Banjir Di Jakarta, Gubernur Fauzi Bowo Gagal Memimpin

JAKARTA: Hujan beberapa jam, dari sore sekitar jam 15.00 WIB sampai malam, membuat sebagian wilayah Jakarta terendam banjir. Meskipun banjir sudah akrab dengan Jakarta, namun banjir kali ini termasuk paling besar.

Seorang warga di Cipete, Nur Afnianti (21 tahun), terperosok ke dalam gorong-gorong dan terbawa arus air. Korban baru ditemukan tadi pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, setelah terseret arus sejauh tiga kilometer.

Sementara di Tebet, Jakarta selatan, seorang nenek dan seorang bayi dilaporkan meninggal dunia saat banjir datang tiba-tiba. Keduanya tidak sanggup menyelamatkan diri saat rumahnya terkepung banjir setinggi satu sampai dua meter.

Ibu Diiah, seorang ibu rumah tangga, menuturkan bahwa rumahnya terendam air setinggi satu meter, dan mengakibatkan sebagian perabot rumahnya berenang di atas air.

“Ini paling parah. Sebelumnya tidak pernah masuk rumah,” katanya.

Untuk mencegah ancaman penyakit terhadap anak-anak, warga dan pihak RT membuat penampungan khusus untuk anak-anak di tempat aman. Warga juga mendirikan dapur umum untuk membantu warga yang rumahnya terkena banjir.

Di Kemang Utara, yang dekat dengan kali Mampang, air setinggi dua meter merendam ratusan rumah warga. Warga menyatakan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dan terjadi secara tiba-tiba.

Di Bintaro, Jakarta selatan, banjir juga merendam rumah warga, terutama  ratusan rumah di RW 04 Kompleks IKPN Bintaro, Jaksel. Ketinggian banjir mencapai satu hingga 1,5 meter.

Gubernur DKI Jakarta Tidak Becus

Banjir di Jakarta menyebabkan jutaan orang terperangkap tadi malam dan tidak bisa pulang ke rumah mereka.

Situasi ini mengundang kemarahan mereka yang sebagian besar dilampiaskan di jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter.

“Gubernur Foke sudah terbukti gagal. Ayo, suruh mundur saja,” tulis seorang mahasiswa Jakarta di account Facebook-nya.

Pendapat senada disampaikan oleh Bambang, seorang pekerja di perusahan swasta, yang menyatakan bahwa banjir di Jakarta disebabkan oleh pengelolaan kota yang salah urus dan semrawut.

“Infrastruktur kota sangat buruk. Di mana-mana saluran air tersumbat sampah. Sementara Pemda tidak pernah turun tangan,” katanya.

Begitu pula dengan Yanti Pratiwi, seorang pekerja di sebuah pusat belanja di kawasan blok M Jakarta, mengaku tidak bisa pulang ke rumahnya gara-gara banjir.

“Saya terperangkap di halte busway selama berjam-jam. Setelah keluar nyari kendaraan umum, saya juga gak dapat. Jadi, saya milih nginap di kost teman yang dekat sini,” katanya dengan tersenyum.

Yanti Pratiwi menginginkan agar Jakarta bisa diperintah oleh orang yang capable dan bertanggung jawab. “Pinginnya sih, Jakarta punya gubernur yang sanggup menanggulangi persoalan banjir ini.” (Ulfa & Risal Kurnia)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Dedi Hardianto

    kegagalan kita ….khususnya warga DKI Jakarta adalah menempatkan Pemimpin yg memiliki slogan “Serahkan Pada Ahlinya”….ternyata yg kita Pilih bukan ahlinya….!!!!!!!!!!!!