Bangsa Kita Krisis Karakter

Bangsa kita tengah berada di tengah amukan badai besar: neoliberalisme.  Dalam kecamuk badai besar itu, bangsa kita tidak hanya berhadapan dengan tantangan yang sangat sulit, tetapi juga terancam terseret kembali ke belakang, atau bahkan mungkin akan tenggelam dan hilang ditelan sejarah.

Salah satu bentuk krisis yang kita alami sekarang ini adalah krisis karakter sebagai sebuah bangsa. Sekarang ini, secara perlahan-lahan tapi pasti, bangsa kita semakin terseret untuk mengikuti arus “free fight liberalism”—sebuah faham yang dulu sangat dilawan oleh Bung Karno karena menyeret bangsa kita pada individualisme atau ego-sentrisme.

Lebih parah lagi, akibat angin topan neoliberal yang berhembus kencang, jiwa dan karakter bangsa kita pun semakin kering. Padahal, jika kita kembali mempelajari sejarah bangsa kita, maka akan segera diketahui bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kaya dengan nilai dan falsafah yang luhur. Salah satunya adalah gotong-royong.

Dalam persoalan yang sederhana saja, misalnya soal kejujuran, bangsa kita mulai keteteran. Kasus Ibu Siami, seorang ibu yang berani mengungkap kasus “contek massal” di Jawa Timur, adalah contohnya. Ibu yang jujur ini justru diusir oleh warga sekampungnya.

Kebiasaan mencontek adalah satu contoh. Sedang sebelumnya sudah ada kasus lain seperti professor yang melakukan tindakan plagiat. Belum lagi perkelahian antara pelajar, antar mahasiswa, antar kampung, ataupun antar-etnis.

Bukti konkret lainnya adalah ketika melihat mentalitas pejabat negara. Kalau ada pejabat yang jujur dan berdedikasi kepada pekerjaannya, maka itu menjadi peristiwa langka di jaman sekarang ini. Sebaliknya, hampir semua pejabat negara identik dengan korupsi, suap, dan penyalah-gunaan kekuasaan. Seorang koruptor, meskipun mengetahui perbuatannya tercela secara sosial, dapat bicara panjang lebar di layar televisi dengan ekspresi tidak berdosa.

Setiap proses penjajahan membutuhkan kelangsungan atau kelanjutan. Dan, ketika berbicara kelanjutan, maka penjajahan harus berbicara penaklukan dan penghancuran; penaklukan kesadaran rakyat dan penghancuran identitas nasionalnya.

Marilah kita mengingat gagasan Bung Karno separuh abad silam mengenai “nation building”. Dalam fase nation building itu,  kata Soekarno, kita harus menggempur semua faham yang menghalangi kemajuan bangsa, seperti ego-sentrisme, kemalasan, korupsi, dan lain sebagainya. Soekarno menganjurkan: “Jadilah manusia Indonesia, manusia Pembina, manusia yang benar-benar sampai kepada tulang sumsumnnya bersemboyan ‘satu buat semua, semua buat pelaksanaan satu cita-cita”.

Kita benar-benar dalam situasi yang genting; krisis sebagai sebuah bangsa. Krisis ini, jika tidak segera diobati, maka bisa membuat bangsa kita akan tenggelam. Dan, untuk mengobatinya, kita harus memperjuangkan sebuah gerakan untuk kembali pada jalan yang sebenarnya–sebuah jalan yang harus mengarah kepada tujuan nasional sebagaimana telah dideklarasikan

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • karena SDM perpolitikan banga kita di kuasai yg hya sekedar di banku sekolah& banku kuliah, yg tdk bza sklah & kurang bza mmpu u/ brsklah tdak ada pmbljaran gratiz ttng pelajaran perpolitikan. makanya bangsa kita banyag trbdohi & DI BODOHI maka banyak lahir lha yank tidak punya karakter dari berbudaya kita sndri ‘kata orang jawa ( jobriyo / kesombongan yang tnggi serink lahir di benak bangsa kita )’