Bambang Roeseno: Keroncong Punya Peran Dalam Perjuangan Nasional

Sabtu, 12 Juni 2010 | 18.14 WIB | Suluh

JAKARTA, Berdikari Online: Peneliti sejarah musik keroncong, Bambang Roeseno mengatakan, keroncong merupakan salah satu musik khas nusantara yang memiliki watak kerakyatan, karena dapat dimainkan oleh siapa saja, tidak seperti musik gamelan yang sangat berbau feudal.

Ini disampaikan Bambang Roeseno dalam diskusi “sejarah musik keroncong” di Kedai Nusantara, Jumat (11/6). Menurut mantan mahasiswa Indonesia di Jerman Timur (DDR) ini, musik keroncong boleh dimainkan oleh siapapun, baik kalangan elit maupun bawah.

Menurut Roesono, kelahiran musik keroncong sangat dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Portugis di nusantara, terutama-terutama pelaut-pelaut mereka yang memainkan alat musik di waktu senggang. Orang pribumi, saat mendengar suara musik para pelaut portugis itu, menyebutnya dengan nama “krong-krong dan crong-crong”.

“Pada abad 18, masyarakat nusantara mulai menamai musik ini dengan sebutan keroncong Portugis. Namun, bagi orang portugis sendiri, mereka tidak mengenal musik keroncong dan memang tidak ada musik keroncong di sana,” ujar Bambang Roeseno.

Di portugis sendiri, memang dikenal permainan musik tradisional bernama “fado”, namun sangat berbeda dengan musik keroncong yang dikenal di Indonesia. Artinya, perkembangan musik keroncong memang khas nusantara, hampir tidak ada samanya dengan tempat lain di dunia. “Ada keroncong di Malaysia, tapi kelahiran keroncong dari bumi nusantara,” tegasnya.

Dijelaskan, musik keroncong berkembang pertama di nusantara di daerah Tugu, sekarang kawasan Jakarta Utara, tempat para tawanan keturunan Portugal ditempatkan. Dengan bermodalkan gitar dan cokulele, para keturunan Portugal ini mulai memperkenalkan “musik keroncong portugis” ke berbebagai tempat melalui ngamen (dari kata, Amen : Amin).

Melalui permainan tonil atau sandiwara, kira-kira abad ke-19, musik keroncong mulai menyebar ke berbagai tempat di nusantara seperti jawa tengah, jawa timur, dan lain sebagainya. Musik keroncong semakin berkembang saat Belanda mulai membuka siaran radio.

Lebih jauh, Bambang juga menjelaskan soal peranan keroncong dalam perjuangan nasional di Indonesia, terutama menjelang abab ke-20. Sesaat setelah gerakan nasionalis progressif dan kiri ditumpas pada tahun 1926/27, Soekarno dan beberapa tokoh pergerakan mulai membangun kembali gerakan pembebasan nasional. “Soekarno menggunakan keroncong. Di depan mereka pakai keroncong, di belakang ada diskusi soal politik dan pergerakan,” ungkapnya.

Di tahun 1965, Soekarno pernah memanggil pemain keroncong senior untuk mendiskusikan soal keroncong dan perjuangan nasional, antara lain, Waldjinah. Soekarno adalah seorang yang sangat mengerti musik kerocong dengan baik.

Namun, saat rejim Soeharto berkuasa, musik keroncong mulai redup atau sengaja diredupkan, terutama beberapa jenderal penentang Soeharto juga menyukai keroncong. Salah satu jenderal yang paling senang keroncong dan sekaligus kritis terhadap Soeharto, adalah Jenderal (Pol) Hoegeng, bapak polisi yang terkenal jujur itu.

Pun demikian, lanjutnya, keroncong tidak bisa sepenuhnya dihapus dari kebudayaan musik nusantara, dan masih bertahan hingga sekarang. “Keroncong dapat dimasukkan sebagai salah satu musik nasional kita,” ujarnya. (Ulf)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut