Bayi Usia 8 Bulan Meninggal Ditelantarkan Rumah Sakit

BANDUNG (BO)- Nasib malang menimpa seorang bayi perempuan di Cimahi, Jawa Barat. Nisza Ismail, nama bayi berusia 8 bulan itu, meninggal dunia setelah ditelantarkan di Rumah Sakit Mitra Anugrah Lestari, Cimahi, Jawa Barat.

Menurut orang tua Nisza, Martin Ismail, mengalami deman tinggi sejak hari Kamis, 19 Oktober 2011. Lalu, keesokan harinya, 21 Oktober 2012, Nisma pun mengalami step. Awalnya ia dirawat sendiri oleh keluarga di rumah.

Namun, karena kondisinya tidak membaik, Nisza pun dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Kasih. Tetapi karena biaya yang terlalu mahal, Nisza lalu dipindahkan ke Rumah Sakit Handayani. Akan tetapi, pihak RS Handayani tidak bisa menerima pasien bayi karena peralatan yang tidak cukup.

Akhirnya Nisza dirujuk ke e RSU Mitra Anugrah Lestari. Awalnya, Martin berusaha membawa anaknya ke Ruang Rawat. Tetapi pihak RS menolak karena alasan “administrasi”. Padahal, kata Martin, pihaknya sudah membayar separuh biaya administrasi itu.

Nisza pun hanya ditaruh di ruang UGD. Bahkan ia baru mendapat bantuan inpus pada jam 5 sore. Lalu, sekitar pukul 8 malam, seusia melunasi biaya administrasi sebesar Rp 500 ribu, Nisza baru bisa dimasukkan di Ruang Rawat. Itupun tidak tertangani dengan baik karena tidak ada dokter spesialis.

Nisza baru mendapat perawatan saat tengah malam. Itupun hanya dilakukan oleh dokter umum. Dokter yang memeriksa Nisza merekomendasikan beberapa resep obat. “Dokter bilang, anak saya terkena infeksi lambung,” kata Martin.

Tetapi Martin tidak bisa menebus resep itu karena tak punya uang. Ia berusaha meminta keringanan biaya, bahkan meminta kelonggaran untuk dibayar esok harinya, tetapi tidak disetujui pihak rumah sakit.

Karena kondisi anaknya makin kritis, Martin pun harus ‘menjaminkan’ STNK untuk menebus obat. Dokter pun memasang selang sedot lambung. Tetapi kondisi Nisza makin kritis.

Dini hari, sekitar jam 4, Nisza kembali mengalami step. Martin pun kembali memanggil dokter. Saat itu, dokter kembali mengeluarkan resep obat untuk mengatasi kejang-kejang dan penurun panas. Tetapi karena tidak punya uang sepeser pun, Martin pun tidak bisa menebus obat itu.

Demi menyelamat nyawa anak tercinta, Martin pun berusaha menjaminkan handphone supaya bisa mendapat obat. Tetapi pihak Rumah Sakit kembali menolak karena alasan biaya obat cukup mahal. Padahal, harga obat itu diperkirakan hanya Rp70 ribu.

Martin pun rela pulang berjalan kaki ke rumah untuk mencari bantuan. Sementara istrinya, Susan Kania, yang menjaga Nisza di rumah sakit. Sekembalinya ke rumah sakit, ia menyaksikan kondisi Nisza yang sedang step (kejang-kejang). “Dokter tidak juga memberi obat. Saya harus berdebat panjang untuk mendapat keringanan,” ujarnya.

Kondisi Nisza kian memburuk. Ia disarankan dibawa ke ruangan ICU. Hingga pukul 07.00 WIB, Nisza tetap kunjung tidak dibawa ke ICU. Pihak rumah sakit kembali meminta uang. Sejam kemudian, Nisza baru dipindahkan ke ruangan ICU. Itupun dokter meminta pelunasan uang administrasi sebesar Rp217 ribu.

Sekitar jam 10.00 WIB, pihak RS mulai mengakui ketidaksanggupan menangani Nisza. Setengah jam kemudian, ketika Martin masuk ke rungan ICU, ia menyaksikan dokter memasang selang ke mulut anaknya. “Dokter bilang, itu adalah bentuk pertolongan pertama,” ujarnya.

Dan, pada 22 Oktober 2011, sekitar pukul 11.00 WIB, Nisza pun menghembuskan nafas terakhirnya. Bayi malang ini pun pergi untuk selama-lamanya. Ia telah menjadi korban dari sistem kesehatan yang diatur oleh mekanisme pasar.

Ini sangat menyedihkan: rumah sakit lebih mengutamakan berbicara uang ketimbang menyelamatkan nyawa pasien.

Cat: semua informasi tentang kejadian memilukan ini kami dapatkan dari surat elektronik atas nama Martin Ismail (Ayah Alm. Nisza ismail)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Nyawa = dagangan, Manusia yg bukan manusia

  • orang miskin tidak ada artinya bagi orang-orang yang tidak mempunyai rasa iba ? semoga allah yang akan membalas semuanya ?