Berkat Perjuangan Tak Kenal Menyerah, Dua Petani Tanjung Medang Dibebaskan

SETELAH melalui perjuangan berat dan cukup panjang, akhirnya proses peradilan terhadap dua orang aktivis petani, Kosim dan Junaidi, berbuah kemenangan. Ketua Majelis Hakim persidangan ini, Haris Suharman Lubis, mengatakan bahwa kedua terdakwa tidak bersalah dan tidak terbukti melakukan pengrusakan seperti dituduhkan.

Keputusan Majelis Hukum ini disambut dengan suka cita oleh Kosim dana Junaidi, juga oleh ratusan massa petani yang mengikuti persidangan. Teriakan “hidup Rakyat” bergema dalam ruangan sidang, sebagai pertanda suka cita atas kemenangan petani melawan pengusaha perampas tanah.

Sebelumnya, 300-an orang petani menggelar aksi massa di depan pengadilan, sambil memberikan dukungan moral kepada Junaidi dan Kasim. Hadir pula ketua aktivis PRD Sumsel, Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Kasus ini bermula dari perlawanan rakyat Tanjung Medang untuk mempertahankan tanah ulayak dari nafsu serakah pengusaha. Dalam satu kejadian, Junaidi dan Kosim dianggap telah melakukan pengrusakan terhadap aset perusahaan.

Dengan berbekal tuduhan itu, Gede Wardana dan Burhan–keduanya adalah pengusaha sawit– melaporkan Junaidi dan Kosim ke polisi. Akhirnya, Kosim dan Junaidi pun ditahan polisi dan kasusnya bergulir ke pengadilan.

Ketua PRD Sumatera Selatan Eka Subakti menyatakan bahwa pembebasan Kosim dan Junaidi merupakan hasil dari perjuangan tidak kenal menyerah dari para petani Tanjung Medang. “Ini adalah kemenangan dalam perjuangan, dan sekaligus menjadi investasi untuk meraih kemenangan lebih besar di masa mendatang. Ini berkah dari berorganisasi,” katanya.

Laporkan Kepala Desa yang korup

Selain memberikan solidaritas terhadap Kosim dan Junaidi, ratusan massa Front Pemerintahan Rakyat Miskin (FPRM) Tanjung Medang juga mendatangi kantor Kepolisian dan kantor Kejaksaan Negeri Muara Enim.

Di kantor Polres, aktivis FPRM menyampaikan hasil laporan BPD Tanjung Medang terkait dugaan korupsi yang dilakukan oleh kepala desa. Kapolres Muara Enim AKBP Budi Suryanto langsung bertemu dengan perwakilan massa.

Ia berjanji akan menindak-lanjuti laporan ini dan akan menyampaikan perkembangan kasus dalam seminggu kedepan.

Seusai menggelar aksi di kantor Polres, massa pun bergerak ke kantor Kejaksaan Negeri Muara Enim. Menurut Fuad Senja Kurniawan, aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) saat mendampingi massa, pihaknya sudah menyampaikan laporan terkait korupsi ini minggu lalu kepada kejaksaan, tetapi terakhir dinyatakan hilang.

“Kami menyerahkan data-data dan bukti terkait korupsi yang dilakukan oleh Kepala Desa Tanjung Medang,” katanya.

Ada dua dugaan korupsi yang dilaporkan, yaitu penggunana dana bantuan Gubernur yang tidak jelas realisasinya dan pemalsuan tanda-tangan untuk dana operasional anggota BPD.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut