Betapa Rusaknya Demokrasi Saat ini

Saat memberi pembekalan kepada peserta Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVII Lemhannas tahun 2011 di Istana Wapres, senin (19/7), Wakil Presiden Budiono telah mengingatkan soal ancaman gagalnya sistem demokrasi.

Menurut Wapres Budiono, ada dua faktor yang menyebabkan demokrasi bisa mengalami kegagalan, yaitu: pertama, disfungsionalitas, dan kedua, degenerasi atau pembusukan dari dalam yang terus menerus secara gradual namun pasti yang pada akhirnya membuat demokrasi gagal.

Dalam 13 tahun terakhir ini, Indonesia masih terus menapaki jalan demokrasi. Dalam mengevaluasi proses perjalanan itu, ada dua pendapat besar yang selalu muncul dan mengemuka: pertama, mereka yang beranggapan bahwa proses demokrasi kita sudah mengarah pada kemajuan dan, karena itu, akan menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia. kedua, demokrasi kita sekarang ini berjalan pada arah yang salah, sudah kebablasan, sehingga perlu dikoreksi kembali.

Sebetulnya Budiono berada pada golongan yang pertama. Tetapi, entah karena apa, dia merasa sangsi sendiri dengan apa yang menjadi kesimpulan golongan pertama. Dalam uraiannya, Budiono menjelaskan bahwa demokrasi yang disfungsionalitas tidak memberi manfaat dan sering diikuti delegitimasi atau hilanganya kepercayaan rakyat.

Apa yang disampaikan Budiono ada benarnya. Sejak satu dekade terakhir, ekspektasi rakyat terhadap kemajuan demokrasi semakin nihil. Sekarang ini muncul sebuah gejala yang sangat umum dan nyata; krisis kepercayaan terhadap politik, partai dan politisi.

Akan tetapi, kenyataan itu justru memperkuat pernyataan bahwa demokrasi liberal memang diperlukan untuk menjaga kelangsungan neoliberalisme. Jika kediktatoran militer memukul partisipasi rakyat dengan kekerasan, maka demokrasi liberal menjauhkan rakyat dari politik dengan menebarkan apatisme dan sinisme terhadap politik. Artinya, proses ketidak-percayaan rakyat terhadap demokrasi yang kian besar itu adalah sebuah kondisi yang diperlukan oleh sistem neolibralisme untuk tetap bekerja.

Lebih lanjut, Budiono juga mengatakan, apabila mekanisme pasar seperti tadi masuk dalam ranah politik, maka demokrasi kehilangan alasan eksistensinya. “Begitu suara rakyat dikemas menjadi komoditi ekonomi yang ditawarkan maka demokrasi kehilangan landasan idealnya. Vox populi vox dei tidak berlaku lagi.”

Dengan demikian, kita patut bertanya: apakah kekhawatiran Budiono hanyalah sebuah kepura-puraan ataukah ia memang insyaf dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh penerapan demokrasi liberal dan juga liberalisme ekonomi.  Sebab, sebagaimana juga orang mengetahui, Budiono adalah penganjur paling terdepan ajaran liberalisme ekonomi.

Kita juga tahu, ketika Uni-Soviet dan Eropa Timur runtuh, lalu Tiongkok dianggap ditaklukkan oleh ekonomi pasar, para penganut liberalisme bersuka ria dengan ‘matinya ideologi’. Menurut mereka, ‘perjuangan untuk diakui, kehendak untuk mengambil risiko mati bagi sebuah cita-cita yang sepenuhnya abstrak, pergulatan ideologis sedunia yang menggugah tualang, keberanian, imajinasi, dan idealisme, akan digantikan oleh perhitungan ekonomis, keprihatinan soal lingkungan dan pemuasan permintaan konsumen yang kian canggih.’

Kini, mereka mestinya merayakan lahirnya kompetisi politik yang tidak dilandasi oleh seperangkat ide dan gagasan, melainkan oleh uang dan penampilan verbalistik semata. Bukankah itu yang mereka inginkan? Matinya nasionalisme, sosialisme, fundamentalisme, dan semua isme-isme yang menghalangi kapitalisme.

Dulu, di tahun 1959, Bung Karno mengutuk demokrasi liberal. “Bukan free fight liberalism yang harus kita pakai, melainkan suatu demokrasi yang mengandum manajemen di dalam arah mencapai tujuan yang satu, yaitu masyarakat keadilan sosial,” begitu kata Bung Karno.

Seharusnya, ketika Budiono berbicara soal ancaman kegagalan demokrasi saat ini, ia juga mestinya melihat pangkal penyebabnya: kegagalan sistem ekonomi yang membawa malapetaka pada sebagian besar rakyat. Karena demokrasi yang gagal itu juga dimaksudkan untuk menjaga sistem ekonomi yang gagal itu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut