Benarkah Chavez Seorang Diktator?

Laporan KOMPAS mengenai Hugo Chavez, yang sebagian besar dicomot dari CNN, sangat menyesatkan. Dengan begitu, entah disadari atau tidak, KOMPAS telah mengikutkan diri dalam paduan suara korporasi media yang mendiskreditkan Chavez dan pemerintahannya.

Salah satu pesan dari laporan Kompas itu—seperti juga CNN, New York Times, Wall Street Journal, Washington Post, Fox News, Miami Herald, dan lain-lain—adalah bahwa Chavez seorang diktator. Dalam tulisan berjudul “Chavez, Meyakini Sosialisme Hingga Mati,” Kompas menuding Chavez telah membungkam oposisi dan membunuh kebebasan pers.

Ironis sekali, media sebesar Kompas menyusun laporannya dari satu sudut pandang saja, yaitu cara pandang korporasi media dunia. Kompas tidak berusaha melihat sudut pandang lain, yakni media alternatif, untuk memperkaya laporannya. Akibatnya, Kompas telah menyajikan informasi tidak sehat kepada pembacanya.

Baiklah, saya akan membantah tudingan bahwa Chavez seorang diktator:

Pertama, Presiden Hugo Chavez memang berkuasa cukup lama, yakni 14 tahun, tetapi semuanya melalui proses demokratis. Sejak 1998 hingga sekarang, sudah berlangsung 17 kali pemilu di Venezuela. Chavez hanya kalah sekali, yakni pada refendum tahun 2007. Itupun Chavez langsung menerima secara legowo kekalahannya.

Berbeda dengan pemilu AS yang hanya dua partai, Venezuela justru mengenalkan multi-partai. Tidak ada ideologi yang ditindas di Venezuela—tidak seperti Indonesia. Dalam pemilu 2012 lalu, partisipasi pemilu Venezuela mencapai 97%. Bandingkan dengan tingkat partisipasi pemilih di AS yang berada di bawah 50 persen.

Pertanyaannya, apakah semua proses pemilu itu bersih? Untuk anda ketahui, sepanjang pemilu di Venezuela, jarang sekali terjadi protes oposisi. Yang diprotes oposisi baru-baru ini bukanlah hasil pemilu, melainkan tidak adanya proses pengambilan sumpah terhadap Chavez selaku Presiden. Soal kredibilitas pemilu Venezuela, Mantan Presiden AS Jimmy Carter mengatakan, “dari 92 pemilu di dunia yang kami pantau, saya menyatakan bahwa proses pemilu di Venezuela adalah yang terbaik di dunia.”

Justru, kalau media-media Eropa mau jujur, ada dua negara yang justru diperintah diktator, yakni Yunani dan Italia. Di Yunani, Lucas Papademos, seorang bankir, tiba-tiba ditunjuk sebagai Perdana Menteri tanpa melalui pemilu atau tanpa mandat rakyat. Di Italia, seorang ekonom bernama Mario Monti juga tiba-tiba ditunjuk sebagai Perdana Menteri tanpa melalui pemilu. Itulah kediktatoran yang kasat mata!

Kedua, Chavez membungkam oposisi. Saya tidak tahu Kompas mengambil kesimpulan ini dari mana. Untuk diketahui, Chavez pernah dikudeta oleh seorang pengusaha bernama Pedro Carmonas, yang disokong oleh segelintir petinggi militer, media swasta, dan CIA. Tapi, untuk Kompas ketahui, tak satupun dari pelaku kudeta itu yang dipenjara. Para pelaku kudeta itu masih melenggang bebas di Venezuela hingga hari ini.

Chavez juga tidak pernah membantai rakyat. Justru rezim neoliberal  Carlos Andrés Pérez, yang disokong oleh AS, pernah membantai 3000-an lebih rakyat Venezuela dalam peristiwa “Caracazo” tahun 1989. Jumlah korban peristiwa Caracazo setara dengan korban pembantaian Tiananmen di Tiongkok 1989. Tetapi media-media barat tidak pernah bicara peristiwa Caracazo.

Ketiga, Chavez memberangus kebebasan pers dan membungkam media oposisi. Kompas menuding Chavez telah menggunakan UU untuk menutup puluhan stasiun Radio dan Televisi. Saya kira, Kompas lagi-lagi tidak bekerja keras untuk mencari data dan fakta mengenai perkembangan media di Venezuela.

Sebelum Chavez berkuasa, hanya 5 TV swasta yang mengontrol 90% pasar media di Venezuela. Gustavo Cisneros, salah seorang bos media yang terlibat kudeta terhadap Chavez tahun 2002, punya 60 perusahaan media di 40 negara dan hampir 30.000 pekerja. Kerajaan medianya menjangkau 500 juta orang di dunia. Stasiun TV miliknya, Venevisión, menjangkau 67 persen pemirsa Venezuela.

Federico Fuentes  dalam tulisannya, Reclaiming Media for the People, menyebutkan bahwa korporasi media—yang berada di tangan segelintir elit—mengontrol lebih dari 80 persen frekuensi Radio dan TV di Venezuela. Empat kelompok Media, yakni Cisneros group, 1BC, Camero dan Zuloaga-Mezerhane, mendominasi gelombang udara.

Televisi negara di Venezuela hanya menjangkau 5,4% dari pemirsa. Dari tujuh koran nasional, ada lima yang terang-terangan memihak oposisi dan hanya satu yang bersimpati pada Chavez. Sudah begitu, ketika kampanye pemilu, hampir semua media swasta meliput penuh kampanye oposisi. Bayangkan, di negerinya sendiri, Chavez digempur habis-habisan oleh media swasta.

Pada tahun 2004, Majelis Nasional Venezuela mengesahkan UU Tanggung Jawab Sosial TV dan Radio, yang berusaha mendistribusikan secara adil frekuensi dari monopoli segelintir tangan ke media-media komunitas dan independen. Chavez kemudian melegalisir beroperasinya 30 TV komunitas dan radio.

Pada tahun 2007, Chavez tidak memperpanjang lisensi RCTV—media yang terlibat kudeta tahun 2002. Lantas, linsensinya dialihkan kepada saluran TV publik baru, yakni Tves, yang fokus pada siaran soal seni, kebudayaan, dan pendidikan.

Pada tahun 2009, Komisi Telekomunikasi Nasional Venezuela (CONATEL) kembali menutup 32 stasiun TV dan Radio swasta yang kehabisan ijin, yang melanggar aturan, atau enggan membayar biaya wajib. Ijin-ijin mereka kemudian dialihkan ke TV dan Radio komunitas.

Jadi, yang dilakukan Chavez adalah mendistribusikan frekuensi, yang notabene milik publik, dari monopoli segelintir pemilik modal ke media komunitas dan media independen.  Pada tahun 1998, fruekuensi siaran dikuasai oleh 331 stasiun radio komersil dan 11 stasiun radio FM milik publik. Juga dikuasai oleh 36 stasiun TV swasta dan 8 stasiun TV publik. Pada tahun 2012, ada 449 stasiun radio swasta, 83 stasiun radio publik, dan 247 stasiun radio komunitas. Juga ada 67 stasiun TV komersil, 13 stasiun TV publik, dan 38 stasiun TV komunitas.

Tetapi, rupanya, Kompas tutup mata terhadap konsentrasi kepemilikan media di negerinya sendiri. Di Indonesia, hanya  ada 12 grup media yang menguasai saluran media massa, termasuk elektronik, cetak, maupun online. Mereka adalah Jawa Pos Group, MNC Group, Kompas Gramedia Group, Elang Mahkota Teknologi, Visi Media Asia, Mahaka Media, CT Group, Beritasatu Media Holdings, Media Group, MRA Media, Tempo Inti Media, dan Femina Group.

Keempat, Venezuela telah mengembangkan demokrasi tipe baru, yakni demokrasi partisipatif, yang berbasiskan pada partisipasi rakyat dan menjadikan rakyat sebagai protagonis dalam segala bidang kehidupan dan pembangunan. Melalui Dewan-Dewan Komunal, rakyat Venezuela telah berpartisipasi dalam berbagai pengambilan kebijakan pembangunan dan alokasi sumber daya di segala level.

Yang tidak bisa dibantah oleh siapapun, juga oleh Kompas, bahwa Chavez telah menggunakan kekayaan alam negerinya untuk kemakmuran rakyatnya. Kemiskinan telah berkurang 70,8% (1996) menjadi 21% (2010). Sedangkan kemiskinan ekstrem berkurang dari 40% (1996) ke tingkat yang sangat rendah dari 7,3% (2010). Pengangguran turun dari 20% menjadi di bawah 7%.

Saya kira, itulah keunggulan demokrasi Venezuela, yakni demokrasi ditopang oleh partisipasi rakyat dan keadilan sosial. Di Amerika Serikat, demokrasi prosedural justru melegitimasi keserakahan 1% warga Amerika di atas penderitaan 99% warga Amerika lainnya. Saya kira itu bukan demokrasi, melainkan tirani.

Inilah yang membuat Chavez membuat sejarah. Jutaan rakyatnya menangis ketika mendengar kematiannya. Saya rasa, di Eropa dan AS sana, belum ada pemimpin yang ditangisi oleh jutaan rakyatnya.

Kusno, Aktif di Berdikari Online dan pengagum Revolusi Bolivarian

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • nugi

    semoga kompas bisa tetap obyektif dlm pemberitaannya..dan tdk ikut2an media barat yg punya kepentingan lain (migas) drpd kepentingan rakyat venezuela & dunia..!

  • Berbeda dengan pemilu AS yang hanya dua partai, <<< ralat : di amerika banyak partai, tapi yang laku cuma 2 (lainnya banyak kok).

  • bung karno saat mati ditangisi, hingga kini poster2nya lah yg paling banyak didinding2 rakyat. seandainya indonesia, kuba, china masih sejalan… pasti dunia akan menarik sekali. tidak monoton seperti sekarang