Berpolitik Di Layar Kaca

Dengan penuh antusias rakyat Indonesia, bukan saja rakyat Indonesia di Jakarta tetapi di seluruh Indonesia, menyaksikan tim nasional berlaga dalam piala AFF Suzuki 2010 di Gelora Bung Karno. Kita menyaksikan pula bahwa Stadion Gelora Bung Karno bukan hanya menjadi tempat berlaga Timas untuk mengangkat martabat bangsa, tetapi telah menjadi ajang “politisi” untuk mencari popularitas.

Memang tidak ada salahnya bagi siapapun, termasuk pejabat dan politisi, untuk menjadi penonton dan mendukung Timnas. Akan tetapi, itu akan menjadi masalah jikalau mereka sekedar hadir untuk numpang popularitas, sebagaimana ditonjolkan oleh Presiden SBY dan juga Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

Jika ahli Propoganda NAZI, Goebbels, mengajak untuk berbohong sebanyak-banyaknya agar menjadi kebenaran, maka politisi Indonesia mengajak untuk tampil di layar Televisi dan media massa sebanyak-banyaknya agar mudah dipilih dalam pemilu.

Ada hal menarik dari fenomena seperti itu, yaitu popularitas seorang pemimpin tidak lagi dilahirkan oleh peranan yang menentukan dalam kondisi sosial-historis tertentu, melainkan dari pembentukan image di layar kaca. Akhirnya, seorang pemimpin tidak lagi dinilai dari kinerja dan praktek politiknya, tetapi berdasarkan kelihaiannya memikat penonton di layar kaca.

Layar kaca terlalu sempit dan gampang dimanipulasi untuk menyingkap keseluruhan praktik politik seorang pemimpin. Dengan politik layar kaca, seorang pemimpin akan ditampilkan lebih banyak keberhasilannya, sementara kegagalannya akan ditutup-tutupi oleh sang editor.

Dengan melihat SBY mengenakan kaos merah-putih, berikut syal merah-putih melingkar di lehernya, sambil memberikan dukungan kepada Timnas, anda bisa lupa bahwa dia baru saja menjual PT. Krakatau Steel kepada asing, menjual kekayaan alam kita kepada korporasi asing, menjual tenaga kerja kita dengan murah kepada asing, dan lain sebagainya.

Seorang “maniak neoliberal” berlagak menjadi seorang nasionalis, itulah gaya kepemimpinan SBY saat ini. Meski sudah jelas-jelas mengunyah-nguyah kebijakan washington consensus dalam praktik kebijakannya, tetapi dia tetap tidak mau mengaku sebagai neoliberal.

Apa yang penting untuk dipikirkan oleh kaum pergerakan, ialah menciptakan ruang yang sebisa mungkin menjangkau massa luas, termasuk struktur propaganda, yang bukan saja bekerja membongkar kebohongan “politik pencitraan”, tetapi juga mengorganisir rakyat untuk melawan dan menghancurkan rejim pencitraan.

Dan, apa yang paling penting lagi bagi kaum pergerakan, yaitu mengambil peluang sebanyak-banyaknya ruang-ruang politik dan sekaligus menampilkan praktek politik yang berbeda dengan politisi mainstream (kanan). Ini termasuk proyek politik untuk merebut kekuasaan di tingkat lokal, disertai dengan mempraktekkan “cara memerintah/administrasi” yang benar-benar memfasilitasi rakyat untuk sama-sama melakukan perubahan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut