saya menenteng sekaleng minuman bersoda itu, saya ternyata tidak akan ditahan pihak keamanan. Pepsi, iklan kalian sampah!” kecam aktivis BLM, DeRay McKesson, melalui akun Twitter-nya.

Apalagi, iklan tersebut ada kemiripan dengan foto Ieshia Evans, seorang aktivis BLM, yang berdiri di hadapan dua polisi anti hur-hara berkulit putih. Foto tersebut sempat viral ke seantero dunia melalui media sosial.

Foto yang diberi judul “Taking A Stand In Baton Rouge”, menggambarkan seorang aktivis BLM, Ieshia Evans, berdiri di hadapan polisi anti huru-hara.

Lebih parah lagi, keluarnya iklan itu bertepatan dengan hari meninggalnya bapak pejuang hak-hak sipil Amerika Serikat, Martin Luther King, Jr, tanggal 4 April lalu. Martin Luther merupakan tokoh kulit hitam yang menggerakkan aksi protes anti-rasialisme di tahun 1960-an. Dia dibunuh 4 April 1968 oleh pembunuh bayaran.

Bertolak belakang dengan iklan pepsi ala Kendall Jenner yang terkutuk itu, botol pepsi pernah menjadi ikon perlawanan. Itu terjadi di Nikaragua di akhir 1970-an. Saat itu Nikaragua sedang diperintah oleh diktator bernama Anastasio Somoza Debayle. Somoza dikenal sangat dekat dan disokong penuh oleh Amerika Serikat.

Gerakan perlawanan terhadap Somoza dipimpin oleh sebuah partai kiri, Front Pembebasan Nasional Sandinista (FSLN), atau sering disingkat Sandinista. Di tahun 1979, rezim Somoza sudah di ujung tanduk. Pemberontakan sipil terjadi di mana-mana.

Saat itu seorang fotografer asal Amerika Serikat, Susan Meiselas, berkeinginan mengabadikan pergolakan di Nikaragua itu lewat sebuah foto. Dia berhasil menjepret seorang pemuda aktivis Sandinista sedang melemparkan bom molotov dari botol pepsi ke arah garnisun Garda Nasional rezim Somoza.

Pemuda itu, dengan baret khas Sandinista di kepalanya, tidak hanya sedang melemparkan molotov dengan tangan kanannya, tetapi tangan kirinya sedang menenteng senjata. Pemuda itu diketahui bernama Pablo de Jesus “Bareta” Araúz, seorang pejuang Sandinista.

Foto itu kemudian dipublikasikan oleh Susan pada Juli 1979 dengan judul “Molotov Man”. Dan, meskipun jaman itu belum ada medsos, tetapi foto itu langsung viral. Foto itu masuk dalam “100 photo most influential all the time”.

Segera setelah Sandinista berkuasa di tahun 1979, foto tersebut menjadi satu ikon revolusi Sandinista, menyebar massal ke seantero Nikaragua dalam bentuk cetakan kaos, famplet, selebaran, buku-buku, billboard, dan lain-lain.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut