Bolivia Sahkan UU Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Perempuan Bolivia

Tanggal 9 Maret 2013 lalu, sehari setelah peringatan Hari Perempuan Sedunia, pemerintah Bolivia mengesahkan Undang-Undang baru untuk memerangi berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan.

UU tersebut menjamin hak kaum perempuan untuk hidup bebas dari berbagai bentuk kekerasan. Di dalam UU ini diciptakan kerangka normatif untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, pelayanan khusus untuk korban pelecehan, dan hukuman seberat-beratnya bagi pelaku kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan.

Sebelumnya, Bolivia sudah punya UU untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Namun, bagi gerakan perempuan, UU tersebut belum secara komprehensif bisa melindungi kaum perempuan. Karena itu, dibuatlah UU baru ini.

Dalam UU baru ini, hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan dinaikkan, dari 4 hingga 10 tahun menjadi 20 hingga 30 tahun. Selain itu, di dalam UU ini ditegaskan, suami yang memaksakan hubungan seksual terhadap istrinya sebagai pemerkosaan dan dikategorikan kejahatan.

UU ini juga memasukkan kejahatan femicide—tindakan membunuh perempuan karena ia perempuan—sebagai kejahatan berat dan dijatuhi hukuman penjara 30 tahun tanpa kompromi.

UU ini juga membuat 15 kategori kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan terhadap kehormatan, martabat, dan nama perempuan; kekerasan ekonomi dan patrimonial; dan kekerasan institusional, yakni tindakan menghalangi perempuan mengakses layanan publik.

Bahkan, menurut UU ini, pernyataan melecehkan dan merendahkan martabat perempuan di media massa dikategorikan sebagai kejahatan terhadap perempuan. Penggunaan bahasa seksis masuk kategori kekerasan terhadap perempuan.

UU ini juga menjamin adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga negara, tanpa memandang asal-usul etnis dan orientasi seksual. Penegasan ini penting karena, di Bolivia, masyarakat asli/pribumi cukup lama mengalami perlakuan diskriminatif.

Tak hanya itu, UU baru Bolivia ini juga mendorong kurikulum pendidikan agar lebih menghargai kesetaraan gender dan HAM.

Dalam hal kekerasan ekonomi, UU ini mendefenisikan bahwa tindakan menghalangi perempuan mengakses sumber daya ekonomi dan penghidupan yang lebih baik sebagai tindakan kekerasan terhadap perempuan. Dengan demikian, perlakuan diskriminatif terhadap perempuan di tempat kerja akan dikategorikan kekerasan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memuji UU baru Bolivia ini. “Kami menyambut terbitnya, pada 9 Maret 2012, UU komprehensif untuk menjamin perempuan bebas dari kekerasan di Bolivia, yang memperluas perlindungan terhadap perempuan dari berbagai kekerasan dan menetapkan penghapusan kekerasan terhadap perempuan sebagai agenda prioritas negara,” kata Juru bicara PBB, Rupert Colville, di Jenewa.

Kekerasan terhadap perempuan memang masalah besar di Bolivia. Terutama kasus feminicidios atau femicide. Tahun lalu, ada 150 kasus pembunuhan terhadap perempuan yang dikategorikan femicide.

Sebuah LSM perempuan menyebutkan, 70% hingga 80% perempuan di Bolivia pernah menerima perlakuan kekerasan. Angka ini termasuk tertinggi di kawasan Amerika Latin. Selain itu, hampir 100.000 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terlaporkan setiap tahunnya. Sebagian besar kekerasan itu berlangsung di dalam rumah tangga.

Seperti Februari lalu, seorang letnan Polisi menikam mantan istrinya, Hanalí Huaycho, sebanyak 15 kali. Pada hari yang sama, seorang wanita di Santa Cruz ditikam 17 kali oleh suaminya.

Kemudian, pada Desember 2012 lalu, publik Bolivia juga digemparkan oleh aksi pemerkosaan yang dilakukan oleh dua anggota Majelis Departemen Chuquisaca terhadap seorang karyawatinya yang sedang pingsan seusai perayaan natal di kantornya. Aksi pemerkosaan itu terekam kamera keamanan.

Maraknya kasus kekerasan itu memicu kemarahan perempuan Bolivia. Bahkan, istri Wakil Presiden turut dalam demonstrasi menentang kekerasan terhadap perempuan di Ibukota Bolivia, La Paz, yang berakhir dengan serangan gas air mata oleh Polisi.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut