Bangladesh: Pekerja Garmen Menderita Di Bawah Tindakan Brutal Polisi

DHAKA: Banyak anggota Serikat Pekerja Bangladesh bersembunyi setelah setelah tindakan brutal kepolisian menindas perjuangan buruh garmen yang memperjuangkan upah minimum, demikian dilaporkan Morning Star Online.

Pihak Serikat Buruh mengungkapkan, bahwa sedikitnya 100 orang pekerja telah ditangkap sejak pemogokan akhir bulan lalu dan setidaknya 5000 pekerja telah diberhentikan dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Polisi telah mengkonfirmasi, bahwa mereka telah menahan 20 orang, termasuk empat pemimpin Serikat Buruh dan 7 orang pekerja perempuan, dalam dua minggu terakhir ini.

“Sebagian besar kami sekarang berjalan, hidup dalam ketakutan karena kami sering mendapat ancaman Polisi,” kata Presiden Forum Persatuan Pekerja Garmen Mosherefa Mishu.

Pasukan keamanan telah melancarkan represi besar-besaran atas nama pemilik perusahaan yang terpengaruh oleh pemogokan.

Target mereka adalah beberapa pekerja dibayar terendah di dunia, namun pakaian mereka dijual oleh beberapa merek terbesar di Barat, termasuk Tesco, H & M dan Wal-Mart.

Polisi setiap malam melakukan serangan di pemukiman kumuh yang sebagian besar merupakan pemukiman para buruh.

“Setidaknya 5.000 pekerja telah dipecat karena keterlibatannya dalam protes. Ratusan memilih meninggalkan pekerjaan mereka dan kembali ke desa mereka,’ kata Presiden Federasi Pekerja Tekstil dan Garmen Bangladesh, Mahbubur Rahman Ismail.

Serikat memperingatkan bahwa setidaknya 12.000 pekerja menghadapi penuntutan setelah polisi menyapu gambar di media untuk mengidentifikasi para pengunjuk rasa.

Mereka menghadapi tuduhan kekerasan, vandalisme, pembakaran dan penjarahan, dengan para pemimpin serikat yang dituduh menghasut para pekerja.

Kontroversi ini telah menjelaskan situasi sulit pekerja garmen di negara-negara berkembang dan  menarik  dukungan dari persatuan Serikat Pekerja Perdagangan Internasional.

Ini telah mempertentangkan antara pekerja yang dibayar 1,662.50 taka (£ 15,29) dengan pemilik pabrik yang serakah, dengan dilindungi oleh mesin negara dan preman pelayan bos.

Upah minimum tidak pernah naik sejak tahun 2006, tetapi setelah terjadi protes awal, pemerintah berkomitmen untuk menaikkan upah sampai ampai 3.000 taka (£ 27,59) per bulan pada tanggal 1 November.

Namun banyak pekerja dari sektor paling kuat, beranggotakan tiga juta pekerja, telah menuntut agar upah minimum dinaikkan 5.000 taka (£ 45,99), memicu bentrokan di jalan-jalan.

Prospek untuk pekerja garmen memburuk secara dramatis pada tahun 2005 ketika sistem kuota tekstil internasional dihapus untuk mendukung kompetisi terbuka yang sangat sengit. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut