Ekonom Dianggap Tidak Paham Ekonomi Rakyat

Bagi sebagian ekonom, khususnya yang bermazhab neoliberal, kenaikan harga BBM sangat diperlukan untuk mengatasi defisit APBN dan memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan terus.

Akan tetapi, banyak warga masyarakat yang tidak setuju dengan pandangan itu. Salah satunya adalah Parto, seorang pedagang gorengan di Tebet, Jakarta Selatan, yang menganggap kenaikan harga BBM sangat berpengaruh pada ekonomi rakyat.

Ia mencontohkan, ketika ada isu kenaikan harga BBM, maka harga minyak goreng sudah melambung naik di pasaran. “Harganya bisa naik rata-rata 20%. Padahal, itu belum diumumkan kenaikan (harga BBM),” kata Parto.

Akibatnya, Parto pun harus menanggung kenaikan biaya produksi. Kendati demikian, ia menolak menaikkan harga jual gorengannya. “Kalau saya naikkan, bisa-bisa pelanggan makin sepi,” katanya.

Ia pun memilih jurus pamungkas: mengiris tempe gorengnya itu agak lebih kecil dibanding ukuran biasanya. Cara ini, bagi Parto, lebih efektif mengatasi lonjakan biaya produksi ketimbang menaikkan harga BBM.

Menurut Parto, ekonom-ekonom di televisi banyak yang tidak paham ekonomi rakyat, khususnya pedagang kecil seperti dirinya. Alasannya, seperti diungkapkan Parto, ekonom itu tidak faham dampak berantai dari kenaikan harga BBM.

“Harga BBM itu kenanya kita-kita orang kecil. Orang kecil di Indonesia kan banyak. Kalau semua ekonomi orang kecil itu kolaps, lantas siapa yang menggerakan ekonomi negara,” ungkapnya dengan serius.

Ia juga melihat pemerintah kebanyakan “asal bunyi”, namun malas bercermin pada kesalahan sendiri. Sebagai misal, Parto mencontohkan, selalu dikatakan APBN mengalami defisit, tetapi korupsi di kalangan pejabat tetap jalan terus dan keluarga pejabat hidup dalam kemewahan.

“Urus dulu internalnya (birokrasi pemerintahan). Jangan selalu menggurui dan menyalahkan rakyat. Berani gak tuh menghukum mati koruptor,” kata Parto dengan nada agak geram.

Pedagang yang hanya lulus SMU tahun 1997 ini juga menganggap rakyat sudah lama diabaikan oleh pemerintah. Katanya, ekonomi rakyat saat ini berjalan tanpa dibantu sedikitpun oleh pemerintah. Anehnya, pemerintah malah suka memeras ekonomi rakyat itu.

“Saya beli gerobak sendiri mas. Pinjam (uang) sana-sini dari kerabat dan teman. Modal juga saya kumpulkan sendiri. Tidak ada bantuan pemerintah sedikitpun. Akan tetapi, begitu mau jualan, kami harus bayar banyak sekali retribusi,” ungkapnya.

Ditanya soal dana kompensasi BBM, yakni Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Parto mengaku sebetulnya kurang setuju. “Kalau saya jadi pemerintah, mendingan mengucurkan bantuan modal kepada rakyat agar bisa membangun usaha kecil-kecilan. Kalau BLSM itu ibaratnya cuma untuk makan sehari,” terangnya.

Ia berharap agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM. Selain itu, bapak tiga anak ini juga meminta agar pemerintah lebih peduli kepada ekonomi rakyat. “Rakyat diberi fasilitas modal dan tempat berusaha yang nyamanlah,” ujarnya.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut