Bandit Pun Punya Nasionalisme!

The Last Tycoon

The Last Tycoon (2012)

Sutradara: Wong Jing
Tahun Produksi: 2012
Durasi1 jam 58 menit
Pemain : Chow Yun-fat, Huang Xiaoming, Sammo Hung, Francis Ng, Yuan Li, Yuan Quan, Monica Mok, Feng Wenjuan, Gao Hu, dan Xin Baiqing.

Ide-ide nasionalisme sering menyusup dalam film-film China. Ini seakan tugas wajib bagi setiap sineas di sana. Maklum, China saat ini sangat membutuhkan nasionalisme sebagai bahan bakar untuk menggerakkan milyaran rakyatnya mengejar kemajuan.

Tidak percaya? Silahkan tonton film IP Man,  The Flower of War (2011), 1911 (Revolution), Shanghai (2010), The Message (2009), Legend of The Fist: The Return of Chen Zhen (2010), dan masih banyak lagi. Bahkan, dua film tentang perjuangan Partai Komunis China (PKC), The Founding of a Republic (2009) dan The Founding of a Party/ Beginning of the Great Revival (2011), juga sangat kental dengan nasionalisme.

Dan yang terbaru adalah The Last Tycoon (2012), karya sutradara Wong Jing. Film ini bercerita tentang kehidupan bandit besar di kota Shanghai, Cheng Daqi, menjelang invasi fasisme Jepang. Konon, film ini banyak diinspirasi oleh sosok Du Yuesheng, bandit besar pengikut setia Koumintang/Chiang Kai Sek di Shanghai di era 1920-an.

Setting cerita ini dimulai pada tahun 1913—dua tahun setelah Revolusi Nasional China. Saat itu, seorang pemuda bernama Cheng Daqi (Huang Xiaoming), bersama kekasih pujannya, Ye Zhiqiu (Joyce Feng), ingin merengkuh kesuksesan. Daqi ingin sukses sebagai orang kaya di Shanghai, sedangkan Zhiqiu ingin menjadi pemain drama terkenal di Beijing.

Namun, tiba-tiba Daqi mendapat masalah. Istri bosnya berselingkuh dengan Kepala Polisi. Sialnya, si Kepala polisi menyerang Daqi dan memenjarakannya. Ia difitnah telah membunuh bosnya dan memperkosa istri si bos.

Dia pun terancam hukuman mati. Beruntung, ia satu sel dengan seorang tentara bernama Mao Zai. Rupanya, Mao Zai ini dekat dengan bandit. Para bandit menyerbu penjara untuk membebaskan Mao. Gara-gara itulah Daqi bisa bebas dan sekaligus berkenalan dengan Mao.

Singkat cerita, Daqi pun pergi ke Shanghai. Entah mengapa, ia memilih bergabung dengan kelompok bandit di sana. Hingga, pada suatu hari, terjadi perkelahian besar antar gangster di kota itu. Di situlah Daqi mulai dilirik oleh bos bandit paling berkuasa di Shanghai, Hong Shouting (Sammo Hung Kam-bo).

Pelan-pelan karir Daqi beranjak naik. Ia pun dianggap murid oleh Hong Shouting. Hingga pada suatu hari, Hong Shouting dijebak oleh seorang perwira militer bernama Hu Xiaojiang—anak kepala Jenderal Du Jung. Rupanya, Mao Zai juga salah satu perwira Du Jung. Akhirnya, berkat keahlian negosiasi Daqi, juga bantuan Mao Zai, Hong Shouting bisa bebas. Alhasil, Daqi (sekarang diperankan oleh Chow Yun-fat) diangkat menjadi saudara oleh gurunya itu. Di situ juga Daqi makin akrab dengan Jenderal Mao Zai.

Di sisi lain, kekasih Daqi, Ye Zhiqiu, sudah jadi pemain drama. Mereka sempat bertemu di Shanghai. Sayang, Ye Zhiqiu tahu bahwa Daqi adalah bandit. Ye Zhiqiu tak tahan dengan dunia perkelahian. Ia pergi meninggalkan Daqi dan menikah dengan seorang aktivis komunis, Cheng Zai. Daqi sendiri akhirnya dekat dengan perempuan lain, Ah Bao (Monica Mok), seorang penyanyi opera jalanan.

Singkat cerita, menjelang 1937, Shanghai mendekati Invasi Jepang. Saat itu, Jepang berusaha merayu para bandit agar berpihak pada invasi. Suatu hari, seorang kolaborator Jepang merayu Cheng Daqi agar memihak Jepang. Daqi langsung menolak, tetapi si kolaborator mengancam. Ia menjawab dengan naluri seorang bandit, “satu-satunya yang kutakutkan adalah menjadi penghianat.”

Shanghai makin mendekati penyerbuan Jepang. Koumintang meminta dukungan dana dari para bandit dan pengusaha untuk mendanai pembentukan milisi bersenjata. Jenderal Mao Zai—sebagai perwira Koumintang–ditugasi menghimpun dana dari Daqi dan Hong Shouting. Keduanya menyanggupi sebagai bentuk dukungan terhadap tanah airnya. Namun, seperti ditulis sejarah, kebanyakan dana itu dikorupsi oleh pejabat militer Koumintang. Termasuk dalam film ini oleh Jenderal Mao Zai.

Dan tibalah serbuan Jepang itu. Dalam situasi begitu, segalanya bisa berubah. Kawan bisa menjadi lawan. Penghianatan muncul di mana-mana. Jenderal Mao Zai akhirnya menjadi kolaborator Jepang. Ia menangkap Hong Shouting dan istrinya. Sedangkan Cheng Daqi sempat menyingkir ke Hongkong bersama kekasih lamanya, Ye Zhiqiu.

Cheng Daqi tahu gurunya ditangkap. Ia juga mendengar penghianatan Mao. Karena itu, Daqi kembali ke Shanghai untuk membebaskan guru dan istri gurunya. Dengan bekerjasama dengan Ye Zhiqiu, yang juga pemain drama, ia pura-pura mengorganisir pementasan drama. Tetapi, sebetulnya, Daqi mengorganisir penyerbuan ke penjara Jepang untuk membebaskan guru dan istri gurunya.

Penyerbuan berhasil. Jenderal Mao Zai tewas di tangan Daqi. Kolaborator Jepang juga tumpas. Namun, Daqi sendiri tidak lolos. Ia dikepung oleh tentara Jepang. Dan, seperti film-film yang dibintangi oleh Chow Yun-fat, ia mati secara heroik di dalam mobil di bawah berondongan militer Jepang.

Selain soal patriotisme dan nasionalisme, film ini juga mengaduk-aduk soal asmara, kesetiaan, pengabdian, dan loyalitas. Kita melihat betapa loyalnya Daqi terhadap gurunya. Namun, kita akan melihat penghianatan Mao Zai ketika Jepang datang. Juga, betapa korupnya kepolisian dan militer di bawah pemerintahan nasionalis Koumintang di China saat itu.

Film ini cukup menarik. Sayang, alur ceritanya maju-mundur dan agak membingungkan. Selain itu, antar alur itu terkadang terjadi keterputusan. Tiba-tiba muncul tokoh lain yang tak dikenal. Misalnya:  perwira militer bernama Hu Xiaojiang dan ayahnya Jenderal Du Jung. Juga Cheng Zai, seorang aktivis sekaligus suami Ye Zhiqiu. Juga ada Lin Huai, seorang bandit yang menjadi pengawal setia Cheng Daqi.

Nasionalisme memang bisa merasuki siapapun. Pada awalnya mungkin kaum intelektual borjuis. Namun, ketika sudah menggelora seiring dengan ancaman eksternal, nasionalisme bisa membakar siapa saja. Termasuk para bandit.

Di Indonesia, buku Robert Cribb berjudul “Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta” juga merekam laku heroik para bandit-bandit kecil dalam Revolusi Nasional Indonesia di tahun 1945.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut