Bachelet Dan Pendidikan Gratis Di Chile

Bachelet.jpg

Ada secercah harapan di Chile setelah memilih pemimpin baru: Michelle Bachelet. Setelah dilantik sebagai Presiden Chile tanggal 11 Maret lalu, Bachelet langsung menunaikan janji politiknya. Salah satunya adalah soal reformasi pendidikan.

Dalam kampanye pemilu, Bachelet menjanjikan akan menggratiskan biaya pendidikan untuk 70% mahasiswa Chile, terutama dari keluarga miskin, agar bisa mengakses perguruan tinggi. Ia yakin, janjinya ini akan terealisasi dalam waktu empat tahun.

Selain itu, ia juga menjanjikan akan menghapus semua bentuk praktek bisnis di dalam lembaga pendidikan publik, menggratiskan pendidikan untuk Taman Kanak-Kanak (TK), dan mengembalikan tanggung-jawab pendidikan publik dari kotamadya ke tangan pusat.

Untuk memenuhi janjinya itu, Bachelet bergerak cepat. Pada akhir Maret lalu, Ia telah mengusung sebuah UU baru untuk mereformasi sistem pajak negeri itu. Reformasi ini dimaksudkan untuk menaikkan penerimaan pajak dan memerangi penggelapan pajak.

Bachelet sadar, untuk mendanai program pendidikan gratis-nya, ia membutuhkan banyak anggaran. Salah satu sumbernya adalah pajak. Karena itu, ia menargetkan ada kenaikan pajak sebesar 3% dari PDB–atau setara dengan 10 milyar dollar AS.

Dalam UU pajak yang baru, pajak untuk korporasi/perusahaan akan dinaikkan dari 20% menjadi 25%. Selain itu, pemerintah akan menghapuskan berbagai bentuk keringanan pajak bagi korporasi. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi korporasi untuk menunda atau mengemplang pembayaran pajaknya.

Sebaliknya, pajak penghasilan dikurangi dari 40% menjadi 35%. Namun, pendapatan sebesar 10,500 dollar per bulan atau lebih akan dikenai pajak yang lebih tinggi. UU pajak yang baru itu juga akan melucuti perlakuan pajak khusus terhadap investor asing.

Namun demikian, rencana pendidikan gratis ala Bachelet ini masih menuai tantangan. Gerakan mahasiswa, yang sudah lama menyuarakan pendidikan gratis, menghendaki agar program pendidikan gratis didanai langsung oleh negara. Sebaliknya, dalam rencana Bachelet, pendidikan gratis itu akan diterapkan melalui beasiswa kepada mahasiswa miskin.

Selain itu, Bachelet diperhadapkan dengan pertanyaan soal nasib mahasiswa miskin dan kurang mampu di sekolah swasta. Termasuk nasib siswa di sekolah-sekolah swasta yang sudah tutup.

Warisan Pinochet

Biaya pendidikan di Chile termasuk yang termahal di dunia. Terutama di jenjang pendidikan tinggi. Setiap mahasiswa Chile harus mengeluarkan dana minimal 3400 USD pertahun. Padahal, pendapatan sebagian besar keluarga di Chile hanya 8500 USD per tahun.

Sekedar sebagai perbandingan: setiap keluarga di Skandinavia membayar 5% untuk pendidikan,  lalu keluarga di AS membayar 40%, sedangkan keluarga di Chili membayar 75%.

Biaya pendidikan yang sangat mahal itu hanyalah satu warisan buruk rezim Pinochet. Jenderal Augusto Pinochet, yang berkuasa setelah menggulingkan Presiden sosialis Salvador Allende pada tahun 1973, adalah pengusung neoliberalisme.

Pada tahun 1980, neoliberalisme mulai merambah pendidikan tinggi di Chile. Tanggung-jawab negara di sektor pendidikan dihilangkan. Subsidi pendidikan dipangkas. Lalu, urusan pendidikan diserahkan ke kotamadya masing-masing. Akibatnya, mayoritas rakyat Chile kesulitan mengakses pendidikan.

Di tahun 1981, pendaftar di sekolah publik masih 78%. Sisanya diserap oleh pendidikan swasta. Namun, pada tahun 1990, pendaftar di sekolah publik yang dikelola pemerintah kotamadya tinggal 57,8%. Pada tahun 2012 lalu, jumlahnya tinggal 38%.

Lantas, supaya tetap bisa kuliah, para mahasiswa dipaksa berutang kepada negara atau bank. Alhasil, ketika selesai kuliah, banyak mahasiswa yang terjerat utang. Tak hanya itu, privatisasi pendidikan juga menyebabkan diskriminasi dalam bentuk fasilitas dan layanan pendidikan. Hanya anak-anak orang kaya yang bisa menikmati pendidikan berkualitas dengan fasilitas lengkap.

Berutang Pada Gerakan Mahasiswa

Privatisasi pendidikan telah memicu kebangkitan gerakan mahasiswa di Chile. Sejak beberapa tahun terakhir, gerakan mahasiswa telah mengambil peranan signifikan dalam gerakan sosial di Chile dan Amerika Latin.

Pada tahun 2006 lalu, muncul apa yang disebut ‘Revolusi Penguin”, yakni demonstrasi besar-besaran yang digelar oleh ratusan ribu pelajar sekolah menengah menuntut pendidikan gratis. Mereka turun ke jalan dengan mengenakan seragam sekolah. Mereka kemudian dijuluki “penguin”.

Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, giliran gerakan mahasiswa yang turun ke jalan. Mereka menuntut pendidikan publik gratis dan berkualitas. Gerakan mahasiswa itu, yang memobilisasi jutaan massa turun ke jalan, telah melahirkan tokoh-tokoh terkenal di gerakan mahasiswa, seperti Camila Vallejo, Karol Cariola, dan Giorgio Jackson.

Gerakan mahasiswa Chile itu sukses mendorong pergeseran politik di Chile. Rezim neoliberal yang berkuasa, Sebastian Pinera, kehilangan dukungan politiknya. Situasi inilah yang membuka jalan bagi kemenangan Michelle Bachelet dan koalisinya, Neuva Mayoria atau Mayoritas Baru.

Dan, begitu menang dalam pemilu putaran kedua pada Desember 2013 lalu, Bachelet pun berterima kasih kepada gerakan mahasiswa. Ia mengakui bahwa kemenangannya melalui kotak-suara tidak terlepas dari gerakan mahasiswa dan rakyat yang turun ke jalan dalam beberapa tahun terakhir.

Dua tokoh gerakan mahasiswa, Camila Vallejo dan Karol Cariola, memang memberi dukungan kepada Bachelet saat pemilu Presiden lalu. Tak hanya itu, Partai Komunis juga bergabung dalam koalisi pendukung Bachelet, Neuva Mayoria.

Camila Vallejo sendiri yakin, dengan keberhasilan Neuva Mayoria menjadi mayoritas di Kongres, pemerintahan Bachelet punya ruang politik yang luas untuk mendorong perubahan mendasar. “Berdasarkan hasil pemilu, kami merupakan mayoritas yang memungkinkan kami melakukan perubahan struktural,” katanya.

Vallejo sendiri terpilih sebagai anggota Kongres. Ia menjadi anggota Kongres termuda di periode ini. Ketika ia dilantik pada bulan Maret lalu, ia memasuki gedung kongres dengan membawa anak perempuannya yang baru lahir, Adela.

Memang, tidak semua sektor gerakan mahasiswa menyetujui perjuangan parlementer. Mereka tetap mengambil jalan ekstra-parlementer untuk mendesak Presiden Bachelet memenuji janjinya terkait pendidikan gratis dan berkualitas bagi rakyat Chile.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut