Bolivia Nasionalisasi Perusahaan Pengelola Bandara

Presiden Bolivia, Evo Morales, di tengah-tengah rakyatnya.

Bolivia terus berjuang untuk merebut kembali kedaulatan ekonominya. Kemarin, Senin (18/2), Presiden Evo Morales menasionalisasi perusahaan pengelola bandara, Servicios Aeroportuarios Bolivianos, S.A (SABSA).

SABSA merupakan anak perusahaan infrastruktur Spanyol, Abertis. Dengan langkah nasionalisasi itu, tiga bandara yang dikelola oleh SABSA, yakni di  El Alto (La Paz), Viru Viru-(Santa Cruz), dan Wilsterman (Cochabamba), langsung dikuasai oleh negara Bolivia.

Segera setelah pengumuman Evo Morales, tentara Bolivia langsung bergerak dan menduduki bandara tersebut.  “Saya ingin rakyat Bolivia mengetahui nasionalisasi SABSA,” kata Morales dalam pidato di Televisi.

Menurut Evo Morales, perusahaan asal Spanyol tersebut gagal memenuhi komitmen investasi sejak beroperasi dua dekade lalu. “Keuntungan selangit, tetapi sedikit sekali jatuh ke rakyat Bolivia,” ujar Evo.

Evo mengungkapkan, SABSA berinvestasi sebesar 3,7 juta dollar dan membuat keuntungan 20 juta dollar. “Sekarang ini SABSA mengelola dana 430 juta dollar setiap tahunnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Evo Morales menyatakan, pihaknya akan meminta auditor independen untuk menghitung biaya yang pantas sebagai kompensasi atas nilai aset SABSA.

Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy langsung kebakaran jenggot begitu mendengar langkah Bolivia tersebut. Ia meminta negara-negara Amerika Latin, khususnya Bolivia, untuk menghormati investasi Spanyol di kawasan tersebut.

SABSA adalah perusahaan ketiga milik Spanyol yang dinasionalisasi oleh Evo Morales dalam setahun terakhir. Sebelumnya, pada Mei 2012, Evo Morales menasionalisasi perusahaan listrik terbesar milik Spanyol,  Red Electrica, yang menguasai 75% pasokan listrik di kawasan Amerika Latin.

Lalu, pada akhir Desember 2012 lalu, Evo Morales juga menasionalisasi  menasionalisasi perusahaan listrik milik Spanyol, Iberdrola. Juni tahun lalu, Ia menasionalisasi korporasi raksasa Glencore, yang menguasai produksi timah dan seng.

Sejak berkuasa tahun 2006, Evo Morales telah berhasil mengambil-alih kembali sejumlah aset strategis Bolivia, perusahaan minyak dan gas, telekomunikasi, pertambangan, dan listrik.

Banyak yang menuding Evo Morales anti-investasi asing. Namun, Evo Morales langsung membantah dengan mengatakan, “Bolivia butuh mitra yang saling menguntungkan, bukan Tuan yang menghisap.”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut