Bali dan Jakarta Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Gerakan massa menentang proyek reklamasi Teluk Benoa terus menggema. Hari minggu (20/3) ini, aksi massa menentang proyek tersebut berlangsung di Bali dan Jakarta.

Di Bali, aksi massa yang dimulai pukul 14.00 Wita itu diikuti oleh ribuan orang. Mereka gabungan dari masyarakat adat dari 27 desa Pakraman, gerakan sosial, dan berbagai komunitas di Bali.

Dalam aksi kali ini, sebagian besar massa aksi menggunakan pakaian adat Bali madya bertuliskan “Tolak Reklamasi”. Selain itu, mereka juga mengusung ogoh-ogoh. Juga orasi dan pegelaran seni.

Menurut Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali),  I Wayan Gendo Suardana, aksi damai ini menunjukkan sikap tegas dari 27 desa pakraman/adat yang menolak proyek reklamasi.

“Keputusan itu adalah hasil paruman dari masing-masing desa adat. Mereka tegas menolak reklamasi,” jelasnya.

Dia melanjutkan, proyek reklamasi Teluk Benoa akan mengganggu nilai kesucian di wilayah tersebut. Tak hanya itu, investor yang ingin menguasai kawasan itu sangat serakah karena mengabaikan persoalan lingkungan dan budaya Bali.

Dalam aksi tersebut, massa aksi mendesak Presiden Joko Widodo segera membatalkan proyek reklamasi itu sekaligus mencabut Peraturan Presiden nomor 51 tahun 2014 yang melapangkan jalan bagi proyek tersebut.

“Kami meminta Presiden Joko Widodo untuk segera membatalkan reklamasi Teluk Benoa dan mencabut Perpres nomor 51 tahun 2014,” tegasnya.

Aksi massa ribuan orang ini berjalan damai. Kendati demikian, mereka sempat dihadang ketika bergerak menuju bundaran Bandara Ngurah Rai. Namun, setelah melalui proses negosiasi, massa aksi akhirnya diperbolehkan ke lokasi aksi.

Aksi Tolak Reklamasi teluk Benoa di Jakarta

Sementara di Jakarta, aktivis ForBali juga menggelar aksi tolak reklamasi Teluk Benoa di acara car free day (CFD) di Bundaran HI, Minggu (20/3/2016).

Dalam aksinya, mereka mengusung poster berisikan penolakan terhadap proyek reklamasi teluk Benoa. Mereka membacakan puisi, pantomim, berorasi dan bernyanyi mars Bali Tolak Reklamasi.

Koordinator aksi ForBali Jakarta Made Bawayasa mengatakan, aksi mereka di Jakarta merupakan bentuk dukungan atas aksi serupa yang berlangsung di Bali hari ini.

Made menjelaskan, penolakan terhadap proyek reklamasi ini sudah berlangsung 3 tahun. Dia berharap, Kementerian Lingkungan Hidup bisa berdiri di garda terdepan menjaga Teluk Benoa dalam rangka untuk menjaga alam Indonesia secara keseluruhan.

“Jangan malah melegalkan amdal. Kita juga udah melakukan aksi dua kali di Kementerian Lingkungan Hidup dan satu kali diskusi, tapi hasilnya nihil. Dan belum ada prosesnya,” jelasnya.

Dia melanjutkan, penolakan reklamasi Teluk Benoa itu dilakukan, di antaranya, karena tak setuju perubahan daerah konservasi menjadi komersial.

“Rencana reklamasi ini juga bertentangan dengan konsep di daerah itu, yakni Tri Hita Karana,” tuturnya.

Tri Hita Karana adalah prinsip orang Bali, yang berarti menjunjung hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan alam.

Dia menuntut agar Presiden RI Joko Widodo bisa mencabut Perpres Nomor 51 Tahun 2014 tentang tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Perpres yang diteken era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu melapangkan jalan bagi proyek reklamasi.

Pramudita Pratama/Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut