Beragam Wajah Kirgiztan

Tingginya jumlah korban tewas, terluka atau mengungsi telah banyak diangkat sebagai hasil kuantitatif dari situasi yang kompleks di Kirgiztan, tapi itu bukan satu-satunya kerusakan yang ada. Sebuah referendum digelar pada 26 Juni untuk mencari perubahan jelas terhadap konstitusi negeri itu sebelum pemilu pada bulan Oktober. Perubahan-perubahan yang diharapkan ke depan masihlah rapuh.

Terdapat beberapa insiden sejak Maret lalu yang menyebabkan demonstrasi besar-besaran pada bulan April, ketika Kurmanbek Bakiyev, presiden yang menjabat saat itu, dijatuhkan setelah sebelumnya merebut kekuasaan dengan cara serupa dan kemudian memenangkan pemilu. Ini saja mengindikasikan bahwa terdapat pihak yang mendukung dan memusuhi pemerintahan yang digulingkan dan pemerintahan sementara yang saat ini dipimpin Rosa Otunbayeva.

Terlepas dari perbedaan politik antara mereka yang mendukung atau memusuhi Bakiyev sebagai motif peristiwa-peristiwa yang menyedihkan ini, persoalan politik juga sedang diangkat, karena situasi negeri tersebut buruk sejak 1992, ketika PDB-nya jatuh hingga 25%. Sejak itu terjadi privatisasi dan penciptaan pasar tapi sedikit pembangunan dan terlalu banyak korupsi, menurut mereka yang dikecewakan. Terdapat banyak referensi terkait konflik antar-etnis sebagai detonator pertikaian. Tanpa mengabaikan hal ini, faktanya adalah republik yang jumlah penduduknya tak mencapai 5,5 juta ini hidup tanpa kesusahan yang berarti pada masa Soviet, yang mana wilayahnya dibagi antara bangsa Kirgiz (55% jumlah penduduk) dan Uzbek (21%), ditambah Rusia (11%) dan bangsa minoritas lainnya.

Suatu kepentingan luar negeri atau internal namun dipicu oleh badan atau agen luar negeri bisa jadi lebih dekat dengan kenyataan. Presiden Uzbekistan Islom Karimov menuduh unsur asing mendalangi kerusuhan tersebut. “Bukan rakyat Uzbekistan atau Kirgiztan yang harus disalahkan karena ini… tindakan-tindakan ini diorganisir dan dipimpin dari luar,” demikian pernyataannya dalam agen berita Uza, tanpa menspesifikasi siapa yang bertanggung jawab.

Terhadap pernyataan pimpinan nasional itu kita dapat menambahkan faktor lainnya yang sudah diketahui, seperti invasi Afghanistan, yang membuat negeri Asia Tengah ini sangat penting secara geostrategis. Ini dapat dilihat dari peristiwa seperti keputusan Parlemen Kirgiztan pada 2009 untuk menyudahi basis militer Manas yang disewakan kepada Amerika Serikat. Untuk menghindari itu, Pentagon menawarkan Bakiyev $180 juta. Pentingnya penempatan logistik umum pasukan AS dan NATO tak diragukan lagi, meskipun terdislokasi di suatu negeri yang baru-baru saja semakin relevan karena kaya simpanan mineral yang belum digali.

Yang tak kalah berharganya adalah dekatnya jarak Kirgiztan dengan Tiongkok dan Rusia. Sejumlah analis telah mengonfirmasikan bahwa semakin intensifnya keberadaan miiter AS di Asia Tengah juga berhubungan dengan kekayaan migas Rusia, jalur mereka, dan aset lainnya di negeri yang luas itu. Di lain pihak, dapat menjangkau Tiongkok yang semakin sejahtera sekaligus kreditor utama imperium AS, bukanlah hal sepele. Dengan kata lain, satu di antara negeri-negeri ini berada dalam jangkauan kepentingan AS. Lokasi Kirgiztan di peta membuatnya menjadi sebuah tempat yang diperhitungkan dan harus dikontrol sebisa mungkin.

Hal di atas menjelaskan kepentingan mendadak dan “kemurahan-hati” Washington dalam menawarkan – via Hillary Clinton – bantuan dan “resolusi” terhadap situasi yang mungkin turut diciptakannya.

Rakyat Kirgiz, perlu dicatat, memiliki sumber daya air yang begitu luas menjangkau daerah-daerah yang langka sumber daya itu. Sungai Narin atau anak sungainya, atau Danau Issik-Kul, yang berada 1607 m di atas permukaan laut – danau tertinggi kedua di dunia yang dapat dilayari (setelah Titicaca) menurut beberapa pihak, dan keempat menurut pihak lain – memasok cairan berharga tersebut kepada negeri-negeri yang berbatasan: Uzbekistan dan Kazakhstan (yang pertama kaya minyak dan yang kedua, gas).

Dalam kerangka kemungkinan yang ada, tidak dapat diabaikan bahwa republik bekas Soviet ini merupakan jalur persimpangan yang digemari oleh rute opium dari Eropa dan Amerika Utara. Bisnis ini memarak sejak Afghanistan diinvasi dan menjadi motif yang sangat kuat untuk memprovokasi kerusuhan atau bahkan mengalahkan pemerintahan yang hendak mengontrol lalu-lintas opium.

Tidak ada yang mengonfirmasi maupun menyangkal apakah pernyataan David Petraeus, panglima Komando Sentral AS di Timur Tengah, Afghanistan dan Iraq, terkait proposal Gedung Putih untuk membangun pusat anti-teroris di Batken, Kirgiztan, berhubungan dengan rangkaian peristiwa baru-baru ini.

Inilah situasi serius yang harus dipecahkan, begitu pun dengan stagnasi ekonomi yang diderita negeri itu sejak meraih kemerdekaannya pada 1991. Tentunya, bila ia dimungkinkan melakukan itu semua, bukannya dipertahankan sebagai titik tumpu untuk upaya-upaya lain yang tidak terpuji.

*Elsa Claro adalah wartawan Kuba dengan spesialisasi tema internasional

Cat: Artikel ini telah terbit dalam versi Inggris di website Gramma (http://www.granma.cu/ingles/international-i/24junio-25kirsguistan.html)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut