Bagaimana Memaknai Kemerdekaan?

Sejarah kolonialisme di Indonesia, sejak masuknya VOC—kongsi dagang Belanda—hingga sekarang, tak terlepas dari motif kepentingan ekonomi, yakni mengeruk keuntungan.

“Dulu rakyat Indonesia menyebut kompeni. Itu berasal dari kata ‘compagnie’ atau perusahaan. Tujuannya adalah mengeruk keuntungan,” kata pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Madah (UGM), Revrisond Baswir, saat berbicara dalam seminar nasional yang diselenggarakan oleh KPP-PRD di Jakarta, Senin (25/6/2012).

Revrisond menjelaskan, demi mencapai tujuan mengeruk keuntungan itu, kolonialisme sampai menggunakan segala macam cara. “Bukan hanya politik upah murah, mereka bahkan sampai hati membenarkan kerja rodi atau kerja tak dibayar,” ungkapnya.

Dengan demikian, menurut Revrisond, agenda utama kemerdekaan adalah memperbaiki nasib seluruh rakyat. Artinya, kemerdekaan akan kehilangan maknanya jikalau tidak ada peningkatan kesejahteraan rakyat.

“Kemerdekaan tak ada artinya jika masih banyak rakyat yang miskin, menganggur, dan direndahkan martabatnya,” tegasnya.

Bahkan, jika berpatokan pada cita-cita para pendiri bangsa—sebagaimana termaktub dalam pasal 33 UUD 1945, maka kemerdekaan Indonesia itu bukan saja soal perbaikan kesejahteraan rakyat, melainkan yang paling pokok adalah meletakkan kedaulatan ekonomi di tangan rakyat.

Dalam konteks itulah, Revrisond menegaskan, demokrasi di Indonesia tidak bisa dimaknai sekedar pilkada dan pemilu bebas. “Indonesia belum menjadi negara demokrasi jika kedaulatan ekonomi belum di tangan rakyat,” tegasnya.

Oleh karena itu, Revrisond menyimpulkan, makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia di lapangan ekonomi adalah kedaulatan ekonomi di tangan rakyat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut