Band Reggae Red Flag Tampil Di Tengah-Tengah Aksi Petani

Pria dengan rambut gimbal itu segera muncul di tengah-tengah aksi petani yang sedang menggelar aksi pendudukan di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lampung. Setelah menyetel gitar sebentar, ia pun mulai melantunkan lagu-lagu berirama reggae.

Pria itu adalah Dompak Halomoan Tambunan, musisi dari band reggae Red Flag. Ia membuka penampilannya dengan sebuah lagu yang diambil dari puisi penyair revolusioner, Wiji Thukul, yang berjudul “Apa Guna”.

Seratusan petani, yang selama beberapa hari ini diserang kejenuhan, langsung bersemangat kembali. Beberapa diantara mereka turut bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama reggae.

Red Flag, yang baru saja manggung dengan Shaggy Dog beberapa minggu lalu, mengaku mendukung penuh perjuangan petani. “Gue ngerasa sedih ngeliat penderitaan petani ini sejak tahun 2009 yang lalu. Semoga dengan aksi pendudukan ini, tuntutan mereka dipenuhi oleh negara,” ujar Dompak.

Malam itu Dompak-Red Flag menyanyikan sejumlah lagunya yang ngetop, seperti “Darah Juang”, “Hentikan”, “Tidur Jangan”, “Fight For Socialism”, “Berjuanglah”, “Buruh Tani”, dan “Budaya Pembebasan”.

Tidak hanya manggung dengan petani, Dompak-Red Flag juga menyatakan bergabung dan menginap bersama-sama dengan petani di tenda pendudukan. Sudah 8 hari ia menginap bersama dengan para petani.

Ia yakin, pengalaman di tengah-tengah massa akan menjadi sumber inspirasi yang tak terhingga. “Saya berharap bisa membuat lagu mengenai pengalaman menginap di tenda-tenda petani,” katanya.

Red Flag sendiri berencana membentuk Komunitas Front Reggae Lampung. Wadah ini akan menampung band-band lokal beraliran reggae. Dari situ, ia ingin mengajak band-band lokal itu untuk bersolidaritas kepada petani.

“Filosofi reggae adalah pembebasan dan kesetaraan. Dengan spirit reggae itu saya mengajak band reggae yang lain terlibat dalam perjuangan petani. Agar mereka tidak saja kritis di lagu-lagu, tetapi juga punya kepekaan sosial dan merasakan langsung perjuangan rakyat,” terang Dompak.

Untuk diketahui, para petani dari Lampung Tengah sudah 24 hari menggelar aksi pendudukan di depan kantor BPN. Mereka menuntut BPN segera mengeluarkan SK perihal pengembalian lahan mereka yang sebelumnya dicaplok PT. Sahang. Karena tak digubris oleh BPN dan Pemerintah, maka 40-an petani ini menggelar aksi mogok makan. Para petani mengaku akan bertahan di depan kantor BPN hingga tuntutan mereka dipenuhi.

SADDAM CAHYO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut