Balapan F1 Dan Perjuangan Rakyat Bahrain

Anda pencinta balapan Formula One (F1)? Sebelum menonton acara balapan paling bergengsi itu, anda harus melengkapi pemahaman anda tentang situasi politik yang sedang berlangsung di Bahrain.

Bahrain, negeri yang diperintah oleh monarkhi, sedang mendidih. Sudah setahun lebih rakyat Bahrain berjuang melawan monarkhi. Sayangnya, tidak seperti Tunisia, Mesir, dan Libya, berbagai kejadian di Bahrain cenderung ditutup.

Media-media barat juga mengisolasi kejadian di Bahrain. Maklum, rejim monarkhi yang berkuasa di Bahrain, selain didukung penuh oleh monarkhi Arab Saudi, juga mendapat sokongan dari barat.

Tidak terhitung jumlah aktivis pro-demokrasi yang gugur di Bahrain. Bahkan, ketika protes sedang bangkit, Arab Saudi mengirimkan tank-tank untuk menindas demonstran tidak bersenjata. Tapi sangat sedikit media yang mengulas kejadian itu.

AS, misalnya, sangat prihatin dengan kondisi di Suriah. Tetapi, baik Obama maupun Hillary Clinton tidak pernah menyinggung situasi di Bahrain. Maklum, kebangkitan rakyat di Bahrain bisa berefek hingga ke negara-negara teluk. AS punya kepentingan besar untuk memelihara monarki di kawasan teluk. Kepentingan AS sangat jelas: minyak.

Kalaupun disiarkan, maka pemberitaannya distorsif: seolah-olah kejadian di Bahrain hanyalah pertikaian mayoritas Syiah versus minoritas Sunni. Jadi, cara pandang media barat pun sangat rasialis.

Padahal, lebih luas dari cara pandang itu, perjuangan rakyat Bahrain adalah untuk demokrasi dan keadilan sosial. Kebetulan yang berkuasa di sana adalah kelompok Sunni. Sedangkan Syiah, yang mencapai 70% dari penduduk, sangat diperlakukan diskriminatif.

Seorang aktivis HAM, Abdulhadi al-Khawaja, bersama tujuh aktivis lainnya ditahan rejim diktator Bahrain sejak tahun lalu. Mereka dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Al-Khawaja dituding melakukan kejahatan anti-negara.

Meskipun protes terus berlanjut, dan tidak sedikit korban berjatuhan, tetapi perhatian dunia internasional nyaris tidak ada. Ironisnya, orang lebih tertuju kepada ajang F1 di Bahrain ketimbang kebrutalan rejim monarkhi di sana.

Hal inilah yang mendasari keinginan rakyat Bahrain memboikot ajang F1 pada Hari minggu besok. Para aktivis menganggap ajang F1 itu menjadi sarana bagi monarkhi untuk mencari legitimasi internasional.

Para aktivis juga berharap, dengan menggelar aksinya di ajang F1 itu, dunia internasional bisa terbuka matanya terhadap situasi politik di Bahrain. Lebih penting lagi, para aktivis berharap, dunia internasional menghentikan dukungan terhadap rejim monarki yang korup dan anti-demokrasi di Bahrain.

Agar acara itu tetap berjalan, maka monarkhi mengirimkan polisi dan militer untuk menindas protes secara brutal. Meski demikian, aksi massa besar-besaran terus terjadi dan mewarnai keseluruhan Bahrain.

Tahun lalu, acara GP Bahrain dibatalkan karena protes anti-monarkhi. Setidaknya 50 orang tewas saat itu. Pekan lalu, bos F1 Bernie Ecclestone menyatakan Bahrain aman dan ajang balapan tetap akan dilanjutkan.

Ecclestone mengatakan, 12 tim yang siap berlaga mengaku tetap senang meski dibayang-bayangi oleh aksi protes.

Tentu saja, jika ajang F1 tetap dilaksanakan, maka dunia barat benar-benar tega menggelar pesta diatas penderitaan dan pembantaian rakyat Bahrain oleh rezim monarkhi.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut