Asing Mendanai Pergub Larangan Merokok

Aktivis Komunitas Kretek Abhisam Demosa menyatakan bahwa pihak asing terlibat langsung dalam mendanai lahirnya Peraturan Gubernur (Pergub) DKI nomor 88/2010 tentang larangan Smoking Area di berbagai gedung dan area publik di Jakarta.

Pihak asing yang dimaksud adalah Bloomberg Initiative, sebuah lembaga nirlaba di bawah bendera Bloomberg LP, yang aktif menggelontorkan dana untuk mendukung kampanye anti-rokok di Indonesia.

Dengan mengacu pada sebuah dokumen, Abhisam menjelaskan bahwa Bloomberg Initiative telah membangun deal dengan Swisscontact Indonesia untuk meloloskan kebijakan anti-rokok di Indonesia, termasuk Jakarta.

“Deal itulah yang melahirkan Pergub DKI nomor 88/2010 tentang larangan merokok dan berikut komite pengawasnya,” kata Abhisam dalam diskusi bertajuk “Pergub Nomor 88/2010, Ancaman Terhadap Dunia Usaha dan Industri Kretek Nasional”, di Aula Serba Guna Universitas Moestopo, Jakarta.

Abhisam pun menjelaskan bahwa semangat Pergub ini sangat sejalan dengan agenda korporasi farmasi global, yang berkepentingan untuk memasarkan terapi dan obat subtitusi rokok (Nicotine Replacement Therapy (NRT).

Pelopor Lahirnya Industri Nasional

Lebih jauh, Abhisam menjelaskan sedikit soal peran historis industri kretek sebagai cikal bakal dari industri nasional Indonesia.

Kretek diciptakan pertama-kali oleh Haji Djamari, seorang penduduk Kudus, Jawa Tengah, yaitu dengan merajang cengkeh dan dicampurkan dalam tembakau yang akan dilintingnya menjadi rokok.

Abhisam mengutip Amen Budiman dan Onghokham bahwa industri rokok kretek sudah mulai bangkit pada permulaan abad ke-20. Seorang pengusaha pribumi, M Nitisemito, berhasil mengembangkan industri kretek.

“Bung Karno bahkan menyebut Nitisemito sebagai bagian dari kelahiran industri nasional Indonesia,’ kata Abhisam dengan bersemangat.

Rokok kretek merupakan kreasi bangsa Indonesia, yang menurut Abhisam, cita-rasanya mencerminkan cita-rasa nusantara.

Hingga sekarang, tambah Abhisam, Industri kretek telah tumbuh menjadi salah satu jenis industri yang hampir 100% bahan bakunya diperoleh dari lokal, dikerjakan dan dikembangkan oleh orang indonesia sendiri, dan modalnya pun berasal dari orang Indonesia sendiri.

Rokok kretek pun tidak pernah bisa digeser posisinya oleh rokok impor yaitu, rokok putih. Meskipun kita sudah lama mengenal produk rokok putih, seperti Marlboro, Pall Mall, Kansas, Lucky Strike, dan lainnya, tetapi pangsa pasar mereka tidak pernah melebihi 7%. Itulah mengapa pengusaha rokok putih, yaitu Philip Morris, juga berusaha mengembangkan rokok kretek dengan mengakuisisi HM Sampoerna.

Peranan industri kretek sebagai tulang punggung Industri nasional juga diakui oleh Ketua Umum Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), Lukman Hakim, yang menganggap industri kretek sebagai satu-satunya industri yang terhubung dari hulu sampai hilir menggunakan tenaga dan sumber daya bangsa sendiri.

Pergub Bagian Dari Konspirasi Korporasi Besar

Sementara itu, Dosen Universitas Moestopo Usmar Ismail, SE mensinyalir adanya konspirasi asing dibalik Pergub DKI nomor 88/2010, dimana organisasi kesehatan dunia, World Health Organization/WHO, turut bermain di dalamnya.

Dia pun menyamakan konspirasi dibalik Pergub DKI Nomor 88/2010 ini dengan kasus sample virus Flu Burung, yang berhasil dibongkar konspirasinya oleh Menteri Kesehatan RI Indonesia saat itu, Siti Fadilah Supari.

“Ada paradigma neoliberal yang berkuasa secara global, telah memungkinkan konspirasi semacam ini,” katanya.

Usmar pun mempertanyakan metodologi penelitian yang menyebutkan rokok sebagai salah satu penyebab kematian paling utama.

“Orang tidak bisa menyimpulkan rokok sebagai satu-satunya faktor, sebab bisa saja kematian disebabkan oleh banyak faktor yang lain. Ini perlu dipertanyakan,” kata dosen yang juga pengamat budaya ini.

Ia pun mengeritik cara pandang kebudayaan barat yang universalistik, yang menganggap sesuatu kebenaran menurut dirinya pasti cocok untuk semua orang dan bangsa di seluruh dunia.

Bukan Sekedar Persoalan Kesehatan

Lukman Hakim kemudian menggaris bawahi bahwa berbicara soal rokok tidak bisa sekedar dilihat dari aspek kesehatan, kemudian mengabaikan aspek ekonomi-politik dan budaya.

“Sejak dulu leluhur kita mengunyah daun tembakau, tetapi mereka bisa hidup ratusan tahun,” ujarnya berseloroh.

Lukman mengajak pengambil kebijakan, dalam hal Pemda DKI, memperhitungkan aspek ekonomi-politik, seperti persoalan ketenaga-kerjaan, kontribusi cukai rokok dalam ekonomi nasional, dan peranan industri rokok sebagai penyokong industri nasional.

“Jangan hanya melihat jumlah orang yang bekerja langsung di pabrik rokok, yang menurut ahli-ahli ekonomi mainstrem hanya 0,3% dari total tenaga kerja Indonesia, tetapi lihatlah sebagai sebuah rantai produksi yang melibatkan petani, buruh tani, tukang lenting, pekerja, pedagang kaki lima, dan lain-lain,” katanya.

Sebagai isu kesehatan, Lukman pun memperingatkan bahwa asap rokok bukan ancama paling utama, melainkan asap kendaraan bermotor yang mengubah udara jakarta menjadi pemasok logam di tubuh kita.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut