Bagaimana Gagasan Itu Bermula

BERMULA di sebuah warung kopi di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, sejumlah pemuda melahirkan gagasan kongres pemuda pergerakan. “Ide menggagas kongres mulai dimatangkan di situ,” kata Masinton Pasaribu, salah satu tokoh pencetus kongres pergerakan pemuda.

Meskipun begitu, Masinton mengaku bahwa ide mengenai persatuan pemuda sudah muncul sejak lama, baik melalui pertemuan formal maupun informal. “Kita sering membicarakan ini dalam pertemuan-pertemuan informal,” katanya.

Agus Jabo Priyono, salah satu penggagas lainnya, turut membenarkan apa yang dikatakan Masinton. Menurutnya, meskipun pematangan ide itu baru terjadi beberapa bulan lalu, tetapi idenya sendiri sudah muncul sejak lama.

“Kita sudah sering kumpul bersama, berdikusi banyak hal, dan merasa perlu adanya penyatuan gerakan kaum muda secara politik,” ujar aktivis yang pernah terlibat langsung dalam penjatuhan rejim Soeharto ini.

Menurut Haris Rusli Moti, koordinator petisi-28, mengaku bahwa ide persatuan pemuda sudah muncul pada saat peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun lalu. “Kita sudah mendeklarasikan sumpah pemuda 2010 di gedung juang,” katanya.

Pertemuan di Doekoen Coffe kemudian dilanjutkan ke tempat lain. Rapat pun dilakukan dari kantor organisasi ke kantor organisasi lainnya. Sedangkan, pada kesempatan yang lain, para inisiator juga melakukan gerilya untuk mengajak organisasi dan tokoh pergerakan yang laun untuk bergabung.

Salah satu pertemuan penting dilakukan di kantor Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) di Jalan Cikini 1, Jakarta Pusat. Saat itu, menurut Masinton, yang juga adalah ketua Umum Repdem, ada seratusan aktivis yang hadir mewakili puluhan organisasi.

Pertemuan di kantor Repdem itulah yang melahirkan kepanitian bersama untuk pelaksanaan kongres pemuda. Masinton sendiri ditunjuk sebagai koordinator umum, sedangkan Cokro, aktivis GMNI, ditunjuk sebagai koordinator pelaksana.

>>>

Tokoh-tokoh yang menjadi penggagas kongres pemuda ini hanya puluhan orang, diantaranya: Masinton Pasaribu (Repdem), Haris Rusli Moti (Petisi 28), Salamuddin Daeng (IGJ), Agus Jabo Priyono (PRD), Yudi Budi Wibowo (STN), Desi Arisanti (FNPBI), Wendry Anshory Putra (FAM UI), Moh. Chozin (HMI MPO), dan Syahdatul Kahfi (Balai Kebangsaan).

Merekalah yang bertindak selaku inisiator, yang bertugas mengundang dan melibatkan sebanyak-banyaknya organisasi dalam setiap konsolidasi menuju acara puncak penyelenggaraan kongres.

Sebagai tahap awalnya, kata Agus Jabo, setiap organisasi penginisiator diharuskan menghubungi cabang-cabangnya di tingkat lokal untuk melakukan konsolidasi di tingkat lokal dan mengajak sebanyak mungkin organisasi lain untuk berpartisipasi dalam kongres.

Selain organisasi-organisasi di tingkat lokal, aktivis atau individu pergerakan yang berserakan pun akan diajak untuk bergabung. “Kami sendiri sudah berusaha menghubungi kawan-kawan aktivis 1998. Nanti, apakah mereka mewakili individu atau organisasi, itu soal teknis,” kata Masinton, yang juga dikenal sebagai pentolan Gerakan Mahasiswa tahun 1998 di Jakarta.

Beberapa daerah yang sudah mengkonfirmasi hadir, antara lain: Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, Lampung, Riau, DI Yogyakarta, Bali, dan lain-lain. (Agus Pranata)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Endang Proletar Saputra

    Tanpa tindaklanjut realisasi, sebuah gagasan, betapapun baiknya akan mati, paling tidak mati suri.

  • Bung Natalis

    sangat menarik ketika ada yang berani tampil,mengajak semua generasi muda menyadari peran posisi yang diemban oleh kaum muda. Oleh karenanya aplikasi dari gagasan tersebut sangat diharapkan…!

    Merdeka…!

  • r.s.maryono.

    Sebagai orang tua yang telah menyaksikan dan pernah ikut berjuang mempertahankan republik yang kita cintai ini, merasa bangga bahwa masih ada Pemuda2 yang mempunyai gagasan yang sangat mulia untuk mengadakan Konggres Pemuda dengan cita2 agar NKRI tidak terjerembab pada ego sentris yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompoknya, yang jauh dari cita2 Pendiri Republik ini, kembali ke PANCASILA DAN UUD 1945 SECARA MURNI DAN KONSEKWEN, BUNG KARNO PERNAH BERKATA BERIKAN SAYA 1000 PEMUDA AKAN SAYA PINDAHKAN GUNUNG SEMERU, DARI PADA SAYA DIBERIKAN ORANG2 TUA YANG HANYA MERONGRONG KEMANDIRIAN BANGSA, HEI PARA PEMUDA WUDJUDKAN CITA2MU YANG MULIA ITU, MESKI HARUS MENGORBANKAN KEPENTINGAN PRIBADIMU.