AS Terlibat Kudeta Di Mali?

Pada hari Kamis, 22 Maret 2012, sebuah kudeta militer terjadi di Mali. Pimpinan kudeta adalah seorang kapten bernama Amadou Sanogo. Konon, Amadou Sanogo pernah berkunjung ke AS untuk mendapat pelatihan militer.

Kapten Amadou berpartisipasi dalam “Program Pelatihan Dan Pendidikan Militer Internasional Amerika Serikat”, yang disponsori oleh Departemen Negara AS.

Orang yang ditunjuk atau diikutkan dalam program ini dipilih oleh Kedutaan Besar AS dari negara tempat bertugasnya masing-masing. Di Mali, jumlah tentara sangat kecil, yakni 7000 personil.

Pada 22 Maret lalu, Sayogo dan sekelompok tentara yang loyal kepadanya menyerbu Istana Presiden di Bamako, Ibukota Mali, dan menggulingkan Presiden Amadou Toumani Toure.

Alasan para pelaku kudeta militer adalah pemerintah terlalu santai menanggapi pemberontakan Touareg di bagian barat Afrika. “Pengambilalihan kekuasaan (kudeta) ini merupakan buntut lemahnya militer dan pemerintah dalam membela negara,” kata pemberontak melalui siaran TV.

Tentara Mali, khususnya yang dikomandoi oleh Sayogo, sangat bernafsu menghabisi kelompok suku Touareg. Rupanya, sebagian besar anggota suku ini baru pulang dari Libya dan menjadi bagian dari pejuang pendukung Khadafi.

Tentu saja, ada kepentingan barat untuk membasmi sisa-sisa Khadafi dan ide-idenya tentang persatuan Afrika. Sebab, persatuan Afrika akan menjadi penghambat praktek keji neokolonialisme di benua kaya tersebut.

Kudeta menyebabkan tiga orang tewas dan 40 lainnya terluka.

Sayogo berjanji tidak akan berkuasa lama. Segera setelah pemberontak suku Touareg berhasil ditumpas oleh tentara, maka sebuah pemilihan baru akan segera digelar.

Ia juga mengklaim bahwa Presiden terguling, Amadou Toumani Toure, sedang ditahan di tempat aman tidak jauh dari ibukota dan akan digiring ke pengadilan.

AS sendiri mengutuk kudeta tersebut. PBB juga sudah mengeluarkan kecaman terkait kudeta militer ini. Sementara Uni Afrika sudah sepakat menangguhkan keanggota Mali hingga kekuasaan Presiden terguling dikembalikan sesuai konstitusi.

Venezuela juga mengutuk keras kudeta ini. Hugo Chavez, atas nama rakyat Venezuela, menyatakan solidaritas kepada rakyat Mali dan kepada Presiden Amadou Toumani Toure. Venezuela menganggap kudeta itu telah memperparah ketidakstabilan politik di negeri itu dan merusak tradisi demokrasi.

RAYMOND SAMUEL, Kontributor Berdikari Online. Sumber: RT News

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut