Bedanya Open House Istana Dan Blusukan Lebaran

Selama ini, momentum Hari Raya Idul Fitri sering dimanfaatkan oleh pejabat untuk bersilahturahmi dengan rakyat. Namun, bentuk silatuhrami itu bisa beragam cara.

Presiden SBY, misalnya, memilih menggelar open house di Istana Negara. Rakyat Indonesia, terutama dari wilayah Jabotabek, bisa menyambangi sang Presiden di singgasana-nya.

Namun demikian, biaya open house yang digelar oleh Istana itu tidak kecil. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengungkapkan bahwa acara open house di Istana Negara menghabiskan anggaran sebesar Rp 1.4 milyar.

FITRA pun memaparkan rincian dana open house tersebut. Untuk dana pengadaan jamuan bagi SBY, keluarga, para menteri, pejabat negara, dan korps diplomatik, pihak Istana menghabiskan Rp 657,8 juta.

Khusus untuk 1 Syawal 1434 H (Hari Lebaran), Presiden SBY menghabiskan dana sebesar Rp 374,5 juta untuk jamuan makanan kecil minuman dalam acara silaturahmi.

Selain itu, FITRA juga mencatat, untuk biaya pemasangan dan pembongkaran tenda serta kelengkapan acara lainnya, pihak Istana juga menghabiskan Rp 377.096.500.

Namun demikian, anggaran open house Istana tahun ini sedikit lebih kecil dibanding tahun sebelumnya. Acara open house serupa tahun lalu malah mencapai Rp 1,5 milyar. Dengan demikian, Presiden SBY hanya menghemat Rp 98.681.500.

Untuk diketahui, anggaran open house Istana itu memakai APBN alias uang rakyat. Bukan uang dari kantong pribadi Pak SBY. Dengan demikian, pantas bila banyak pihak yang mengeritik biaya open house yang terkesan pemborosan anggaran negara tersebut.

Gaya Berbeda

Di tempat lain, ada pejabat yang menampilkan gaya silaturahmi yang berbeda. Dia adalah Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Untuk lebaran tahun ini, Jokowi tidak membuka open house di rumahnya.

Mantan Walikota Solo, Jawa Tengah, ini justru memilih blusukan ke lima wilayah di Jakarta, yakni Daan Mogot, Pademangan Timur, Cipinang, Jagakarsa, dan Tanah Tinggi.

Terkait pilihannya ini, Jokowi punya filosofi sendiri. Menurutnya, pemimpin itu pelayan rakyat yang memiliki banyak kesalahan kepada rakyatnya. “Apapun yang namanya pemimpin banyak salah dan kekeliruan dalam membuat kebijakan sehingga pemimpin perlu meminta maaf ke rakyat,” ujar Jokowi.

Karena itu, bagi Jokowi, bukan rakyat yang mesti berduyung-duyung mendatangi sang pemimpin di singgasana-nya, melainkan pemimpin-lah yang harus mendatangi rakyat untuk meminta maaf.

Dalam blusukan di kampung Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Jokowi menyalami dan bersenda-gurau dengan warganya. Ia juga tidak canggung untuk meminta maaf atas kebijakannya yang mungkin kurang tepat bagi warganya. Tak hanya itu, Jokowi juga menyantap hidangan bersama warga.

Elitisme Versus Merakyat

Dua strategi di atas jelas berbeda. Gaya open house di istana mewakili gaya politik konvensional, elitis, dan sangat berjarak dengan rakyat. Inilah gaya kepemimpinan yang mengurung dirinya dalam tembok kekuasaan dan terpisah jauh dari rakyat.

Sementara gaya blusukan lebaran ala Jokowi justru mendobrak gaya politik tradisional. Gaya tersebut berhasil memangkas jarak antara pemimpin dan rakyat. Selain itu, dengan mendatangi rakyat, sembari duduk bersama dan meminta maaf, Jokowi telah menjungkalkan tradisi politik elitis.

Dengan open house di Istana, plus kemewahannya, SBY menampilkan dirinya sebagai pembesar. Sementara gaya blusukan, dengan mendatangi langsung dan meminta maaf kepada rakyat, Jokowi menampilkan bahwa pemimpin hanyalah pelayan rakyat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Ismail Marzuki

    memang hebat pak jokowi,mudah2an 2014 naik jadi presiden amin 3x.

  • Ben Michael Tan

    Memang seharusnya indonesia mendukung apa yang dilakukan oleh Mr JOKOWI, karena sadar kita, bahwa selaku pemimpin yang dipilih oleh rakyat kita haruslah tahu bahwa kita sebagai pelayan dalam pengambilan kebijaksanaan, karena hasil akhir rakyatlah yang menilai, Jadi PEMIMPIN yang dipilih oleh rakyat tidak perlu takut menjadi miskin, karena rakyat punya mata dan punya pikiran, jelas kesejahteraan seorang pemimpin akan dipikirkan oleh rakyat, tidak akan ada rakyat menutup mata akan kemiskinan dari pemimpinnya …..

    APA YANG DILAKUKAN MR JOKOWI, SANGAT TEPAT MOMENTUMNYA

  • Harko Pranaristanto

    Cara Pak Jokowi dan Pak SBY memperlihatkan bagaimana mereka bertindak sebagai pemimpin. Yang satu pemimpin sebagai “rakyat”, yang satunya lagi seorang pemimpin sebagai “raja”. Tentu saja rakyat akan memilih seorang pemimpin bukan sebagai raja tetapi sebagai rakyat juga, jauh dari kesan borjuis.