Bersastra untuk Menjahit Silaturahmi

“Banyak yang tahu akan Gurindam 12, biarlah pada masa akan datang banyak orang menilik, menatap dan membelek Pantun 1212. Semoga peninggalan sastra ini dinikmati sepenuhnya oleh warga bukan sahaja se-Nusantara, malah sedunia.” (Rohani Din)

Kalimat di atas diambil dari Kata Alu-Aluan (Kata Pengantar) Kumpulan Pantun dari Penyair 5 Negara yang disunting dan disusun oleh Rohani Din, seorang pembicara yang diundang dalam Acara Reboan  Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) di Tebet, Jakarta Selatan, pada Rabu, 11 April 2018.

Susmana mengenalkan, “Bunda Anie Din ini sangat mencintai Bahasa Melayu dan berusaha mempertahankan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Ibu, sementara di Singapura situasinya tidak berpihak. Itulah mengapa dia berjuang agar Bahasa Melayu bisa diterima oleh banyak orang di Singapura agar kemudian mendunia.”

Rohani Din, atau yang akrab dengan panggilan Bunda Anie Din adalah penulis dan penyair Singapura. Minat untuk mengukir keindahan Bahasa Melayu mengantarnya menyunting Senandung Tanah Merah yang terdiri dari 1212 kuntum pantun dari 105 pemantun 5 negara serumpun Nusantara.

“Rumah yang Bonda tinggali sekarang (di Singapura) sejak tahun 1976, sudah 42 tahun, disitulah lahir anak kedua, ketiga dan keempat,” ceritanya memperkenalkan diri.

Perhatiannya pada dunia sastra dan minatnya untuk mengukir keindahan Bahasa Melayu mulai muncul ketika mengikuti Persidangan Teori dan Pemikiran Melayu Serantau pada 2002. Niat baiknya tersebut menjadi kenyataan ketika terpilih mewakili Singapura dalam Singapore Writers’Festival 2003.

“Buku Bonda yang pertama berjudul Diari Bonda terbit 1999 setebal buku Pram, terdiri dari 554 halaman. Karena buku itu Bonda dikenali dan banyak diundang membincang buku,” lanjutnya.

Ketika diundang di sebuah acara di Jambi 2012, Bunda prihatin memikirkan banyaknya karya-karya anak muda, seperti berupa puisi, pantun tapi tidak pernah menjadi buku. Atas keprihatinannya tersebut Bunda Anie Din menggagas sebuah acara di Singapura untuk mengundang sastrawan-sastrawan muda.

Selama empat tahun, Bunda Anie Din berjuang mewujudkan gagasannya mengumpulkan komunitas sastra. Walaupun aral menghadang, tak menyurutkan niatnya, akhirnya 2016 hajatnya mengundang para sastrawan di Singapura terlaksana dan dihadiri oleh 81 sastrawan se-Nusantara.

Sastra bagi Bunda Anie Din adalah alat untuk bersilaturahmi, “Berkarya atau bersastra untuk silaturahmi. Bersilaturahmilah dengan bersastra itu Bonda selalu cakap.”

Menurutnya, karya walaupun jelek tidak boleh dihina, karena sebuah karya bagi Bonda adalah ibarat juadah (makanan). Makanan mempunyai kelas-kelasnya, ada makanan restoran, makanan hotel dan makanan warung. Tapi kadang makanan warung justru lebih enak disbanding makanan hotel atau restoran.

“Jadi janganlah kita merendahkan karya orang. Terima karya seseorang, jika tidak berkenan berilah dia masukan,” katanya.

Susmana menegaskan, “Dengan belajar dari Bunda Anie Din, maka kita menghargai karya-karya pantun sebagai bagian dari kebudayaan Nusantara, dan kita bisa kembali mencintai pantun sebagai bagian dari tradisi bersastra kita.”

Perjalanan Sastra Rohani Din

Rohani Din dilahirkan pada 17 Oktober 1953 di Kampung Ara Kuda, Pulau Pinang, Malaysia. Bunda Anie Din, sebutan akrabnya, mendapat pendidikan di Sekolah Rendah Kebangsaan Sungai Dua (1960-65) dan di Sekolah Menengah Kebangsaan Dato’ Onn Butterworth (1966-1970).

Memasuki usia ke-65, Bunda Anie Din telah menerbitkan dan menulis banyak buku sastra berupa: novel, puisi, pantun, syair, gurindam seloka, talibun dan lain sebagainya.

Novelnya yang berjudul Diari Bonda yang telah diterbitkan pada tahun 1999 mendapatkan banyak respon dan diulas menjadi topik yang hangat karena keunikannya oleh Sastrawan Negara Datuk A, Samad Said di TV3 pada awal 2004, Profesor Mana Sikana dan berbagai media lainnya.

Setelah Diari Bonda mengalir karya-karya lainnya, yaitu: Diari Bonda 2, 3, dan 4. Selain itu ada Sanggar Anugerah Istana Kami 1 dan 2, Masih Ada Yang Sayang, Ku Tunai Janji, Lara Di Pinggir Sepi, Membilang Langkah, dan Kucari Penjuru Bintang.

Dari sekian buku yang telah ditulisnya, Bunda Anie Din menerima dua anugerah penghargaan. Perikatan Sayembara Dayacipta (PERSADA) telah menganugerahkan hadiah pertama bagi novel Anugerah Buat Syamsiah dalam Sayembara Novel Watan 2001. Novel ini termasuk enam judul buku yang dicalonkan dalam The Singapore Literature 2004.

Anugerah perak diberikan oleh PERSADA kembali pada Sayembara Novel Watan 2004 bagi novel Sanggar Anugerah Istana Kami 1 dan 2.

Tahun 2019, Rohani Din berencana menggelar kembali acara Sastra dengan mengundang para penulis untuk menggelar 100 karya sastra di Singapura.

Siti Rubaidah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut